ASURANSI dengan EFISIENSI LEMABAGA KEUANGAN (BANK)

Posted On June 20, 2012

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

MAKALAH

Bank dan Lembaga Keuangan II

Hubungan Asuransi Kesehatan

dengan Efisiensi Lembaga Keuangan (Bank)”

Image

Disusun oleh :

Candy Gloria (2121 0516)

Febriana Puspita Sari (2221 0688)

Muthiya Gabriela Malawat (2421 0878)

 

 

Kelas:

SMAK 04-05

 

 

Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi

Universitas Gunadarma

 

2012

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

 

1.1  Latar Belakang

                  Pengertian efisiensi dapat dilihat dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Efisiensi dapat didefinisikan sebagai rasio antara output dengan input (Kost dan Rosenwig, 1979:41). Kualitas kinerja yang baik merupakan ukuran dari tingkat efisiensi yang telah dicapai. Pada dasarnya pengukuran kinerja sebuah lembaga keuangan hampir sama. Penilaian tingkat kesehatan dan produktivitas sebuah bank dan asuransi dilakukan berdasarkan pada ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Evaluasi tingkat kesehatan pada sektor perbankan diukur menurut ketentuan yang ditetapkan oleh Bank Indonesia yang mengacu pada unsur-unsur modal (capital), kualitas asset (assets quality), manajemen (management), earning dan likuiditas (liquidity) atau CAMEL. Sedangkan evaluasi pengukuran tingkat kesehatan asuransi diukur menurut rasio kecukupan tingkat solvabilitas (solvency margin) terhadap tingkat solvabilitas minimum (minimum solvency) atau disebut juga rasio Pencapaian Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM).Hal ini dapat diartikan sebagai suatu ketentuan modal minimum yang dipersyaratkan (minimum capital requirements), atau dalam perbankan sering disebut Capital Adequacy Ratio (CAR). Dengan ketentuan tersebut regulator dapat mengawasi sejauh mana keamanan dan kestabilan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajibannya kepada para pemegang polis atau shake holder lainnya. Dilihat dari peranannya, asuransi  sebagai lembaga yang memberikan perlindungan dengan imbalan dari sejumlah premi yang telah dibayarkan oleh tertanggung tentu saja memiliki hubungan dengan efisiensi lembaga keuangan, begitupun sebaliknya karena pada dasarnya asuransi membutuhkan lembaga keuangan bank untuk menyimpan dananya dan lembaga keuangan bank membutuhkan asuransi untuk penjamin atas resiko-resiko yang akan terjadi di bank .

 

1.2        Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan  masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Apa hubungan asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keuangan?
  2. Bagaimana efisiensi dari asuransi dan lembaga keuangan dapat terjadi?
  3. Apa yang menyebabkan munculnya inefesiensi?

 

1.3        Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini adalah menganalisis hubungan asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keuangan bank dan mengupas faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya efisiensi serta inefisiensi yang dapat menurunkan kinerja lembaga keuangan bank.

 

1.4        Manfaat

Berdasarkan tujuan makalah yang dikemukakan di atas, maka manfaat penulisan ini adalah mengetahui keterkaitan antara asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keuangan yang merupakan lembaga kepercayaan masyarakat.

 

 

1.5        Metode

 

            Dalam proses pembuatan penulisan ini kami menggunakan metode pencarian informasi dan referensi melalui jurnal dan melakukan pencarian melalui internet.

 

BAB II

ISI

 

A. Asuransi Kesehatan

 

2.1.1        Pengertian Asuransi Kesehatan

Image

Seperti yang kita ketahui bahwa harga sebuah kesehatan itu mahal dan setiap orang memiliki resiko terserang penyakit tanpa tahu kapan penyakit itu menyerang kita. Jika sudah terserang apalagi harus dirawat, biaya yang besar pun akan menjadi sebuah beban bagi masyarakat yang memiliki penghasilan pas-pasan. Oleh karena itu, resiko sakit dapat diasuransikan, maksudnya seluruh biaya pengobatan dan perawatan nantinya akan ditanggung oleh penanggung, yaitu asuransi. Konsep pengasuransian kesehatan ini dikenal sebagai pelimpahan resiko. Hal yang dilimpahkan ini bukan hilangnya kemampuan karena sakit atau meninggalnya penderita, tetapi kerugian finansial akibat dari menderita penyakit.Jadi dapat dikatakan asuransi kesehatan ialah asuransi yang memberikan perlindungan dari sakit, kecelakaan, dan resiko kesehatan lainnya.

 

2.1.1        Jenis Benefit Asuransi Kesehatan

  1. Rawat Jalan (Outpatient),
  2. Rawat Inap (Inpatient),
  3. Melahirkan (Maternity),
  4. d.    Gigi (Dental), dan
  5. Kacamata (Optical)

 

2.1.2        Jenis Benefit Tunjangan Kesehatan (Regulasi)

Berdasarkan ketentuan UU No. 3 tahun 1992 Pasal 16 ayat 2 dinyatakan bahwa jaminan pemeliharaan kesehatan adalah sebagai berikut:

◦      Rawat jalan tingkat pertama,

◦      Rawat jalan tingkat lanjutan,

◦      Rawat inap,

◦      Pemeriksaan kehamilan dan pertolongan persalinan,

◦      Penunjang diagnostik,

◦      Pelayanan khusus, dan

◦      Pelayanan gawat darurat.

 

2.1.3        Mekanisme Pelayanan Asuransi Kesehatan

 Pelayanan dalam asuransi kesehatan memiliki dua mekanisme, yaitu mekanisme reimbursement dan mekanisme provider.

 

2.1.3.1   Mekanisme reimbursement

                        Dalam mekanisme ini saat tertanggung berobat ke dokter, klinik atau rumah sakit tertentu harus mengeluarkan biaya lebih dahulu. Tertanggung bebas memilih rumah sakit yang mana saja, namun tentunya maksimal penggantian telah ditentukan dimuka. Yang perlu menjadi perhatian utama kita dalam melakukan klaim adalah kelengkapan surat-surat administrasi yang menjadi syarat utama agar proses penggantian biaya yang kita keluarkan dapat dibayar oleh perusahaan asuransi. Cepat lambatnya pencairan dana klaim tergantung kepada pelayanan yang diberikan oleh perusahaan asuransi, namun secara umum berkisar 7 hari kerja.

 

2.1.3.2   Mekanisme provider

Dalam mekanisme ini tertanggung tidak perlu mengeluarkan biaya terlebih dahulu saat berobat ke dokter, klinik atau rumah sakit karena tertanggung hanya akan mengeluarkan biaya apabila ada kelebihan biaya dari batas yang telah ditentukan. Dalam hal ini, tertanggung hanya dibekali dengan kartu keanggotaan asuransi kesehatan guna mendapatkan pelayanan kesehatan yang dibutuhkan di rumah sakit atau klinik kesehatan yang telah kita pilih sebelumnya berdasarkan daftar rumah sakit yang bekerja sama dengan perusahaan asuransi tersebut.

 

2.1.4        Skema Manfaat Asuransi Kesehatan

2.1.4.1             Schedule (Inner Limit) dengan Limit Tahunan

Skema ini menerapkan batasan santunan per kasus atau kejadian dan batasan santunan per periode pertanggungan, biasanya batasan per tahun.

2.1.5.2      Schedule (Inner Limit) tanpa Limit Tahunan

Skema ini menerapkan batasan santunan per kasus atau kejadian, namun tidak menerapkan batasan santunan per periode pertanggungan.

2.1.5.3            Agregate (Lump Sum) dengan Limit Tahunan

Skema ini tidak menerapkan batasan santunan per kasus atau kejadian namun menerapkan batasan santunan per periode pertanggungan, biasanya batasan per tahun.

2.1.5.4            Agregate (Lump Sum) tanpa Limit Tahunan

Skema ini tidak menerapkan batasan santunan per kasus atau kejadian dan juga tidak menerapkan batasan santunan per periode pertanggungan.

 

2.1.6        Skema Lain Asuransi Kesehatan

2.1.6.1   Metoda Sejumlah Uang

Penanggung menyediakan sejumlah uang kepada pihak tertanggung untuk setiap kali pihak tertanggung diserang penyakit.Penyediaan sejumlah uang untuk setiap kali pihak tertanggung diserang penyakit dimana jumlah total yang boleh digunakan maksimal sebesar dana yang tersedia.

2.1.6.2   Metoda Dana Sakit

Santunan diberikan kepada pihak tertanggung, dimana besarnya jumlah yang diberikan disesuaikan dengan besar kecilnya biaya pengobatan.

 

2.1.7         Resiko yang Diasuransikan

Tidak semua risiko dapat diasuransikan, ada persyaratan risiko untuk dapat diasuransikan (insurable risks). Beberapa syarat risiko untuk dapat diasuransikan adalah sebagai berikut:

  1. 1.      Risiko tersebut haruslah bersifat murni (pure)

                        Risiko murni adalah kejadian yang spontan tanpa dibuat-buat, tanpa disengaja, bahkan tidak dapat dihindari dalam waktu singkat. Orang yang dengan sengaja mencoba bunuh diri dengan meminum racun serangga dan dirawat di rumah sakit tidak berhak atas jaminan perawatan, karena tidak termasuk dalam risiko murni. Contoh yang dianggap sebagai risiko murni adalah penyakit kanker yang membutuhkan perawatan jangka panjang, lama, mahal, dan tentu saja tidak pernah diharapkan oleh si penderita.

  1. 2.      Risiko bersifat definitif

                        Sifat definitif artinya risiko dapat ditentukan kejadiannya secara pasti dan jelas serta dipahami berdasarkan bukti kejadiannya. Risiko sakit dan kematian dibuktikan dengan surat keterangan dokter, kecelakaan lalu lintas dengan surat keterangan polisi, dan kebakaran dibuktikan dengan berita acara dan bukti kejadian.

  1. Risiko bersifat statis

                        Sifat statis artinya probabilitas kejadian relatif statis atau konstan tanpa dipengaruhi perubahan politik dan ekonomi suatu negara. Berbeda dengan risiko bisnis yang bersifat dinamis karena sangat dipengaruhi stabilitas politik dan ekonomi.

  1. 4.      Risiko berdampak finansial

                        Risiko yang dapat diasuransikan adalah risiko yang mempunyai dampak finansial karena dapat diperhitungkan. Transfer risiko dilakukan dengan cara membayar premi atau kontribusi kepada perusahaan asuransi, yang akan memberikan penggantian bila terjadi dampak finansial suatu risiko yang telah terjadi. Kita ambil sebuah contoh tentang kecelakaan yang dialami, hanya risiko finansial berupa biaya perawatan dan kehilangan penghasilan akibat kehilangan jiwa atau kecacatan. Sedangkan rasa nyeri dan perasaan kehilangan tidak dapat diasuransikan karena ukurannya sangat subyektif. Manfaat yang dapat ditawarkan asuransi untuk mengganti dampak finansial tersebut adalah penggantian biaya pengobatan dan perawatan atau uang tunai untuk pengganti kehilangan penghasilan akibat kematian atau kecacatan.

  1. 5.      Risiko measurable atau quantifiable

                        Risiko tersebut dapat diperhitungkan secara akurat. Oleh karena itu, dibutuhkan keterangan seputar lokasi terjadinya penyakit, waktu kejadian, jenis penyakit, tempat perawatan, dan biaya yang dibutuhkan untuk perawatan yang dijalani. Besar penggantian biaya perawatan harus disepakati oleh pemegang polis dan asuradur yang dituangkan dalamkontrak pertanggungan/jaminan/polis.

  1. 6.      Ukuran risiko harus besar (large)

                        Risiko yang dapat ditanggung oleh perusahaan asuransi hendaknya memenuhisyarat ukurannya. Sistem asuransi harus secara cermat menilai kelompok risiko yang akan diasuransikan. Asuransi kesehatan di dunia akan cenderung menjamin pelayanan kesehatan secara komprehensif karena antara risiko dengan biaya dan pelayanan butuh biaya mahal.

 

          Untuk lebih jelasnya mengenai resiko, berikut ini kami sajikan menggenai gambaran dari resiko itu sendiri.

 Image

Pada kedua gambar tersebut terlihat perbedaan jenis resiko yang akan dibayarkan oleh asuransi dengan upah pertanggungan. Gambar 1.1 terlihat bahwa semakin pendek waktu resiko yang akan terjadi maka resiko dari upah pertanggungan yang akan dikeluarkan oleh asuransi akan semakin besar. Tetapi sebaliknya pada gambar 1.2 yaitu semakin panjang waktu resiko maka resiko dari upah pertanggungan yang akan dikelurkan oleh asuransi semakin berkurang.

 

 

 

 

 

2.1.6              Resiko yang Dikecualikan

 

Dalam mekanisme asuransi terdapat beberapa kriteria resiko yang tidak termasuk dalam tanggungan pihak lembaga asuransi, seperti:

 

◦      Resiko akibat kecelakaan,

 

◦      Resiko bermaksud bunuh diri,

 

◦      Resiko karena penyalahgunaan obat-obatan terlarang,

 

◦      Immunisasi Massal,

 

◦      Obat yang tidak ada kaitannya dengan penyakit yang dideritanya,

 

◦      Resiko yang diakibatkan peperangan,

 

◦      Resiko yang diakibatkan nuklir atau zat radioaktif,

 

◦      Resiko akiibat dari gas beracun yang berasal dari dalam bumi,

 

◦      Resiko yang diakibatkan gempa bumi, banjir, tanah longsor dan lain sebagainya.

 

 

 

 

 

B. Efisiensi Lembaga Keuangan

 

 

2.2.1         Pengertian Efisiensi

 

 

                   Lembaga keuangan seperti Perbankan dituntut berperan penting untuk memiliki kinerja yang baik. Tolak ukur dari sebuah kinerja yang baik ialah adanya efisiensi yang dapat ditingkatkan melalui penurunan biaya (reducing cost) dalam proses produksi. Bank yang lebih efisien diharapkan akan mendapat keuntungan yang optimal, dana pinjaman yang lebih banyak, dan kualitas servis yang lebih baik pada nasabah.

 

                 Maka efisiensi merupakan suatu ukuran keberhasilan yang dinilai dari segi besarnya sumber atau biaya untuk mencapai hasil dari kegiatan yang dijalankan. Efisiensi didefinisikan sebagai perbandingan antara keluaran (output) dengan masukan (input), atau jumlah yang dihasilkan dari satu input yang dipergunakan. Suatu perusahaan dapat dikatakan efisiensi apabila mempergunakan jumlah unit yang lebih sedikit dibandingkan dengan jumlah unit input yang dipergunakan perusahaan lain untuk menghasilkan output yang sama, atau menggunakan unit input yang sama untuk menghasilkan jumlah output yang lebih besar. (Permono dan Darmawan, 2000; 2).

 

 

 

 

2.2.2      Landasan Teori Efisiensi Lembaga Keuangan

 

Berger, et al (1993) mengatakan jika terjadi perubahanan struktur keuangan yang cepat maka penting mengidentifikasikan efisiensi biaya dan pendapatan.Setelah Berger, et al ,kemudian muncul penelitian yang dilakukan oleh Rangan, et.al (1988) yang menyatakan bahwa ukuran bank berpengaruh positif terhadap efisiensi. Artinya semakin besar suatu bank, maka akan semakin efisien, karena bank dapat memaksimalkan skala dan skup ekonomisnya. Penelitian yang dilakukan oleh Rangan, et.al pun mendapat dukungan dari Grabowski, et.al (1994), Aly, et.al (1990), Bodie dan Merton (2000), Miller dan Noulas (1996) dengan hasil yang sama dari penelitiannya.Tetapi lain halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Ferrier dan Lovell (1990) yang menggunakan teknik programasi linier dan ekonometrika, mereka menyatakan sebaliknya yaitu bahwa bank yang kecil justru lebih efisien.

 

Hubungan antara ukuran bank dapat terlihat dapat tercermin pada kurva biaya rata-rata bank yang dihitung berdasarkan nilai assets dan liabilities dengan biaya produksi output per-unit (Rose,1999:106, Sounders, 1999:290). Kurva biaya rata-rata ini digambarkan berbentuk U-Shaped yang mendatar pada bagian tengahnya (Rose, 1999:106) yang mempunyai implikasi rentang bank yang menghasilkan efisiensi.Beberapa penelitian menyatakan bahwa bank kecil memberikan pelayanan yang berbeda dengan bank besar, namun bank besar mampu memberikan jasa yang lebih lengkap.Implikasinya perhitungan biaya rata-rata yang dikeluarkan bank kecil berbeda dengan bank besar.

 

 

 

2.2.3         Faktor-faktor Efisiensi

 

Dibawah ini terdapat beberapa faktor yang menyebabkan efisiensi diantaranya:

 

  1. Input yang sama akan menghasilkan output yang lebih besar,
  2. Input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama,
  3. Input yang besar menghasilkan output yang lebih besar,
  4. Efisiensi karena abitrase ekonomi,
  5. Efisiensi karena ketepatan penilaian dasar aset-asetnya,
  6. Efisiensi karena lembaga keuangan bank mampu mengantisipasi resiko yang akan muncul, dan
  7. Efisiensi fungsional yang berkaitan dengan mekanisme pembayaran yang dilakukan oleh sebuah lembaga keuangan.

 

2.2.4         Faktor-faktor Inefisiensi

 

Menurut Giuffrida dan Gravelle (2001), ada tiga sumber inefisiensi biaya diantaranya:           

 

  1. Inefisiensi teknik (technical inefficiency) yaitu inefisiensi yang terjadi jika hanya  sedikit output yang dihasilkan dari sejumlah input tertentu. Tingkat output Unit Kegiatan Ekonomi (UKE) berada jauh di atas garis isokuan.
  2. Inefisiensi alokasi (allocative inefficiency) yaitu inefisiensi yang terjadi ketika input digunakan dalam proporsi yang salah, sehingga harga dan produktivitas berada pada satu garis batas. Unit Kegiatan Ekonomi tetap berada pada garis isokuan, tetapi pada titik yang salah.
  3. Inefisiensi skala (scale inefficiency) yaitu inefisiensi yang terjadi ketika biaya total dapat dikurangi dengan merubah jumlah Unit Kegiatan Ekonomi, dan Unit Kegiatan Ekonomi berada pada garis isokuan yang salah.

 

 

C. Hubungan Asuransi Kesehatan dengan Efisiensi Lembaga Keuangan (Bank)

Image

Pada awalnya hubungan yang terjalin antara asuransi dengan  lembaga keuangan bank berupa insurable interest yang merupakan salah satu dari lima prinsip utama asuransi. Insurable Interest adalah hak yang dimiliki oleh individu untuk mengasuransi jiwa atau harta benda yang timbul dari adanya kepentingan keuangan individu tersebut terhadap subyek yang diasuransikan yang mana kepentingan tersebut harus diakui oleh badan hukum.
Insurable interestyang dimiliki bank dapat dilihat dari kontrak, misalnya perjanjian kerjasama dengan bank yang menyebabkan bank memiliki insurable interest terhadap barang yang diagunkan dan insurable interest pada bank dapat dilihat dari hukum kebiasaan (common law), yaitu pemilik barang memiliki kepentingan keuangan atas keselamatan barang yang dimilikinya.

Singkatnya Insurable interest dapat menghubungkan asuransi dengan lembaga keuangan bank karena adanya keterkaitan, sesuatu yang dinilai, dan penggantian akan adanya kerugian.

            Asuransi kesehatan memiliki hubungan dengan efisiensi lembaga keuangan yaitu seperti mencegah resiko ketidaktertagihnya kredit yang dialami oleh bank akibat dari peminjam yang mengalami kecelakaan hingga mengalami kematian.Jadi dalam hal ini bank mengalihkan resiko kepada asuransi, dan asuransi bertugas mengcover kerugian materi yang dialami bank apabila terjadi kredit macet dan ketidaktertagihnya kredit. Tentu saja sebelum mengalihkan resiko kepada asuransi, bank membayar premi kepada asuransi sehingga ketika terjadinya ketidaktertagihnya kredit macet, asuransi akan memperhitungkan berapa besar uang pertanggungan yang akan diberikan kepada bank.Penghapusan kredit karena peminjam yang mengalami kecelakaan dan pada akhirnya meninggal,memberikan manfaat berupabantuan moral kepada penerima manfaat.Sementara keluarga yang ditinggalkan menghargai fakta bahwa mereka tidak perlu melunasi pinjaman dari peminjam yang telah meninggal dunia.Dalam hal ini asuransi berperan mengcover resiko yang bersifat definitif dan resiko berdampak finansial.

            Sekarang mari kita lihat hubungan asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keuangan. Jika dilihat dari efisiensi lembaga keuangan yang dalam hal ini ialah bank, umumnya karyawan bank diberikan asuransi kesehatan oleh bank tempatnya bekerja dengan jumlah premi yang telah dihitung berdasarkan prosentase seberapa besar bank menanggung premi asuransi kesehatan karyawannya dan seberapa besar premi asuransi kesehatan itu ditangung oleh karyawan bank masing-masing. Premi asuransi kesehatan  yang ditanggung oleh karyawan dihitung dengan cara prosentase dari gaji mereka, yang pada akhirnya gaji karyawan bank akan menurun karena telah dipotong oleh premi asuransi kesehatan yang ditanggung oleh karyawan tersebut.

            Jika sebuah bank memberikan jaminan berupa pemberian asuransi kesehatan kepada semua karyawan bank tersebut, maka tentu saja jumlah biaya bank akan meningkat karena adanya premi yang harus dibayarkan oleh bank. Dalam hal ini bank perlu melakukan efisiensi dengan carayang pertama yaitu menaikan pendapatan bunga dari sisi loan diatas pendapatan bunga dari sisi deposits (i2 > i1) agar bank mendapatkan pendapatan untuk menutupi semua biaya bank yang ada.

ImageRumus LDR dibawah ini akan mencerminkan seberapa besar tingkat efisiensi suatu bank, yaitu loan harus lebih besar dari pada deposits dan capital.

Image

Karena hal itu, maka yang dilakukan bank ialah menjaring nasabah sebanyak mungkin, tidak hanya untuk menabung melainkan juga untuk melakukan transaksi kredit kepada bank.Hal tersebut dilakukan bank karena bank tidak dapat menaikan tingkat suku bunga pinjaman untuk lebih tinggi dari tabungan, karena keseluruhan tingkat suku bunga bank telah diatur oleh Bank Indonesia, baik itu suku bunga deposits dan loan.

            Cara kedua dari sisi bank untuk melakukan efisiensi ialah dengan mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk pemberian hadiah kepada para nasabah yang memiliki tabungan diatas rata-rata nasabah lainnya. Biasanya pemberian hadiah kepada nasabah ini dilakukan dengan cara pengundian. Seperti yang kita ketahui bahwa begitu besar biaya yang dikeluarkan bank untuk memberikan hadiah kepada nasabah seperti membeli 100 sepeda motor, 10 mobil sedan, 5 rumah, dll. Memang pada dasarnya semua hadiah ini berasal dari bunga loan yang telah disalurkan oleh bank, tetapi alangkah lebih bijaksananya jika bank mengurangi biaya untuk pemberian hadiah tersebut sehingga sebagian dana yang tidak tersalurkan untuk membeli hadiah dapat digunakan untuk membayar premi asuransi kesehatan karyawan. Apalagi jika sebagian dana yang tidak tersalurkan untuk membeli hadiah tersebut dapat dialokasikan bank untuk mengurangi prosentasi premi asuransi kesehatan yang ditanggung oleh karyawan dari gajinya, tentu saja hal ini lebih menguntungkan bagi karyawan karena karyawan akan menerima gaji yang lebih besar sehingga pendapatan masyarakat dan kesehatan akan meningkat.

            Cara ketiga dari sisi bank untuk melakukan efisiensi ialah dengan mengurangi kesenjangan penghasilan yang diterima oleh karyawan pada bagian atas yakni manager beserta atasannya dengan karyawan pada bagian menengah hingga pada karyawan di bagian bawah. Jika kesenjangan penghasilan yang begitu tinggi ini dapat dikurangi, maka tentu saja bank melakukan sebuah efisiensi yang pada akhirnya dana tersebut dapat digunakan untuk membayar premi asuransi kasehatan para karyawannya walaupun pada dasarnya bank telah memiliki dana untuk membayar premi asuransi kesehatan.

            Cara keempat dari sisi bank yaitu dengan melakukan upaya perbaikan efisiensi yaitu dengan meningkatkan penggunaan input secara lebih efisien. Pendapatan non bunga misalnya, merupakan penerimaan paling potensial bagi bank yang dapat memberikan nilai tambah bagi peningkatan efisiensi lembaga keuangan, untuk itu bank perlu terus meningkatkan penerimaan pendapatan non bunga agar tercapai efisiensi yang maksimal. Upaya lain perlu dilakukan, antara lain dengan meningkatkan produk-produk pelayanan jasa bank, mengingat sektor perbankan rentan terhadap perubahan struktur ekonomi.

            Kemudian jika dilihat dari efisiensi asuransi kesehatan, tentu saja yang dapat dilakukan yaitu dengan meminimkan seberapa besar resiko-resiko kerugian yang akan terjadi. Karena asuransi hanya mengukur sebuah kerugian yang akan menjadi uang pertanggungandan bukan sebuah keuntungan atau premi yang diterima. Maka dari itu asuransi memiliki hubungan dengan efisiensi lembaga keuangan, karena asuransi membutuhkan bank untuk menyimpan premi asuransi yang telah diterima dari tertanggung demi keamanan, keuntungan, dan keefisienan. Kemanan tersebut didapat karena pihak asuransi tidak menyimpan dana premi di brankas miliknya melainkan dibrankas bank demi mengurangi resiko dari kehilangan dana tersebut. Keuntungan yang diterima asuransi dapat dilihat dari bunga yang akan asuransi peroleh dan hadiah dari premi yang telah asuransi simpan di bank. Dan keefisienan dapat dilihat dari card atau kartu rekening yang dimiliki asuransi atas premi yang telah disimpan di bank karena dalam hal ini asuransi juga merupakan nasabah bank.

 

 

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari makalah seputar hubungan asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keuangan adalah sebagai berikut:

  1. Asuransi merupakan lembaga yang memberikan perlindungan dengan imbalan dari sejumlah premi yang telah dibayarkan. Maka dari itu di dalam sistem perekonomian, asuransi membutuhkan lembaga keuangan begitupun sebaliknya.

Sistematika asuransi dan lembaga keuangan dalam menjalani roda perputaran ekonomi sangat sejalan, maka dari itu dapat dikatakan asuransi memiliki hubungan dengan efisiensi lembaga keuangan.

  1. Berdasarkan kinerja asuransi dan lembaga keuangan dapat terlihat sebuah efisiensi. Efisiensi sebuah lembaga keuangan terlihat dari LDR, KUK, dan korektibilitas kreditnya yang juga dapat diukur menggunakan standar akuntansi, misalnya dari returnon equity (ROE), return on asset (ROA) ,asset turn over maupun return on permanent capital, dan net interest margin. Efisiensi asuransi dapat terlihat padarasio kecukupan tingkat solvabilitas (solvency margin) terhadap tingkat solvabilitas minimum (minimum solvency) atau disebut juga rasio Pencapaian Batas Tingkat Solvabilitas Minimum (BTSM). Hal ini dapat diartikan sebagai suatu ketentuan modal minimum yang dipersyaratkan (minimum capital requirements), atau dalam perbankan sering disebut Capital Adequacy Ratio (CAR). Dengan ketentuan tersebut regulator dapat mengawasi sejauh mana keamanan dan kestabilan perusahaan asuransi dalam memenuhi kewajibannya kepada para pemegang polis atau shake holder lainnya.
  2. Tidak semua risiko dapat diasuransikan, ada persyaratan risiko untuk dapat diasuransikan (insurable risks). Beberapa syarat risiko untuk dapat diasuransikan adalah sebagai berikut:Risiko tersebut haruslah bersifat murni (pure), Risiko bersifat definitif, Risiko bersifat statis, Risiko berdampak finansial, Risiko measurable atau quantifiable, ukuran risiko harus besar (large).
  3. Dilihat dari peranannya, asuransi  merupakan lembaga yang memberikan perlindungan dengan imbalan dari sejumlah premi yang telah dibayarkan oleh tertanggung tentu saja memiliki hubungan dengan efisiensi lembaga keuangan, begitupun sebaliknya karena pada dasarnya asuransi membutuhkan lembaga keuangan bank untuk menyimpan dananya dan lembaga keuangan bank membutuhkan asuransi untuk penjamin atas resiko-resiko yang akan terjadi di bank .
  4. Pengelolaan financial Bank yang lebih efisien diharapkan akan mendapat keuntungan yang optimal, dana pinjaman yang lebih banyak, dan kualitas servis yang lebih baik pada nasabah

 

 

3.2  Saran

Saran yang dapat diberikan dari makalah seputar hubungan asuransi kesehatan dengan efisiensi lembaga keungan diantaranya:

 

  1. Agar lembaga keuangan lebih efisien, bank diharapkan  tidak hanya bergerak dalam dunia perbankan tetapi juga bergerak pada dunia asuransi, agensi, dan lising. Supaya bank dapat lebih leluasa dalam mengontrol pemasukan dan pengeluarannya, serta dapat lebih meminimkan resiko-resiko yang akan terjadi di bank. Contohnya jika bank mengasuransikan karyawannya pada asuransi kesehatan maka tentu saja bank harus membayar premi untuk menerima upah pertanggungan dari asuransi akan resiko yang terjadi.Jika suatu resiko telah terjadi, tentu saja lembaga asuransi hanya membayar uang pertanggungan sebesar resiko tersebut bukan sebesar premi yang telah ia terima. Maka dari itu, jika bank memiliki asuransi pula, bank akan lebih untung dan efisien karena premi dan uang pertanggungan tersebut diatur dan dikendalikan sendiri oleh bank.
  2. Diharapkan dengan ditemukannya faktor penyebab inefisiensi maka dapat dilakukan kebijakan koreksi yang digunakan untuk meningkatkan kualitas kinerja bank.

 

 

Daftar Pustaka

 

Hermana, Budi dan Margianti, E.S. 2011.Manajemen Dana Bank Prinsip dan Regulasi di Indonesia.

http://anggianurangriani.blogspot.com/

http://id.wikipedia.org/wiki/Asuransi_Kesehatan_Indonesia

http://kerockan.blogspot.com/2009/12/mekanisme-klaim-asuransi-kesehatan.html

http://www.ptaskes.com/read/askespjku

 

 

DUNIA PERBANKAN DAN KLIRING

Posted On June 6, 2012

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Dalam dunia perbankan, terdapat satu konsep sederhana yang menarik, yaitu konsep tangan kanan dan tangan kiri. Dana masuk ke bank di sisi liabilities (source of fund) yang digambarkan sebagai tangan kanan, sedangkan dana keluar dari bank di sisi asset (use of fund) yang digambarkan sebagai tangan kiri. Posisi debit dan kredit kedua tangan ini saling berlawanan karena untuk sisi assets akan bertambah di debit, berkurang di kredit. Sebaliknya untuk sisi liabilities akan bertambah di kredit, berkurang di debit.

Image

Portofolio Bank

Image

Faktor yang menjadi penentu likuiditas Bank adalah Cash Reserves yang terdiri dari Kas dan Rekening Koran pada BI. Tangan kanan Bank bertugas mengalokasikan deposit dari liabilities ke cash reserves (kas tunai) dan Loan (hutang). Selain berasal dari deposit,cash reservers juga didapat dari securities sisi liabilities yang ditujukan untuk dijual, namun hal ini hanya terjadi jika terdapat Call Money. Loan juga mendapat asupan dari  deposit dan capital di sisi Liabilities. Securities di Assets itu ditujukan untuk dibeli. Beberapa Macam-macam loan, yaitu konsumtif (credit card dengan bunga tinggi),  investasi, dan   modal kerja. Ada aturan yang telah ditetapkan menyangkut Loan, yang dinamakan LDR (Loan to deposit ratio):

Image

1.      Prinsip konservatif à porsi capital diharuskan sebesar 10% (prudent bank).

Image

Untuk KUK (Kredit Usaha Kecil) minimal sebesar 20% loan. Satu hal yang harus diingat adalah pengalokasian ini harus diambil dari tabungan. Mengapa? Karena jika diambil dari giro dan deposito akan menimbulkan “negative miss match”.  Negative miss match adalah keadaan saat dana dengan tingkat bunga yang tinggi disalurkan dengan tingkat bunga yang rendah dan dana jangka pendek disalurkan untuk jangka panjang. Indikasi rekening giro yang berfluktuatif dan deposito yang memiliki suku bunga yang tinggijuga akan menyebabkan  sulitnya pengalokasian ke KUK.

Kliring

Kliring adalah pembayaran/pengiriman sejumlah uang dalam bentuk non tunai karena perihal hutang-piutang antar peserta kliring di satu tempat. Kliring berbeda dengan transfer karena transfer terjadi antar daerah yang berbeda tapi dalam satu bank yang sama, sedangkan kliring terjadi antar bank yang berbeda yang berada dalam satu daerah yang sama atau lain.

Di bawah ini terdapat beberapa kasus kliring dan transfer:

 Kasus 1

Ahmad membeli kerupuk senilai 5jt pada agen kerupuk yang bernama Aminah. Ahmad merupakan nasabah Bank BCA di Jakarta dan Aminah adalah nasabah Bank BII di kota yang sama. Ahmad menyimpan uang di Bank BCA dalam giro sehingga hanya dapat diambil lewat cek yang dapat diambil secara tunai oleh siapapun yang memegang cek tersebut (atas ijin/unjuk) atau bilyet giro yang hanya dapat diambil jika memiliki akun di sebuah bank (atas pinbuk).

Image

Ahmad melakukan transaksi menggunakan cek kepada Aminah sebesar 50 jt. Aminah ingin memasukan uang tersebut ke dalam rekening tabungannya di Bank BII.Namun, Bank BII yang menerima cek dari Aminah, tidak dapat langsung mengambil uang dari Bank BCA karena harus seijin Bank Indonesia dengan mengirimkan Nota Debet. Selanjutnya, pihak Bank Indonesia mengirimkan Nota Debet masuk ke Bank BCA. Jika jumlah saldo Ahmad rekening giro Ahmad mencukupi (konfirmasi ke Bank BCA), maka BI akan memindahkan saldo Rekening Koran Bank BCA sebesar 50 jt ke rekening Koran Bank BII. Penjurnalan yang terjadi untuk pencatatan transaksi kasus ini adalah:

Bank Indonesia

Db. R/K pada BI Bank BCA               50 jt (-)

                Kr. R/K pada BI Bank BII      50 jt (+)

Bank BCA

Db. Giro Ahmad                                 50 jt (-)

                Kr. R/K pada BI                        50 Jt (-)

Bank BII

Db. R/K pada BI                                 50 jt (-)

                Kr. Tabungan Aminah              50 jt (+)

 

Kasus 2

Image

Pada hari ultah Ahmad, Aminah bermaksud memberikan hadiah kepada Ahmad sebesar 100 jt melalui giro. Bank BII tempat Aminah menabung pun mengirimkan Nota Kredit Keluar kepada Bank Indonesia, yang kemudian dikirim ke Bank BCA (Nota Kredit Masuk Penjurnalan yang terjadi untuk pencatatan transaksi kasus ini adalah:

Bank Indonesia

Db. R/K pada BI Bank BII                                        100 jt (-)

                Kr. R/K pada BI Bank BCA              100 jt (+)

Bank BCA

Db. R/K pada BI                                 100 Jt (+)

Kr. Giro Ahmad                             100 jt (+)

Bank BII

Db. Tabungan Aminah                         100 jt (-)

Kr. R/K pada BI                            100 jt (-)

Kasus 3

Image

Sebagai langganan agen kerupuk Aminah, Ahmad kembali melakukan pembelanjaan kepada Aminah. Kali ini, Ahmad membeli kerupuk senilai 100jt dan membayar lewat giro lagi. Tapi, sebenarnya, saldo Ahmad di Bank BCA tidak mencapai 100jt (saldo tidak mencukupi). Tapi Ahmad membiarkannya saja, karena berharap mungkin Aminah tidak akan langsung mencairkan dana dari giro tersebut. Namun sayang, Aminah ternyata langsung berniat mencairkan dana di giro tersebut. Bank Indonesia yang mendapatkan kabar dqari Bank BCA kalau saldo Ahmad tidak mencukupi nominal yang tertera pada giro pun akhirnya menolak kliring. Atas kejadian ini Bank Indonesia bisa saja mem-blacklist Ahmad. Penjurnalan yang terjadi untuk pencatatan transaksi kasus ini adalah:

Bank Indonesia

Db. R/K pada BI Bank BII                                        50 jt (-)

                Kr. R/K pada BI Bank BCA              50 jt (+)

Bank BCA

Db. R/K pada BI                                 50 Jt (+)

Kr. Giro Ahmad                            50 jt (+)

Bank BII

Db. Tabungan Aminah                         50 jt (-)

Kr. R/K pada BI                             50 jt (-)

NOTA-NOTA

Image

Tabel di atas menggambarkan posisi dari nota debit dan kredit yang diterima baik keluar maupun masuk. Hasil akhir yang menunjukkan tanda (+) artinya bank tersebut menang kliring dan (-) artinya bank tersebut kalah kliring. Bank yang kalah kliring harus meminjam dana ke Bank yang menang kliring untuk mencapai GWM minimum. Aktivitas peminjaman dana karena kalah kliring ini disebut dengan call money. Pinjaman call money memiliki bunga, yang dapat terdiri atas bisa tahunan (p.a) atau per malam (p.n).  Akibat kekalahan kliring yang dialami teru-menerus oleh pihak Bank yang kalah dapat saja menyebabkan Bank tersebut tidak sanggup membayar dan hutang kliringnya (hutang call money) banyak. Hal ini mengindikasikan bahwa likuiditas bank tersebut kurang baik, sehingga BI memiliki kewenangan untuk melikuidasi bank tersebut karena dianggap tidak memenuhi GWM (Giro Wajib Minimum). Seperti yang kita ketahui bahwa Bank yang tidak mampu ikut serta dalam kliring, sehingga tidak boleh menjadi Bank Umum. Kekalahan kliring memang tidak berpengaruh pada likuiditas bank selama Bank tersebut masih dapat menyelesaikan hutang pinjaman dana kliring (callmoney), tetapi akan berpengaruh jika saldo R/K bank tersebut di BI tidak memenuhi GWM. Berikut adalah pengilustrasian dari menang-kalah kliring.

Image

Bank BCA yang memeiliki deposit sebesar 100jt hanya memiliki GWM sebesar 8jt yang sangat pas-pasan. Dalam kasus ini, Bank BII yang menang kliring sebesar 2 juta dan Bank BCA kalah kliring sebesar 2 juta, otomatis Bank BCA hanya memiliki R/K pd BI sebesar 6jt yang kurang dari GWM (min 8%). Karena total R/K pada BI Bank BCA kurang dari GWM yang ditetapkan maka Bank BCA wajib melakukan pinjaman untuk menutupi kekurangan GWMnya. Sedangkan bank BII yang memiliki R/K pd BI sebesar 10 jt yang terdiri atas GWM 8 jt dan ER (kelebihan GWM) sebesar 2 jt menang kliring 2 jt, sehingga jumlah R/K pd BI sebesar 12 jt.

Kasus 4

 Rekening Antar Kantor (RAK) adalah cara kliring melalui Bank yang sama tetapi berbeda daerah. Kelanjutan Kisah Ada Cinta Di Balik Keupuk ini adalah Ahmad menikah dengan Aminah dan bekerja di Papua. Aminah yang merupakan seorang nasabah Bank Niaga di Jakarta ingin mengirim uang ke Ahmad yang mana seorang nasabah Bank BPD Papua di Wamena. Aminah dan Ahmad berada dalam keadaan berbeda Bank dan berbeda daerah sehingga harus melalukan transfer di daerah yang memilki cabang Bank Niaga dan BPD Papua. Bank Niaga dan BPD Papua sama-sama memiliki kantor cabang di Makasar. Bank Bank Niaga dan BPD melakukan kliring melalui BI, lalu Bank BPD Papua di Makassar melakukan transfer ke BPD Papua di Wamena. Penjurnalan yang terjadi untuk pencatatan transaksi kasus ini adalah:

Image

Bank Niaga di Jakarta

Db. Tabungan Aminah                        50 jt (-)

                Kr. RAK                                   50 jt (+)

Bank Niaga di Makasar

Db. RAK                                            50 Jt (+)

Kr. R/K pada BI                          50 jt (+)          

Bank BPD Papua di Makasar

Db. R/K pada BI                                 50 jt (-)

                  Kr. RAK                                       50 jt (-)

Bank BPD Papua di Makasar

Db. RAK                                            50 jt (-)

                  Kr. Giro Ahmad                           50 jt (-)

Kasus 5

Contoh dibawah ini menggambarkan alur dan jurnal yang harus dicatat apabila Aminah nasabah Bank Niaga yang tidak memiliki cabang yang satu kota dengan BPD. Maka harus melakukan kliring dengan Bank lain yang memilki cabang di daerah yang sama dengan BPD, sebut saja Bank BRI yang ada di tempat yang sama dengan BPD tersebut.

Image

Bank Niaga di Jakarta

Db. Tabungan Aminah                        50 jt (-)

                Kr. R/K pada BI                      50 jt (+)

Bank BRI di Jakarta

Db. R/K pada BI                                50 Jt (+)

Kr. RAK                                       50 jt (+)

Bank BRI di Makasar

Db. RAK                                            50 Jt (+)

Kr. R/K pada BI                          50 jt (+)

Bank BPD Papua di Makasar

Db. R/K pada BI                                 50 jt (-)

                  Kr. RAK                                       50 jt (-)

Bank BPD Papua di Makasar

Db. RAK                                            50 jt (-)

                  Kr. Giro Ahmad                           50 jt (-)

Kasus 6

Perjalanan ekonomi yang sulit menyebabkan Aminah harus pergi merantau ke Arab saudi menjadi TKI. Aminah yang berada di Arab bermaksud ingin mengirim uang untuk Ahmad dan anak mereka. Dalam pengilustrasian ini terdapat 2 cara yang dapat digunakan, yaitu Bank Draft atau payment order pada gambar:

Image

  • Cara pertama, Aminah menyerahkan uang ke Bank of Arab di Arab Saudi, Bank of Arab kemudian memberikan Aminah sebuah surat yang bernama Bank Draft yang akan dikirim ke Ahmad via mail transfer. Setelah Ahmad menerima kiriman surat tersebut maka Ahmad dapat mencairkan dananya dengan datang ke Bank BRI di Jakarta (sesuai yang tertera dalam Bank Draft).
  • Cara kedua, Aminah menyerahkan uang ke Bank of Arab di Arab Saudi, kemudian Bank Arab Saudi mengirimkan Payment Order ke bank BRI di Jakarta. Bak BRI di Jakarta selanjutnya akan memanggil Ahmad selaku nasabah dan dapat mencairkan dana tersebut. Transfer antar negara dapat saja dilakukan, akan tetapi kedua Bank yang berbeda negara tersebut harus memiliki hubungan (correspondent bank).

DATABASE PERBANKAN

Image

Setiap nasabah sutu Bank memiliki nomor rekening yang beragam. Nomor rekening nasabah berbeda dengan nomor nasabah dalam Bank tersebut. Setiap kantor bank memiliki nomor yang telah didesain khusus untuk mempermudah pengelompokkan di neraca asset dan liabilities (deposit). Berikut adalah penomoran yang dilakukan oleh Bank:

Image

PERHITUNGAN BUNGA BANK

Setiap harinya Bank selalu membuta laporan harian yang berisi proses akhir per hari menyangkut transaksi yang terjadi saldo rekening yang terjadi pada hari tersebut. Dan pada akhir bulan bank juga menghitung saldo akhir bulan per rekening yang nantinya akan menjadi saldo awal bulan selanjutnya.

Image

Perhitungan saldo akhir bulan, yaitu:

Image

Metode perhitungan bunga:

1.   Saldo Terendah

Berikut adalah saldo tabungan Aminah di Bank BCA dengan tingkat bunga 10%.

Image

2.   Saldo Rata-rata

Untuk perhitungan saldo rata-rata, maka total saldo dari seluruh transaksi dibagi dengan jumlah transaksinya, seperti:

Image3.    Saldo harian

Saldo harian dihitung tiap perubahan saldo atas transaksi yang terjadi, seperti:

Image

Dalam melakukan penghitungan bunga kredit terdapat 2 cara, yaitu:

1.       Flat (Fix rate)

Aminah meminjam uang sebesar 10 juta, tingkat bunga 10% per tahun, selama 3 tahun pinjaman. Tingkat bunga pinjamannya mnenjadi 30% untuk 3tahun = 36 bulan untuk pinjaman 10 juta. Hasil cicilan bunga akan tetap selama 3 tahun sebesar:

Image

2.    Anuitas

Aminah meminjam uang seperti yang tertera di dalam tabel berikut ini:

Image

Maka proses penghitungannya akan seperti:

Image

Sumber: Catatan pribadi BLK 2

PAPER KLIRING

MAKALAH

 Bank dan Lembaga Keuangan II

“KLIRING”

Image

 

Disusun oleh :

Candy Gloria (2121 0516)

Febriana Puspita Sari (2221 0688)

Muthiya Gabriela Malawat (2421 0878)

 

 

Kelas:

SMAK 04-05

 

 

Jurusan Akuntansi

Fakultas Ekonomi

Universitas Gunadarma

 

2012

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1        Latar Belakang

            Kebutuhan masyarakat akan kecepatan, kehandalan, dan keamanan dalam bertransaksi semakin meningkat seiring dengan globalisasi perekonomian dunia. Para pelaku usaha tentunya menginginkan agar kegiatan usahanya dapat terus berputar dan kecepatan pembayaran atau transaksi dapat menunjang kegiatan usaha tersebut. Bank Indonesia selaku otoritas sistem pembayaran, menyadari keperluan masyarakat sehingga Bank Indonesia berusaha untuk memperlancar kegiatan sistem pembayaran di Indonesia. Salah satu mekanisme dalam sistem pembayaran adalah kliring, yaitu pertukaran warkat atau data keuangan elektronik antar peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu.

 

1.2        Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas maka dapat dirumuskan  masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Minimnya pengetahuan seputar kliring,
  2. Mekanisme kliring terkini, dan
  3. Peranan Bank Indonesia (BI) terhadap fasilitas kliring.

 

1.3        Tujuan

Berdasarkan perumusan masalah yang dikemukakan di atas, maka tujuan penulisan ini adalah mengemukakan pengertian, jenis, syarat, dan mekanisme kliring sebagai salah satu fasilitas perbankan.

 

1.4        Manfaat

Berdasarkan tujuan makalah yang dikemukakan di atas, maka manfaat penulisan ini adalah mengetahui mekanisme kliring sabagai salah satu fasilitas perbankan. 

 

1.5        Metode

 

            Dalam proses pembuatan penulisan ini kami menggunakan metode pencarian melalui buku-buku perbankan dan lembaga keuangan khususnya mengenai kliring dan melakukan pencarian melalui internet.

 

 

BAB II

ISI

 

2.1 Pengertian Kliring

            Kliring adalah perhitungan utang piutang antara para peserta secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-surat berharga dan surat-surat dagang yang telah ditetapkan untuk dapat diperhitungkan dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral. Pengertian kliring menurut PBI No.7/18/PBI/2005 tanggal 22 Juli 2005 ialah pertukaran warkat atau Data Keuangan Elektronik (DKE) antara peserta kliring baik atas nama peserta maupun atas nama nasabah peserta yang perhitungannya diselesaikan pada waktu tertentu. Data Keuangan Elektronik (DKE) adalah data transfer dana dalam format elektronik yang digunakan sebagai dasar perhitungan dalam SKNBI. SKNBI merupakan singkatan dari Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia, yaitu Sistem Kliring Bank Indonesia yang meliputi kliring debet dan kliring kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional.      

            Dalam pelaksanaan kliring tentu saja Bank Indonesia memiliki tujuan-tujuan tertentu. Tujuan-tujuan tersebut yaitu memajukan dan memperlancar lalu lintas pembayaran giral, merupakan alternatif pelayanan jasa transfer dana yang kompetitif dengan cara mempermudah dalam melakukan perhitungan, dan penyelesaian utang piutang secara aman, cepat dan efisien, serta merupakan salah satu pelayanan bank kepada para nasabah-nasabahnya.

 

 

2.2 Mekanisme Kliring

            Dilihat dari sisi Bank, terdapat proses penyelesaian warkat-warkat kliring di lembaga kliring diantaranya klring keluar, kliring masuk, dan pengembalian kliring. Kliring Keluar ialah warkat kliring yang dibawa ke lembaga kliring (Nota debet/kredit keluar). Sedangkan Kliring Masuk yaitu menerima warkat kliring dari lembaga kliring (Nota debet/kredit masuk) dan  Pengembalian Kliring yaitu pengembalian warkat yang tidak memenuhi syarat yang telah ditentukan. Dari kliring keluar, kliring masuk, dan pengembalian kliring maka akan mucul istilah-istilah seperti postdated cheque, cross clearing, call money, dan tolakan kliring.

            Postdated cheque ialah tanggal cek atau bilyet giro yang belum jatuh tempo atau titipan. Cross clearing ialah penarikan cek melalui kliring atas beban dana yang diharapkan akan diterima penarik dari setoran cek bank lain. Call money ialah pinjaman untuk bank yang mengalami kalah kliring (maksimal 7 hari). Sedangkan tolakan kliring ialah tolakan atas warkat yang ada. Tolakan kliring dapat terjadi karena berbagai alasan seperti asal cek atau bilyet giro salah, tanggal cek atau bilyet giro belum jatuh tempo, materai tidak ada atau tidak cukup, jumlah yang tertulis dalam angka dan huruf berbeda, tanda tangan dan atau cap perusahaan tidak sama dengan spicemen, atau juga bisa tidak lengkap, coretan atau perubahan tidak ditandatangani, cek atau bilyet giro telah kedaluarsa (lewat dari 70 hari), resi cek belum kembali, endorsement cek tidak benar yang artinya pemindahtanganan antar nasabah dalam cek tidak benar atau tidak memenuhi syarat, rekening sudah ditutup, dibatalkan oleh penarik, dalam hal ini yang memiliki rekening yang menerbitkan cek atau bilyet giro, rekening diblokir oleh yang berwenang, dan kondisi cek atau bilyet giro tidak sempurna.

            Di dalam proses kliring tentu saja terdapat para peserta kliring. Peserta kliring tersebut akan melakukan penyertaan dalam kliring baik itu penyertaan langsung maupun penyertaan tidak langsung. Dilihat dari pengertiannya, penyertaan langsung adalah  perhitungan warkat secara langsung dalam pertemuan kliring. Sedangkan penyertaan tidak langsung ialah warkat dalam pertemuan kliring yang dilakukan oleh suatu kantor bank melalui kantor pusat atau melalui cabang lain.

 

2.2.1 Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia  (SKNBI)

SKNBI adalah Sistem Kliring Bank Indonesia yang meliputi Kliring Debet dan Kliring Kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Sistem ini ada karena Bank Indonesia merasa perlu dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan Kliring melalui pengembangan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), hal itu disebabkan oleh beberapa faktor yaitu:

  1. Transfer Kredit Tanpa Warkat
  2. Kliring Kredit Nasional
  3. Kliring Debet
  4. Manajemen Risiko dan Perlindungan Konsumen

Yang dimaksud dengan kliring debet adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer debet. Sedangkan kliring kredit adalah kegiatan dalam SKNBI untuk transfer kredit. Warkat yang dapat dikliringkan diantaranya cek bank lain, bilyet giro bank lain, surat perintah bayar lain, dan penerbitan wesel. SKNBI memiliki beberapa manfaat baik bagi Bank Indonesia maupun bagi Bank lain, seperti:

  1. Bagi Bank Indonesia

􀂃 Efisiensi waktu dan biaya

􀂃 Jangkauan transfer antar bank yang lebih luas

􀂃 Memenuhi prinsip-prinsip manajemen risiko dalam penyelenggaraan kliring.

 

  1.  Bagi Bank Lain

􀂃 Efisiensi biaya operasional bank

􀂃 Semakin luasnya jangkauan layanan bank kepada nasabah

 

2.2.2 Sistem Kliring

Berdasarkan sistem penyelenggarakannya, kliring dapat menggunakan:

1. Sistem Manual, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan, pembuatan Bilyet Saldo Kliring, dan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta.

2. Sistem Semi Otomatis, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan secara otomasi, sedangkan pemilahan warkat dilakukan secara manual oleh setiap peserta.

3. Sistem Otomasi, yaitu sistem penyelenggaraan Kliring Lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring dilakukan oleh penyelenggara secara otomasi.

4. Sistem Elektronik, yaitu penyelenggaraan Kliring Lokal secara elektronik yang selanjutnya disebut kliring elektronik adalah penyelenggaraan kliring lokal yang dalam pelaksanaan perhitungan dan pembuatan Bilyet Saldo Kliring didasarkan pada Data Keuangan Elektronik yang selanjutnya disetiap DKE disertai dengan penyampaian warkat peserta kepada penyelenggara untuk diteruskan kepada peserta penerima.

 

2.2.3 Transaksi Kliring

Transaksi yang diproses melalui fasilitas Kliring meliputi transfer debet dan transfer kredit yang disertai dengan pertukaran fisik warkat, baik Warkat Debet maupun warkat kredit. Berikut adalah penjelasannya:

1. Warkat

Warkat adalah alat pembayaran bukan tunai yang diperhitungkan atas beban atau untuk untung rekening nasabah atau bank melalui kliring. Warkat yang dapat diperhtungkan dalam kliring otomasi adalah:

a.  Cek

Cek adalah surat yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) meliputi cek dividen, cek perjalanan, cek cinderamata, dan jenis cek lainnya yang penggunaannya dalam kliring disetujui oleh Bank Indonesia.

b.  Bilyet Giro

Bilyet giro adalah surat perintah dari nasabah kepada bank penyimpan dana untuk memindahbukukan sejumlah dana dari rekening yang bersangkutan kepada rekening pemegang yang disebutkan namanya termasuk Bilyet Giro Bank Indonesia.

c.  Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT)

Wesel Bank Untuk Transfer (WBUT) adalah wesel sebagaimana diatur dalam KUHD yang diterbitkan oleh bank khusus untuk sarana transfer.

d. Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT)

Surat Bukti Penerimaan Transfer (SBPT) adalah surat bukti penerimaan transfer dari luar kota yang dapat ditagihkan kepada bank peserta penerima dana transfer melalui kliring lokal.

e.  Warkat Debet

Warkat Debet adalah warkat yang digunakan untuk menagih dana pada bank lain untuk untung bank atau nasabah bank yang menyampaikan warkat tersebut. Warkat debet yang dikliringkan hendaknya telah diperjanjikan dan dikonfirmasikan terlebih dahulu oleh bank yang menyampaikan warkat debet kepada bank yang akan menerima warkat debet tersebut.

f.  Warkat Kredit

Warkat Kredit adalah warkat yang digunakan untuk menyampaikan dana pada bank lain untuk untung bank ata nasabah bank yang menerima warkat tersebut.

 

Perlu diketahui bahwa warkat memiliki beberapa syarat agar dapat dikliringkan diantaranya:

􀁺 Ber valuta Rupiah

􀁺 Bernilai nominal penuh

􀁺 Telah jatuh tempo pada saat dikliringkan

􀁺 Telah dibubuhi cap kliring

 

2. Dokumen Kliring

Merupakan dokumen yang berfungsi sebagai alat bantu dalam proses perhitungan kliring ditempat penyelenggara.

 

3. Formulir Kliring

Formulir yang digunakan untuk proses perhitungan kliring lokal dengan manual meliputi:

a. Neraca kliring penyerahan/pengembalian. gabungan formulir ini disediakan oleh penyelenggara dan digunakan oleh penyelenggara untuk menyusun rekapitulasi neraca kliring penyerahn/pengembalian.

b. Neraca kliring penyerahan/pengembalian. Formulir ini disediakan oleh peserta dan digunakan oleh peserta untuk menyusun neraca kliring penyerahan/pengembalian atas dasar daftar warkat kliring penyerahan/pengembalian.

c. Bilyet saldo kliring. Formulir ini disediakan oleh peserta dan digunakan digunakan oleh peserta untuk menyusun bilyet saldo kliring berdasarkan neraca kliring penyerahan dan neraca kliring pengembalian.

 

 

2.3  Prosedur Kliring

2.3.1        Giro Wajib Minimum (GWM)

Bank wajib memenuhi GWM dalam rupiah, sedangkan Bank devisa selain wajib memenuhi ketentuan memenuhi GWM dalam rupiah juga wajib memenuhi GWM dalam valas. GWM dalam rupiah terdiri dari GWM Primer, GWM Sekunder, dan GWM LDR. Pemenuhan GWM dalam rupiah ditetapkan sebagai berikut:

a.  GWM Primer dalam rupiah sebesar 8% dari DPK dalam rupiah.

b.  GWM Sekunder dalam rupiah sebesar 2,5% dari DPK dalam rupiah

c. GWM LDR dalam rupiah sebesar perhitungan antara Parameter Disinsentif Bawah atau Parameter Disinsentif Atas dengan selisih antara LDR Bank dan LDR Target dengan memperhatikan selisih antar KPMM Bank dan KPMM Insenstif.

GWM dalam valuta asing ditetapkan sebesar 8% dari DPK dalam valuta asing yang pemenuhannya diatur sebagai berikut:

a. Sejak tanggal 1 Maret 2011 s.d 31 Mei 2011. GWM dalam valuta asing ditetapkan sebesar 5% dari DPK dalam valuta asing.

b. Sejak tanggal 1 Juni 2011, GWM dalam valuta asing ditetapkan sebesar 8% dari DPK dalam valuta asing. Prosentase GWM dimaksud dapat disesuaikan dari waktu ke waktu.

 

2.3.2    Likuidasi Bank

Likuidasi bank adalah tindakan penyelamatan seluruh hak dan kewajiban bank sebagai akibat pencabutan izin usaha dan pembubaran badan hukum bank. Tatacara likuidasi bank yang dicabut izin usahanya sebelum terbentuknya LPS, mengacu pada PP No.25 Tahun 1999 dan SK DIR BI No. 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 tentang Tatacara Pencabutan izin usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank Umum, dimana pelaksanaan likuidasi dilakukan oleh Tim Likuidasi dan BI melakukan pengawasan terhadap pelaksanaan likuidasi oleh Tim Likuidasi tersebut. Dengan berlakunya UU LPS, maka PP No.25 Tahun 1999 dan SK DIR BI No. 32/53/KEP/DIR tanggal 14 Mei 1999 dinyatakan tidak berlaku bagi bank-bank yang dicabut izin usahanya setelah berlakunya UU LPS. Selanjutnya pengawasan dan pelaksanaan likuidasi bank yang dicabut izin usahanya setelah Oktober 2005 dilakukan oleh LPS.

BAB III

PENUTUP

 

3.1 Simpulan

Simpulan yang dapat diambil dari makalah seputar kliring ini adalah sebagai berikut:

 

  1. Kliring merupakan perhitungan utang piutang antara para peserta secara terpusat di satu tempat dengan cara saling menyerahkan surat-surat berharga dan surat-surat dagang yang telah ditetapkan untuk dapat diperhitungkan dengan mudah dan aman, serta untuk memperluas dan memperlancar lalulintas pembayaran giral.
  2. 2.      Proses penyelesaian warkat-warkat kliring di lembaga kliring diantaranya kliring keluar, kliring masuk, dan pengembalian kliring. Dari kliring keluar, kliring masuk, dan pengembalian kliring maka akan mucul istilah-istilah seperti postdated cheque, cross clearing, call money, dan tolakan kliring.
  3. 3.      Kliring diatur oleh sebuah sistem yang bernama SKNBI yaitu Sistem Kliring Bank Indonesia yang meliputi Kliring Debet dan Kliring Kredit yang penyelesaian akhirnya dilakukan secara nasional. Sistem ini ada karena Bank Indonesia merasa perlu dalam meningkatkan kualitas penyelenggaraan Kliring melalui pengembangan Sistem Kliring Nasional Bank Indonesia (SKNBI), hal itu disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya Transfer Kredit Tanpa Warkat, Kliring Kredit Nasional, Kliring Debet, dan Manajemen Risiko dan Perlindungan Konsumen.
  4. 4.      Keikutsertaan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas dunia Perbankan, maka Bank Indonesia menentukan batas Giro Wajib Minimum sebesar 8% dari jumlah pendapatan bank tersebut.

 

3.2  Saran

Saran yang dapat diberikan dari makalah seputar kliring ini adalah  untuk menjaga timbulnya negative mismatch maka setiap bank sebaiknya mencadangkan dana lebih dari Giro Wajib Minimum yaitu lebih besar dari 8%. Hal itu dilakukan agar jika bank mengalami kalah kliring, maka bank masih dapat melakukan kegiatan kliring. Sesuai dengan konsekuensi jika bank mengalami kekalahan kliring terus menerus, maka bank terancam dilikuidasi oleh Bank Indonesia.

 

 

Daftar Pustaka

 

Hermana, Budi dan Margianti, E.S. 2011. Manajemen Dana Bank Prinsip dan Regulasi di Indonesia.

http://http://www.bi.go.id

http://www.wikipedia.org

PERKEMBANGAN SUMBER DANA GIRO 20 TAHUN TERAKHIR

Image

Pendahuluan

            Giro adalah suatu istilah perbankan yang merupakan kebalikan cara pembayaran dari sistem cek. Suatu cek diberikan kepada pihak penerima pembayaran (payee) yang disimpan di bank mereka, sedangkan giro diberikan oleh pihak pembayar (payer) ke banknya, yang selanjutnya akan mentransfer dana kepada bank pihak penerima, langsung ke akun mereka.

            Perbedaan tersebut termasuk jenis perbedaan sistem “dorong dan tarik” (push and pull). Suatu cek adalah transaksi “tarik” yang akan menyebabkan bank penerima pembayaran mencari dana ke bank sang pembayar yang jika tersedia akan menarik uang tersebut. Jika tidak tersedia, cek akan “terpental” dan dikembalikan dengan pesan bahwa dana tak mencukupi. Sebaliknya, giro adalah transaksi “dorong” yaitu pembayar memerintahkan banknya untuk mengambil dana dari akun yang ada dan mengirimkannya ke bank penerima pembayaran sehingga penerima pembayaran dapat mengambil uang tersebut. Maka dari itu suatu giro tidak dapat “terpental”, karena bank hanya akan memproses perintah jika pihak pembayar memiliki dana yang cukup untuk melakukan pembayaran tersebut. Namun ini juga berarti pihak pembayar tidak mendapatkan keuntungan dari “float”.

            Maka dapat disimpulkan bahwa giro juga merupakan produk perbankan yang biasanya digunakan oleh perusahaan dalam transaksi berdagang dengan jumlah yang besar untuk mempermudah pembayaran dan bukan merupakan bentuk dari investasi karena dibutuhkan dalam waktu kapan saja maksudnya yaitu penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, atau surat perintah penarikan lainnya dengan cara pemindahbukuan. Pada umumnya bunga giro berkisar dari 3% – 4%. Besar bunga giro ini lebih kecil dibandingkan dengan bunga tabungan dan deposito dikarenakan berlakunya sistem time value of money yaitu semakin panjang waktu pinjaman maka akan semakin tinggi bunganya. Sebaliknya, jika pinjaman berjangka pendek maka bunganya relative lebih rendah. Hal ini disebabkan oleh besarnya kemungkinan resiko dimasa mendatang. Selain itu, bunga yang terdapat pada giro juga ditentukan oleh produk yang kompetitif, maksudnya produk yang dibiayai tersebut adalah produk yang laku dipasaran. Untuk produk kompetitif, bunga kredit yang diberikan relative rendah jika dibandingkan dengan produk yang kurang kompetitif. Jadi bagi bank, giro merupakan dana murah karena imbalan bunga yang diberikan pada pemilik rekening giro merupakan bunga yang paling rendah jika dibandingkan dengan suku bunga simpanan lainnya seperti tabungan dan deposito.

            Bunga atau jasa giro yang dibayar kepada pemegang giro dihitung dengan berbagai metode. Metode perhitungan yang paling umum dilakukan adalah dengan menggunakan saldo terendah. Artinya bunga dihitung dari saldo terendah dalam bulan tersebut. Di samping dengan saldo terendah ada pula bank yang menentukan perhitungan bunga dengan saldo rata-rata atau saldo harian. Perhitungan bunga yang paling menguntungan bagi bank adalah saldo terendah. Sebaliknya bagi nasabah adalah saldo rata-rata, namun semua ini ditentukan oleh bank yang bersangkutan perihal saldo mana yang akan digunakan, apakah menggunakan saldo terendah atau saldo rata-rata.

 

FENOMENA

            Perusahaan-perusahaan yang bangkrut, ditutup, dan dilikuidasi telah menjadi fenomena di dunia bisnis baik itu perusahaan-perusahaan maupun bank-bank. Di Indonesia sendiri telah terdapat  37 bank umum swasta nasional yang dilikuidasi pada tahun 1999. Dampak dari ditutupnya suatu bank sangat besar bagi nasabah dan investor. Pengaruh likuidasi bagi bank-bank besar jika ditutup yaitu akan memiliki dampak yang besar dan luas bagi perekonomian. Itulah sebabnya ada istilah too big to fail (terlalu besar untuk gagal), di mana jika ada bank besar mempunyai indikasi untuk bangkrut atau ditutup, banyak pihak, terutama pemerintah akan berusaha agar bank tersebut tidak ditutup.

 

            Nasabah dan investor tentu tidak menginginkan bank tempat ia menyimpan atau menanamkan uangnya mengalami kebangkrutan, dilikuidasi atau ditutup. Sedangkan calon nasabah dan calon investor, tentu akan mencari informasi agar tidak menyimpan atau menanamkan dananya pada bank yang berpotensi untuk bangkrut, dilikuidasi atau ditutup. Untuk itu, mereka memerlukan informasi mengenai indikasi-indikasi penting agar mereka tidak mengalami kerugian.

 

            Asal mula terjadinya likuidasi biasanya dikarenakan naiknya prosentase beban bunga dan beban non bunga seperti beban operasi yang diikuiti menurunnya pendapatan bunga sehingga mengakibatkan menurunnya total laba bersih. Untuk menyelamatkan bank dari likuidasi, maka beban bunga dan beban bukan bunga atau beban operasi harus di tutupi dengan pendapatan bunga dan pendapatan lainnya.

 

            Kalau tingkat bunga untuk penabung dan deposan lebih tinggi pada kelompok likuidasi, kemungkinan tingkat bunga yang dikenakan kepada debitur juga lebih tinggi. Tingkat bunga yang lebih tinggi biasanya mempunyai syarat-syarat pinjaman yang lebih longgar, seperti hanya mensyaratkan jaminan saja dan kurang mensyaratkan kinerja perusahaan. Jika ini terjadi ada kemungkinan akan timbulnya kredit macet yang lebih besar. Maka dapat dikakan bahwa rata-rata rekening giro pada tahun 90-an mengalami kenaikan pada bank-bank yang terdapat pada kelompok likuidasi.

 

            Maka dapat disimpulkan bagi nasabah, calon nasabah, investor dan calon investor sangat memerlukan informasi mengenai kinerja suatu bank untuk mengambil keputusan, apakah akan tetap sebagai nasabah, menjadi nasabah, tetap sebagai investor, menjadi investor atau tidak. Informasi yang diperlukan terutama informasi keuangan yang didapat dari laporan keuangan dengan melihat tingkat bunga deposito dan tabungan yang cukup tinggi di atas tingkat bunga rata-rata yang berlaku dan tingkat bunga kredit yang cukup tinggi di atas tingkat bunga rata-rata. Hampir semua kegiatan perekonomian masyarakat membutuhkan bank dengan fasilitas kreditnya. Oleh sebab itu, bank mempunyai peranan penting dalam pengelolaan dana yang beredar di masyarakat. Pendapatan terbesar bank berasal dari pendapatan bunga dari kredit yang disalurkan. Sedangkan jumlah kredit yang disalurkan tersebut ditentukan oleh besarnya sumber dana yang diperoleh dari masyarakat. Namun dalam merealisasikan kegiatan bisnisnya, kredit selalu dihubungkan dengan prinsip risk and return, dimana kegiatan yang diharapkan akan mempunyai hasil atau pendapatan yang besar, biasanya mempunyai risiko yang tinggi.

 

Pembahasan

            Untuk lebih memahami perkembangan sumber dana giro yang terjadi selama ini, berikut ini kami sajikan data sumber dana giro dalam rupiah sepanjang tahun 1990 – 2011 yang bersumber dari website BI (http://www.bi.go.id).

Image

Jika data dalam tabel tersebut kami tuangkan ke dalam grafik, maka hasilnya sebagai berikut :

Image

Image

Dari data yang tercantum pada tabel dan gambaran grafik-grafik di atas maka munculah beberapa pertanyaan-pertanyaan seputar sumber dana giro yang terjadi pada tahun 1990 – 2011 yang terdapat di BUMN, BPD, BUSN, dan Joint Venture.

Mengapa sumber dana giro di BUMN dan BPD mengalami kenaikan sepanjang tahun 2003-2011? dan mengapa sebaliknya, sumber dana di BUSN serta Joint Venture mengalami penurunan sepanjang tahun 2003 – 2011?

            Hal tersebut dapat terjadi karena adanya penurunan tingkat suku bunga yang dialami oleh BUMN dan BPD dimana BUMN mengalami penurunan tingkat suku bunga sebesar 1,46 yakni dari 3,65 pada tahun 2003 menjadi 2,19 pada tahun 2011 dan BPD mengalami penurunan tingkat suku bunga sebesar 0.58 dari 3,41 pada tahun 2003 menjadi 2,83 pada tahun 2011.

            Penurunan tingkat suku bunga juga terjadi pada BUSN dan Joint Venture. Di mana BUSN mengalami penurunan tingkat suku bunga dari tahun 2003 – 2011 sebesar 0,58 yakni dari 3,41 menjadi 2,83 dan Joint Venture juga mengalami penurunan tingkat suku bunga sebesar 1,17 yakni dari 2,69 pada tahun 2003 menjadi 1,52 pada tahun 2011.

            Jika dilihat memang penurunan tingkat suku bunga BUMN lebih besar dibandingkan dengan BPD, BUSN, dan Joint Venture maka dapat dikatakan penurunan tersebut membuat BUMN berada diurutan teratas dalam sumber dana giro dari pada BPD, BUSN, dan Joint Venture.  Sedangkan jika dilihat dari BPD, penurunan tingkat suku bunganya sama dengan BUSN walaupun penerimaan dana giro atau sumber dana giro di BPD jauh lebih tinggi dari BUSN.

            Beberapa hal yang menyebabkan BUMN dan BPD menjadi posisi teratas berdasarkan data tahun 1990 – 2011 diantaranya :

  1. BUMN dan BPD relatif lebih gencar mempromosikan produk-produknya serta lebih inovatif dalam menciptakan produk yang dapat memenuhi kebutuhan dan keinginan konsumen, serta terus-menerus meningkatkan kualitas pelayanannya sehingga BUSN dan Joint Venture kurang mampu bersaing menghadapinya.

 

  1. Kenaikan sumber dana giro yang dialami oleh BUMN dan BPD juga terjadi karena mereka melakukan perbaikan komposisi asset dan liabilities pada neraca dengan cara repricing tingkat bunga dana pihak ketiga, yang berdampak pada penurunan dana pihak ketiga dan diimbangi dengan penjualan obligasi.

            Sedangkan beberapa penyebab turunnya simpanan giro masyarakat  atau sumber dana giro yang dialami oleh BUSN dan Joint Venture di antaranya :

  1. Penurunan total simpanan giro tidak hanya terjadi karena adanya perpindahan ke instrument lainnya tetapi terjadi karena adanya efek dari siklus akhir tahun. Siklus itu membuat perusahaan dan institusi lain memiliki kelebihan likuiditas yang ditempatkan di giro, sehingga giro akan bertambah pada awal tahun dan mengalami penurunan setelahnya.

 

  1. Pemberdayaan sumber daya manusia yang belum optimal sehingga nasabah tidak termotivasi untuk menjadi nasabah untuk menabung dalam bentuk giro.

 

  1. Terbatasnya material komunikasi atau sistem tekhnologi yang kurang memadai sehingga memperlambat waktu pelayanan terhadap produk giro.

 

  1. Perasaan aman dan nyaman nasabah kurang tercipta dengan baik dalam bentuk giro.

 

  1. Penurunan ini juga diakibatkan karena BUSN dan Joint Venture tidak dapat bertahan menghadapi inflasi terbesar semenjak pasca reformasi pada tahun 2005 yang diakibatkan oleh kenaikan harga-harga barang kebutuhan dan naiknya harga BBM.
  2. Penurunan suku bunga giro juga terjadi pada tahun 2011 karena dipengaruhi oleh berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh Bank Indonesia, termasuk penurunan BI Rate pada Oktober dan November 2011.

Terdapat beberapa faktor eksternal yang turut mempengaruhi kondisi perbankan Indonesia di antaranya ialah:

(a)   Faktor politik

Jika ditelaah dari kondisi politik, keadaannya cukup stabil walau masih banyak kasus penegakan hukum HAM dan korupsi yang belum terselesaikan. Dampak dari banyaknya bencana alam memperburuk anggaran pendapatan dan belanja negara.

(b)   Faktor ekonomi

Di ujung tahun 2007, ekonomi global diserang  oleh krisis subprime mortgage yang terjadi di Amerika sehingga menyebabkan banyak perusahaan-perusahaan yang pailit di Amerika. Kebijakan Bank Indonesia yang ketat tidak memperbolehkan ada bank dengan kredit dengan rating rendah seperti subprime mortgage, sehingga Indonesia tidak terkena dampak langsung. Akan tetapi, banyak aliran dana panas dari luar negeri yang keluar dan hal ini mendorong  tekanan pada bursa saham dan rupiah. Nilai rupiah pada  9 November 2007 mencapai Rp. 9.153,00 /dollar US pada. Harga minyak bumi yang mengalami kenaikan tinggi sampai U$100 per barrel disinyalir dapat menyebabkan terjadinya inflasi di tahun selanjutnya dan penurunan daya beli masyarakat menurun karena Indonesia bukanlah penghasil / pengekspor minyak bumi dengan kapasitas besar

(c)    Faktor  sosial budaya

Pertumbuhan ekonomi mendorong pergeseran trend pola transaksi perbankan, dari produk tradisional (simpanan, pinjaman, dan transaksi) menjadi produk finansial lainnya (investasi, asuransi), yang di kemudian hari trend ini akan berkembang ke produk-produk wealth management seperti konsultasi keuangan (financial advisory), dan perencanaan keuangan (financial planning). Berdasarkan survey NFO 2003, kecenderungan untuk menabung di bank masih besar karena karakter masyarakat cenderung lebih senang dengan investasi yang dapat diambil sewaktu-waktu, dan praktis.

(d)   Faktor perkembangan TI

Ketergantungan perbankan dengan TI terlihat dari penggunaan produk-produk pendukungnya seperti ATM, internet banking, mobile banking, dan lain- lain sehingga faktor TI tidak boleh diabaikan. Perencanaan TI yang baik akan mendukung kinerja dari perbankan. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa nvestasi di TI merupakan peluang, yang bila dikelola dengan baik perencanaan strategisnya dapat dioptimalkan manfaatnya dalam jangka pendek, menengah dan panjang.

 

Mengapa pada tahun 1990-1997 sumber dana giro pada BPD dan Joint Venture rata-rata mengalami stagnasi ?

Pada grafik di atas mulai dari tahun 1990 hingga tahun 1997 menunjukkan sumber dana giro pada BPD dan Joint Venture yang rata-rata mengalami stagnasi atau dapat dikatakan tidak naik ataupun turun dengan sangat curam. Memang terdapat kenaikan dan penurunan, tetapi tidak terlalu drastis. Mengenai hal itu dapat dianalisis berdasarkan situasi  pada tahun tersebut, situasi yang terjadi pada sekitar tahun 1990 hingga 1997 terjadi:

  1. Krisis
  2. Pemberian bantuan likuiditas oleh pemerintah

Pada tahun 1988 terjadi krisis yang mengakibatkan jatuhnya industri perbankan Indonesia.  Pada tahun 1990 hingga tahun 1997 jumlah bank–bank dan kantor cabang meningkat drastis, hal itu dikarenakan adanya Pakto 88, yang juga mengakibatkan terjadinya penurunan industri perbankan. Guna menarik investor asing agar menghasilkan bisnis yang menguntungkan, maka pemerintah pun mengijinkan pendirian Joint Venture. Dengan di adakannya kebijakan baru perbankanpun dapat tumbuh dengan baik di tengah gejolak krisis. Hal itu dapat dilihat dari jumlah bank komersial lokal meningkat dari 63 tahun 1988 menjadi 144 tahun 1997, Jumlah kantor cabang naik dari 559 tahun 1988 menjadi 4.150 tahun 1997, Jumlah bank asing, termasuk bank Joint Venture, tumbuh dari 11 tahun 1988 menjadi 44 tahun 1997, dengan jumlah kantor cabang meningkat dari 21 menjadi 90 di tahun yang sama. Bank Pemerintah meningkat dari 815 tahun 1988 menjadi 1,527. Tahun 1997 BPD pun banyak didirikan sebagai bagian dari kelompok perusahaan lokal. Selain di tunjang oleh Joint Venture, pemerintah pun turut serta dalam membantu memberikan bantuan likuiditas sehingga menstabilkan industri perbankan. Walaupun terdapat cukup banyak nasabah yang menarik uangnya dari bank yang pada akhirnya sumber dana giro pada BPD dan Joint Venture menjadi stabil.

 

Referensi :

http://www.bi.go.id

 

Oleh:

Candy Gloria 2121 0516

Febriana Puspita Sari 2221 0688

Muthiya Gabriela Malawat 2421 0878

 

SYARIAH Se-booming Syahrini

Posted On April 13, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Image

Dewasa ini sedang booming-boomingnya tentang seleb wanita yang cantik jelita bin berbakat ini, ya pokoknya sangat fenomenal deh di industri hiburan tanah air. Begitu juga dengan industri perbankan tanah air yang juga tengah booming soal Bank Syariah. Mulai dari produknya, konsepnya yang tanpa riba, keunggulan-keunggulannya, dan sebagainya. Di sini saya mencoba menuangkan kembali informasi yang saya baca dari hasil browsing ke mana-mana sampai melalang buana ke situs BI. Oke, enjoy it !

***************************************************************************************************************************************

Image

PERKEMBANGAN dan KONDISI TERKINI

Tahun 2012 yang baru saja dimulai ini bisa dibilang cukup ada dalam kondisi yang “aman” tercermin dari pertumbuhan Indonesia terutama industri perbankan yang cukup kuat dan positif di tengah ombak penurunan ekonomi dunia. Oleh karena kondisi makro ekonomi yang relatif stabil, keadaan industri perbankan pun mengalami peningkatan dalam pengembangannya. Setelah dirating, hasil dari Islamic Finance Country Index menyatakan bahwa industri perbankan syariah Indonesia masuk di urutan ke-empat di bawah Iran, Arab Saudi, dan Malaysia yang notabene-nya selalu jadi peran utama keuangan syariah global. What an amazing news !

 

Angka rata-rata pun yang cukup luar biasa perihal pertumbuhan aset perbankan syariah selama lima tahun belakangan yang naik ke posisi 40% sementara pertumbuhan perbankan konvensional hanya berada di titik 20%. Ditinjau dari segi aset, total aset perbankan syariah sebesar Rp 125,5 triliun, naik dari 2010 yang hanya sekitar Rp 97,5 triliun (berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia, Oktober 2011).

 

AKANKAH KRISIS MENERJANG ?

Krisis yang terjadi negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa disinyalir memang akan memberi kontribusi terhadap perbankan Indonesia, baik langsung atau tidak. Kenapa bisa begitu? Simpel saja, jawabannya karena mayoritas sistem keuangan Indonesia perbankan. Untungnya di tengah-tengah kegalauan ekonomi yang terjadi itu tidak berdampak langsung ke Indonesia karena eksposur luar negeri hanya sekitar Rp100 triliun (sekitar 3% dari aset perbankan nasional) begitupun juga terhadap perbankan Syariah yang minim terkena dampak karena portfolio pembiayaannya hanya Rp92.8 triliun (September 2011) dan nyaris semua pembiayaannya ada usaha di sektor riil domestik, bukan luar negeri. Penggunaan dana nasabah dengan distribusi kredit ke sektor usaha produktif juga ikut serta dalam mendukung kekuatan kondisi perbankan.

 

Kabar gembira berikutnya adalah sekarang Indonesia berada di posisi “investment grade” dari BB+ menjadi BBB yang didapat dari International Credit Rating. Setidaknya, posisi credit rating Indonesia bisa disejajarkan dengan negara maju yang diterpa badai krisis. Hal yang luar biasa, karena saat negara maju sedang collapse, Indonesia malah bisa survive. Harapannya adalah kemampuan Indonesia untuk survive ini akan menarik minat inestasi dari investor asing di industri perbankan.

 

UDEK-UDEK DATA BPS

  1. Isi Kantong Syariah-Sumber Dana

Image

Bicara soal dana, Bank Syariah ini juga tergolong cukup hebat, padahal belum lama juga dilaunching dan langsung booming. Pendanaan dari nasabah yang cukup besar menjadikannya kuat untuk menahan gejolak ekonomi yang membuat negara-negara besar saja collapse, tapi karena nyaris semua pembiayaannya ada usaha di sektor riil domestik, bukan luar negeri. Memang dengan diagram kue pie seperti ini kita akan lebih mudah untuk melihat hasilnya. Di bagian yang berwarna ungu sebesar 87,4% dana yang dimiliki oleh bank syariah berasal dari pihak ketiga (nasabah), sedangkan dana-dana lainnya seperti modal, pinjaman, surat berharga, dan kewajiban hanya menjadi minoritas yang bisa dikatakan tidak signifikan. Fenomena ini cukup luar biasa karena dapat memback up industri perbankan di Indonesia ini.

  1. Harta Karun Syariah-Total Aset

Image

Berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia bulan Desember 2011, total aset perbankan syariah sebesar Rp 140,0 triliun, naik dari November 2011 yang hanya sekitar Rp 125,0 triliun. Konsep perlahan namun pasti sepertinya dianut oleh Perbankan Syariah Indonesia. Tercermin dalam grafik bahwa dari masa ke masa peningkatan terus terjadi walaupun hanya merayap, tapi seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa selama 5 tahun belakangan ini pertumbuhannya menembus angka 40% per tahun. Lain lagi dengan  dana pihak ketiga dan pembiayaan yang diberikan masing-masing mencapai Rp 115 triliun dan Rp 100 triliun dengan tingkat financing to deposit rasio (FDR). Jumlah pemain perbankan syariah tidak bertambah satu tahun terakhir ini baik dari jumlah Bank Umum Syariah (BUS), yaitu 11 BUS dan Unit Usaha Syariah (UUS), yaitu 23 UUS.

 

KEJAR TARGET SYARIAH 2012

Niat BI seputar peningkatan laju Bank Syariah begitu gencar dan sigap. Di awal tahun 2012 ini saja BI tengan menyiapkan strategi-strategi yang unik sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan kinerja Perbankan Syariah dan menembus 4% total aset perbankan nasional. Ada beberapa strategi yang dirancangkan oleh BI untuk kejar target yang tak lain ditujukan untuk mencapai level pertumbuhan di atas 50% dan bisa mendapatkan 4% market share nasional. Saat diwawancara oleh ANTARA (Bandung), Halim Alamsyah selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa saat ini aset perbankan syariah di Indonesia ada di posisi 130 triliun (3,78% dari total aset perbankan nasional) dengan total pertumbuhan aset 48% dibanding 2010 lalu.

 

Di awal 2012 ini, kinerja perbankan syariah akan bergerak semakin naik karena terdapat 3 Bank Syariah baru, seperti BCA Syariah, Panin Syariah dan Bank Victoria. Sang nara sumber, Bandung Lucky Fathul Azis selaku Pimpinan Kantor Bank Indonesia (KPI) mendeskripsikan bahwa daerah Jawa barat seperti Bandung, pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 44,545 persen dengan total aset saat ini sebesar Rp14,8 triliun. Proporsi perbankan syariah Jabar saat ini sudah mencapai 5,2 persen dari total aset perbankan se-Jabar. Hal ini memberikan angin segar bahwa pertumbuhan perbankan syariah di Jabar optimistis naik pada 2012. Hal menarik berikutny yang ada di Jabar adalah dibentuknya “Sharia Center” Jabar sebagai tempat sosialisasi, pembelajaran, dan penelitian tentang ekonomi dan perbankan syariah.

 

REFERENSI

http://forumriset.iaei-pusat.org/foto_berita/77logobi.jpg

http://id.berita.yahoo.com/bi-siapkan-strategi-perbankan-syariah-untuk-2012-082012578.html

http://koran.republika.co.id/koran/24/151317/Proyeksi_Perbankan_Syariah_2012

http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Syariah/

http://www.msyamsu.com/wp-content/uploads/2011/03/syareah.jpg

http://www.paseban.com/image/public/news/8e1dfea6abcfebcf85e977dad80b690c81590e25b089fd0cfd27088897e7dc4b.jpg

http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/3141-outlook-perbankan-syariah-2012.html

http://zonaekis.com/proyeksi-perbankan-syariah-2012/

http://1.bp.blogspot.com/_17jBU3LsMIQ/SRP65JTkcI/AAAAAAAAAO8/Owqow9UmzgQ/s1600/1246383585.jpg

Talk About Syariah Improvement_

Posted On April 13, 2012

Filed under Uncategorized

Comments Dropped leave a response

Image

Saat ini lagi booming-boomingnya nih tentang Bank Syariah. Mulai dari Booming tentang produknya yang diasaskan tanpa riba, sampe data statistik yang menunjukkan perkembangan pesat bin mantap si Bank yang satu ini. Di tulisan saya ini, Bank Syariah jadi topiknya lagi. Just want to share seputar bacaan yang didapet dari browsing kemana-mana n wara-wiri di situs BI. Oke deh, langsung aja yuk…
Let’s talk about it, ^^
***************************************************************************************************************************************

 

KEJAR TARGET SYARIAH 2012

Niat BI seputar peningkatan laju Bank Syariah begitu gencar dan sigap. Di awal tahun 2012 ini saja BI tengan menyiapkan strategi-strategi yang unik sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan kinerja Perbankan Syariah dan menembus 4% total aset perbankan nasional. Ada beberapa strategi yang dirancangkan oleh BI untuk kejar target yang tak lain ditujukan untuk mencapai level pertumbuhan di atas 50% dan bisa mendapatkan 4% market share nasional. Saat diwawancara oleh ANTARA (Bandung), Halim Alamsyah selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa saat ini aset perbankan syariah di Indonesia ada di posisi 130 triliun (3,78% dari total aset perbankan nasional) dengan total pertumbuhan aset 48% dibanding 2010 lalu.

 

Di awal 2012 ini, kinerja perbankan syariah akan bergerak semakin naik karena terdapat 3 Bank Syariah baru, seperti BCA Syariah, Panin Syariah dan Bank Victoria. Sang nara sumber, Bandung Lucky Fathul Azis selaku Pimpinan Kantor Bank Indonesia (KPI) mendeskripsikan bahwa daerah Jawa barat seperti Bandung, pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 44,545 persen dengan total aset saat ini sebesar Rp14,8 triliun. Proporsi perbankan syariah Jabar saat ini sudah mencapai 5,2 persen dari total aset perbankan se-Jabar. Hal ini memberikan angin segar bahwa pertumbuhan perbankan syariah di Jabar optimistis naik pada 2012. Hal menarik berikutny yang ada di Jabar adalah dibentuknya “Sharia Center” Jabar sebagai tempat sosialisasi, pembelajaran, dan penelitian tentang ekonomi dan perbankan syariah.

REFERENSI

http://bangka.tribunnews.com/2012/01/16/usaha-perbankan-syariah-dikenakan-pajak-penghasilan

http://forumriset.iaei-pusat.org/foto_berita/77logobi.jpg

http://id.berita.yahoo.com/bi-siapkan-strategi-perbankan-syariah-untuk-2012-082012578.html

http://koran.republika.co.id/koran/24/151317/Proyeksi_Perbankan_Syariah_2012

http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Syariah/

http://www.msyamsu.com/wp-content/uploads/2011/03/syareah.jpg

http://www.paseban.com/image/public/news/8e1dfea6abcfebcf85e977dad80b690c81590e25b089fd0cfd27088897e7dc4b.jpg

http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/3141-outlook-perbankan-syariah-2012.html

http://zonaekis.com/proyeksi-perbankan-syariah-2012/

http://1.bp.blogspot.com/_17jBU3LsMIQ/SRP65JTkcI/AAAAAAAAAO8/Owqow9UmzgQ/s1600/1246383585.jpg

 

 

…Lebih Global, Lebih Mendasar… [O][B][R][O][L][A][N] [T][E][N][T][A][N][G] [B][A][N][K]

Posted On March 29, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Di bumi ini yang katanya sempit, siapa sih yang belum tahu tentang Bank? Atau belum pernah ke Bank mungkin?

Waahh..pastinya semuanya kenal sama yang namanya “Bank”. Mulai dari kecil pasti sudah diajak sang bunda nabung ke Bank, atau pas jadi mahasiswa dan mau bayaran uang kuliah, pasti mesti kudu masuk ke Bank dan administrasi keuangannya diurus di lembaga yang satu ini. Tapi, apakah kita sudah kenal lebih dekat lagi tentang si Bank? Kenalan lebih lagi yuk.. Itung-itung silahturahmi deh..

Come on, guys !

***************************************************************************************************************************

  • PENGERTIAN

Seturut dengan Kitab Suci Perbankan alias Undang-Undang perbankan No.10 tahun 1998, bank adalah:

“badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman (kredit) atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”

Jadi, singkatnya perbankan itu adalah segala sesuatu tentang bank, mulai dari kelembagaan, aktivitas/usaha, dan cara/proses dalam pelaksanaan kegiatan usahanya.

  • FUNGSI

Perbankan Indonesia memiliki fungsi utama, yaitu sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat. Secara umum dikenal dengan konsep “tangan kanan-tangan kiri”. Maksudnya adalah tangan kanan bank mendapat dana dari himpunan masyarakat yang nabung selanjutnya disalurkan lagi oleh bank ke masyarakat dengan tangan kirinya. Timbal baliknya sama-sama disebut bunga. Perbedaannya cuma yang yang satu adalah bunga tabungan (Bank yang memberikan ke nasabah) dan bunga pinjaman (Nasabah yang harus membayarkannya ke pihak Bank).

Inti dari keseluruhan fungsi Bank adalah bagaimana caranya untuk memperoleh sumber dana dari surplus unit (pihak yang menabung di Bank) yang kemudian akan dialokasikan lagi ke defisit unit (pihak yang membutuhkan kucuran dana pinjaman). Aktivitas ini juga menjadi jantung perbankan yang disebut Asset and Liability Management. Oleh karena itu, Bank sering juga dikenal dengan sebutan financial intermediary (perantara keuangan).

  • JENIS

Berbicara tentang jenisnya, Bank terbagi atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Penjelasannya digambarkan di tabel ini:

Bank Umum

Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Bank yang kegiatan dan aktivitas usahanya secara konvensional atau dengan prinsip syariah dan memberikan layanan untuk lalu lintas pembayaran.

Bank ini harus memiliki modal minimal 100 miliar sebelum 2010 akhir.

Bank yang kegiatan dan aktivitas usahanya secara konvensional atau dengan prinsip syariah tapi tidak memberikan layanan untuk lalu lintas pembayaran.

 

  • SUMBER DANA BANK

Bank memperoleh dana dari tabungan masyarakat yang disimpan dalam ebberapa bentuk. Dana simpanan ini menjadi sumber dana terbesar yang dimiliki Bank untuk melakukan aktivitas keuangannya. Tabungan nasabah tersebut terbagi atas:

Giro

Simpanan yang bisa ditarik kapan saja dengan cek, bilyet giro, atau dengan validasi (pemindahbukuan).

Deposito

Simpanan yang bisa ditarik pada satu waktu tertentu jika telah ada perjanjian antara nasabah penyimpan dengan pihak Bank.

Sertifikat Deposito

Simpanan deposito dengan bukti sertifikat yang bisa dipindahtangankan.

Tabungan

Simpanan yang bisa ditarik dengan kesepakatan saja, tidak dapat ditarik dengan cek dan bilyet giro.

Selain dari himpunan dana masyarakat tersebut Bank juga dapat memperoleh dana dari aktivitas perdagangan surat berharga, seperti yang ada di pasar modal dan pasar uang.

 

  • ALOKASI DANA BANK

Kembali lagi ke Kitab Suci Perbankan, menurut Peraturan Bank Indonesia No: 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, yang dimaksud dengan aktiva produktif adalah penyediaan dana Bank untuk memperoleh penghasilan dalam bentk kredit, surat berharga,, penempatan dana antar Bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan perjanjian dijual kembali, tagihan derivatif, penyertaan, transaksi rekening administrasi dan penyediaan dana lainnya. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No: 7/2/PBI/2005, Aktiva produktif dikelompokan menjadi empat, yaitu:

  1. Kredit: penyediaan uang atas dasar kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain dan melunasi pinjamannya sampai kurun waktu tertentu dengan pembayaran bunga.
  2. Surat berharga : Surat pengakuan atas hutang, wesel, obligasi, sekuritas kredit, derivatif, dan kewajiban penerbit yang bisa diperdagangkan dalam pasar modal atau pasar uang.
  3. Penempatan dana : penanaman dana Bank pada bank lainnya, biasa dalam bentuk giro, depostio berjangka, sertifikat deposito, dan sebagainya.
  4. Penyertaan modal : penanaman dana Bank dalam saham seperti dalam Undang-undang yang berlaku seperti perusahaan asuransi, modal ventura, penanaman dalam bentuk surat konvertibel.

 

  • PRODUK PERBANKAN

Bagi individu atau kelompok, Bank merupakan cash management untuk mengelola keuangannya. Oleh karena itu, Bank meluncurkan beberapa produk yang dapat digunakan untuk memberikan jasa pengiriman uang lokal, nasional, dan internasional. Bank juga memperoleh komis (fee) dari tiap-tiap layanan tersebut, tapi tidak sitentukan oleh tingkat suku bunga atau sering disebut dengan fee based income. Berikut adalah contoh dari produk layanan Bank:

Layanan e-banking

Automated teller Machine (ATM)

Di Indonesia dikenal dengan Anjungan Tunai Mandiri. Mesin ini berbentuk seperti komputer yang bisa digunakan untuk melakukan penarikan tunai, transfer, penyetoran, dan cek saldo. Mesin ini disediakan oleh Bank.

Computer Banking

Nasabah bisa mengakses layanan ini lewat koneksi internet untuk menerima atau membayar tagihan.

Electronic Bill Presentment & Payment (EBPP)

Pembayaran tagihan yang disampaikan Bank ke nasabah melalui media online seperti e-mail. Nasabah juga bisa melakukan pembayran atas tagihannya via online.

Electronic Check Conversion

Mendukung proses transfer online untuk konversi info yang ada di cek, seperti no.rekening, jumlah nominal, dan sebagainya.

Electronic Fund Transfer

Layanan transfer uang atau pinjaman dari satu rekening ke rekening lainnya dengan media elektronik.

Direct Payment

Pembayaran yang memungkinkan nasabah untuk membayar via transfer dana elektronik dari nasabah ke kreditor. Nasabah harus menginisiasi tiap transaksi.

Direct Deposit

Pembayaran suatu intituisi seperti membayar gaji karyawan via transfer elektronik ke rekening nasabah.

Preauthirized Debit

Pembayarannya akan rutin secara otomatis, sehingga Bank langsung akan mendebit sejumlah uang dari rekening nasabah.

Debit Card

Kartu yang digunakan di mesin ATM dan dapat digunakan nasabah untuk mendebit dana dari rekeningnya.

Payroll Card

Kartu pengganti cek yang biasa dimiliki oleh perusahaan yang dpaat juga digunakan oleh si karyawan.

Prepaid Card

Kartu yang memiliki nilai moneter karena sudah ditanamkan dana oleh nasabah, contoh kartu flash.

Smart Card

Kartu dengan chips khusus yang tertanam nilai moneter di dalamnya. Dapat menyimpn data pribadi, validasi PIN, contohnya kartu CoMet (e-ticketing kereta listrik).

Store-value Card

Kartu dengan simpanan sejumlah nilai moneter yang terbagi atas single purpose (kartu telpon), limited purpose, dan multipurpose (MasterCard, Visa).

Itulah cerita dan obrolan tentang Bank. Semoga Bank-Bank di Indonesia dapat memberikan pelayanan dengan lebih baik  sehingga masyarakat lebih tertarik lagi untuk menabung seperti syair lagu “… bang bing bung, yok kita menabung.. tahu-tahu kita pasti dapet untung..” Tingkatkan terus saldo tabungan anda !

 

By      : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

 

REFERENSI:

Margianti, E S; Hermana, Budi. Manajemen Dana Bank Prinsip dan regulasi di Indonesia/Sumber Penggunaan Dana Bank

…Do you want to know more?… [B][A][N][K] [S][Y][A][R][I][A][H]

Posted On March 29, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Di sini saya membahas tentang “Bank Syariah”, hal-hal unik seputar dirinya. Eitss, tunggu dulu.. Bank di sini tuh maksudnya Bank Lembaga Keuangan itu lho, bukan Bang Samiun si tukang siomay, Bang Jaja tukang sate, atau Bang kumis spesialis sop kambing. Bagi yang tertarik baca-baca tentang bank syariah ini langsung saja deh baca-baca halaman ini. Sekedar info, saya nulis ini dari hasil baca dan merangkum beberapa sumber, ada yang dari buku dan browsing juga. Oke, Met baca !
Be ready and just stay on this page.. Get Closer !

Come on, guys !

**************************************************************************************************************************************

  • CERITA TENTANG BANK SYARIAH

Bank syariah memiliki sistem operasi di mana pemilik dana menanamkan uangnya di bank tanpa bermotif untuk mendapatbunga, tapi mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha) dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Dewasa ini, jumlah total perbankan syariah mencapai 90,4 triliun rupiah menurut hasil statistik yang dilakukan oleh BPS November 2010 lalu. Perbankan syariah ini terdiri atas 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah, dan 149 BPR syariah. Namun, jika dibandingkan dengan Bank umum, dari segi aset Bank syariah masih tertinggal jauh. Bayangkan saja, aset bank umum sudah mencapai 2.856.274 miliar rupiah.

Bank Indonesia menyebutkan bahwa perbankan syariah di Indonesia dalam pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia berada di lingkaran kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam API (Arsitektur Perbankan Indonesia) dengan harapan mampu memberikan alternatif jasa perbankan yang semakin baik. Keduanya, perbankan syariah dan perbankan konvensional ditujukan saling bersinergi untuk mendukung mobilisasi dana masyarakat dan pembiayaan di sektor ekonomi.

Sebenarnya, prinsip kerja Bank syariah beroperasi atas dasar bagi hasil yang menguntungkan nasabah dan Bank. Aspek keadilan dalam bertransaksi, kesantunan/etika berinvestasi, nilai-nilai kebersamaan juga diperlihatkan di sini, dan motif speku;latif juga berusahan untuk dihindari. Terbitnya kitab Suci alias Undang-Undang No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah tertanggal 16 Juli 2008 semakin mendukung pertumbuhan bank ini sehingga peranan dalam mendukung perekonomian Indonesia juga semakin signifikan.

  • PENGERTIAN, PRINSIP, FUNGSI

Prinsip syariah adalah hukum Islam (perbankan) dalam fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang. Jadi, prinsip syariah dalam Bank itu sendiri merupakan perjanjian yang tentu saja atas dasar hukum islam (berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.) antara Bank dengan pihak lain untuk kegiatan keuangan. Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga.

Tujuan dari Bank syariah itu sendiri adalah untuk menunjang pembangunan nasional yang diharapkan mampu meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Dana di Bank syariah itu sendiri dihimpun darti wakaf uang yang selanjutnya dialokasikan kembali ke pengelola wakaf (nazhir) dengan izin dari pemberi wakaf (wakif). Konsep financial intermediary juga berlaku dalam Bank syariah, tapi sumber karakteristik pengumpulan dana dan pengalokasiannya berbeda dengan Bank konvensional.

Bank Syariah

Bank Konvensional

Melakukan investasi-investasi yang halal saja.

Investasi yang halal dan haram.

Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa.

Memakai perangkat bunga.

Berorientasi pada keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran dan kebahagian dunia akhirat.

Berorientasi pada keuntungan semata (Profit oriented).

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan.

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur.

Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.

Tidak terdapat dewan sejenis.

 

Pada prinsipnya, dalam menjalankan kegiatannya Bank syariah harus berlandaskan pada syariat Islam, seperti :

1. Prinsip Simpanan (Al-Wadiah)

Dianggap sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain yang harus dijaga dan dikembalikan sewaktu-waktu jika si penitip menghendaki (Syafi’I Antonio, 2001). Al-wadiah terdiri atas Wadiah Yad Al-Amanah (Trustee Depository) dan Wadiah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository).

2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)

Tatacara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.

3. Prinsip Jual-Beli (Al-Tijarah)

Tata cara jual beli, Bank akan membeli barang yang dibutuhkan duluan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank untuk melakukan pembelian barang atas nama bank, selanjutnya bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli yang ditambah dengan keuntungan.

4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah)

Akad pemindahan hak guna atas barang/ jasa lewat pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri. Ada dua jenis Al-ijarah, yaitu Ijarah (sewa murni) dan ijarah al muntahiya bit tamlik (gabungan sewa-beli, penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa).

5. Prinsip Jasa (Fee-Based Service)

Meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank.

 

  • KARAKTERISTIK

Sebagaimana Bank pada umumnya, Bank syariah juga memiliki karakteristik yang menjadi ciri khasnya. Karakteristiknya adalah:

• 4 Asas utama : kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal,

• Dilarang keras untuk memungut riba,

• Tidak menganut konsep time-value of money,

• Uang sebagai alat tukar, bukan komoditas,

• Tidak boleh bermotif spekulatif,

• Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang,

• Dalam satu akad tidak diperbolehkan menjalani dua transaksi,

• Konsep bagi hasil (profit sharing),

• Tidak membedakan secara tegas antara sektor moneter dan riil,

• Memperoleh imbalan atas jasa perbankan lain selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah, dan

• Syarat transaksi harus sesuai dengan prinsip syariah, yaitu tidak mengandung unsur kedzoliman, bukan riba, tidak membahayakan pihak sendiri dan orang lain, tidak ada unsur penipuan, tidak mengandung materi yang diharamkan, serta tidak mengandung unsur judi.

 

  • SUMBER DANA

Simpanan merupakan kepercayaan nasabah dalam memberikan dananya untuk disimpan dan dikelola oleh pihak Bank atas dasar prinsip syariah dan tentunya dengan nama yang berbeda dengan yang ada di Bank konvensional, seperti:

Giro

Wadi’ah yad dhamanah

Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lain atau dengan pemindahbukuan.

Tabungan

Wadi’ah yad dhamanah dan mudharabah

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang telah disepakati, dan tidak dapat ditarik dengan cek.

Deposito

Mudharabah (investasi)

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dan bank yang bersangkutan.

Simpanan khusus

Mudharabah Muqayyadah

 

 

  • ALOKASI DANA

Seperti halnya aktiva produktif dalam Bank konvensional, Bank syariah juga memiliki aktiva produktif (syariah), yaitu penanaman dana Bank syariah dalam rupaih atau valuta asing baik dalam bentuk piutang, qardh, surat berharga syariah, penempatan, penyertaan modal, dan kontijensi administrasi. Berikut adalah tabel dari konsep-konsep penyaliran dana Bank syariah:

Mudharabah

Perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana pihak pertama menyediakan dana, dan pihak kedua bertanggung jawab atas pengelolaan usaha. Hasil usaha dibagikan sesuai nisbah yang disepakati bersama secara awal. Prinsip ini dikenal sebagai “qiradh” atau “muqaradah”.

Musyarakah

Perjanjian di antara pemilik dana untuk menggabungkan dana mereka dalam suatu usaha dengan pembagian keuntungan yang telah disepakati.

Murabahah

Penjualan barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan barang tersebut kepada pembeli.

Salam

Akad jual-beli muslam fiih (barang pesanan) dengan pengiriman di kemudian hari oleh muslam illaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Istishna

Akad jual-beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’).

Ijarah

Perjanjian sewa terhadapa suatu barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa.

Qardh

Penyediaan dana terhadap pihak peminjam untuk melakukan pembayaran sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

Surat berharga syariah

Surat bukti dari investasi atas dsar syariah yang boleh diperjualbelikan di pasar uang atau pasar modal, seperti obligasi, wesel, dan surat berharga lain.

Penempatan

Penanaman dana Bank syariah pada bank syariah lainnya atau pada BPR syariah dalam bentuk giro/tabungan wadiah, deposito berjangka, dan sebagainya.

 

By      : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

 

REFERENSI:

Margianti, E S; Hermana, Budi. Manajemen Dana Bank Prinsip dan regulasi di Indonesia/manajemen Dana Bank Syariah.

http://zonaekis.com/perkembangan-akuntansi-bank-syariah/

…Berbagi Cerita yuk tentang… [S][H][A][D][O][W] [B][A][N][K][I][N][G]

Posted On March 28, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Siapa sih “Shadow Banking”? Makluk kaya apa sih? Bentuknya gimana? Emangnya “Shadow Banking” ngapain aja kerjanya? Bla..bla..bla..
Let’s check it out here.. ^^
****************************************************************************************************************************************

“Shadow Banking” merupakan lembaga keuangan non-bank, memang bergerak di bidang keuangan, tapi dia bukan Bank. Akan tetapi, lembaga ini memiliki layanan untuk pinjaman kredit, melalui produk angsuran. Konsepnya, walaupun mirip Bank, tapi ini tetap saja bukan Bank. Ya, seperti pernyataan “serupa tapi tak sama”. Di Indonesia sendiri, lembaga “Shadow Banking” ini sudah menyebarluas, melanglang buana kemana-mana, mulai dari Sabang sampai Merauke. Di perkotaan besar, di Kabupaten pasti tetap ada beberapa “Shadow Banking” yang buka tenda dan menjadi langganan masyarakat yang umumnya menengah ke bawah. Jadi, bisa dikatakan popularitas si lembaga keuangan non-bank ini benar-benar sedang tenar di kalangan masyarakat. Kenapa? Soalnya lembaga ini memberikan layanan kredit dengan syarat relatif mudah bagi langganannya yaitu masyarakat menengah ke bawah.

Tapi, di tengah ketenarannya itu, berbagai pihak tengah menggodok persoalan undang-undang dan prinsip regulasi menyangkut “shadow banking” ini. Kenapa bisa begitu? Timbulah pertanyaan, kenapa “shadow banking” ini perlu diperketat. Sebenarnya, dampak penetrasi “shadow banking” terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia itulah yang dikhawatirkan oleh pihak BI, seperti yang disampaikan oleh Darmin Nasution, selaku Gubernur BI. Seperti yang kita ketahui, “shadow banking” memicu pesatnya kredit otomotif yang disalurkan perusahaan pembiayaan dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Beliau juga menambahkan, kalau pengetatan aturan seputar si “shadow banking” ini akan membantu mengurangi resiko sistemik terhadap sektor keuangan.

Di samping itu, menurut Purbaya Yudhi Sadewa selaku Kepala Danareksa Research Institute, alasan BI lebih konsen saat ini ke “shadow banking” gara-gara adanya praktik yang mengganggu karena banyak perusahaan yang memanfaatkan loop hole transaksi keuangan mentang-mentang tidak diawasi oleh bank sentral. Penjelasannya sederhana, BI berniat agar “shadow banking” meningkatkan syarat uang muka untuk perkreditan otomotif (seperti sepeda motor) karena, jika uang muka terlalu rendah akan berpotensi menyebabkan kredit macet dengan dampak mengganggu kinerja perbankan.

Kalau dari sisi perbankan, ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa pengaturan yang terlalu ketat terhadap lembaga keuangan nonbank dapat mengganggu kinerja mitra perbankan, seperti koperasi atau LKM lain karena kembali lagi Bank juga tidak bisa bekerja sendiri menjalankan fungsi intermediasi. Jadi, Bank juga butuh mitra kerja untuk bantu-bantu dan selama ini mereka memang sudah menjadi kepanjangan tangan perbankan, seperti koperasi simpan pinjam dan LKM memiliki tugas untuk menjangkau debitur yang unik karena sudah duluan kenal dengan si calon debitur yang akan mendapat pembiayaan. Maka dari itu menurut Tri Joko Prihanto selaku Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk. regulator perlu hati-hati juga saat menyikapi “shadow banking”.

Memang untuk mengatur dan mengawasi “shadow banking” ini, Bank sentral butuh koordinasi dengan pemerintah karena penetrasinya dapat mengakibatkan krisis keuangan. Dewasa ini, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan alias Bapepam-LK berperan penting dalam mengatur “shadow banking” agar tidak menimbulkan masalah. Menurut Kemal Azis Stamboel, Anggota Komisi XI DPR, tantangan dan rintangan pun dihadapi OJK karena industri jasa keuangan yang semakin membumi, lahirnya produk dan jasa keuangan yang makin kompleks, dan sukar dimengerti oleh publik. Harapan Kemal pada Pemerintah dan DPR ke depannya adalah praktik-praktik “shadow banking” lembaga keuangan mikro, sesegera mungkin untuk menyelesaikan pembahasan RUU Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang masih digodok itu.

Supervisi dan regulasi terhadap LKM, seperti Koperasi, Baitul Mal wa Tamwil, Badan Kredit Desa, dan LKM lain juga harus perlu dilakukan. Kenapa? Ya, tentu saja karena terdapat penghimpunan dana dari masyarakat kecil. Menurut Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, Seperti kita lihat, banyak terdapat LKM di pasaran yang tengah mengumpulkan dana dari rakyat sehingga lembaga-lembaga ini harus menjalankan usahanya sebaik mungkin, hati-hati, tertib dan bertanggungjawab pastinya. LKM diharapkan dapat melindungi dan memberikan manfaat yang optimal bagi rakyat. Well, semoga saja, harapan-harapan dari para ekonom di bidang perbankan dan keuangan ini dapat tercapai untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

By : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

REFERENSI:
http://www.medanbisnisdaily.com/Menkeu Perketat Shadow Banking 2.htm
http://www.kontan.co.id/PENGETATAN SHADOW BANKING/Siap-siap beleid anyar shadow banking.htm/
http://www.investor.co.id/ DPRDukungPengetatanRegulasiShadowBanking.htm

PROPOSAL JURNAL

Posted On March 6, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

PROPOSAL

TEORI EKONOMI II

Mengacu pada Jurnal:

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

dan

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                              2121 0516

FEBRIANA PUSPITA SARI                              2221 0688

MCHAEL ALEXANDER                                  2421 0380

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

PROPOSAL JURNAL

 

I

Judul Jurnal

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

dan

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

II

Latar Belakang Perdagangan pada dasarnya adalah suatu kegiatan inti yang secara sadar maupun tidak, telah membentuk berbagai perubahan di era ini. Telah diketahui bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan selalu terjadi. Ketika perubahan tersebut terjadi, kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks. Banyak dari mereka melakukan penelitian dan menyelidiki segala hal tentang produk yang ingin mereka beli, yang menyebabkan tingkat persaingan semakin tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, ada baiknya jika negara-negara yang memproduksi suatu barang memperhatikan kebutuhan konsumen secara spesifik dan melakukan yang terbaik demi konsumen dan kelangsungan hidup dari negara produsen itu sendiri.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, tingkat persaingan yang tinggi yang terjadi akhirnya mengharuskan produsen juga melihat comparative dan competitive advantage yang mereka miliki. Dengan memiliki comparative dan competitive advantage yang memadai, produsen dapat memenangkan pasar dan menjual lebih banyak dibandingkan produsen lainnya. Dari hal ini, maka produsen dapat meraih profit lebih tinggi secara material.

Di dalam makalah ini, kami akan membahas dan menjabarkan bagaimana dampak berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar yang akan mempengaruhi persaingan suatu produk di pasar internasional. Di sini kami menggunakan produk meubel dari negara Cina dan produk-produk dari sektor pertanian, seperti buah dan sayuran dari negara Tunisia.

III

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan sumber jurnal yang kami gunakan sebagai acuan maka berikut adalah masalah yang terjadi di Cina dan Tunisia:

  1. 1.      Bagaimana sumber daya alam (tanah) di Tunisia dapat mempengaruhi produksi komoditas pertaniannya?
  2. 2.      Bagaimana efisiensi dapat membantu suatu negara memenangkan persaingan di pasar internasional (global market)?
  3. 3.      Mengapa tingkat ekspor komoditas tertentu di negara Tunisia cenderung kurang baik, sedangkan untuk komoditas minyak zaitun baik?
  4. 4.      Apakah kekurangan dari teknologi dan inovasi di Cina yang menjadi penghambat di pasar Internasional?
  5. 5.      Apakah upaya yang dapat dilakukan Cina agar tidak terlalu terpaku dengan harga dan lebih memperhatikan kualitas?
  6. 6.      Mengapa tingkat persaingan di pasar internasional selalu berubah dari waktu ke waktu?
  7. 7.      Apakah strategi yang dapat membantu suatu negara di dalam bidang ekspor – impor?

IV

Batasan Masalah Oleh karena cakupan masalah yang terjadi di pasar internasional sangat luas dan kompleks maka penelitian ini akan memusatkan perhatiannya untuk membahas hasil-hasil sebelumnya, comparative dan competitive advantage, serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat persaingan internasional, seperti efisiensi produksi.

V

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek penting yang mempengaruhi perdagangan suatu negara di kancah internasional, seperti yang dilakukan oleh dua negara ini yaitu Cina dan Tunisia. Kedua negara tersebut dapat berhasil dalam menembus pasar internasional (global market) karena telah berhasil melakukan efisiensi produksi.

 

Efisiensi ini dapat ditingkatkan, dengan cara menurunkan biaya total saat melakukan proses produksi. Secara spesifik, penelitian ini berusaha untuk mencari informasi tentang:

 

  1. 1.      Struktur biaya dari sektor pertanian di Tunisia
  2. 2.      Nilai domestic resource cost (DRC) dan pengaruhnya terhadap produk pertanian di Tunisia.
  3. 3.      Comparative dan competitive advantage terhadap produk buah dan sayuran di Tunisia, juga  terhadap produk meubel kayu di Cina.
  4. 4.      Tingkat persaingan dan kompetisi Tunisia dan Cina di pasar internasional.
  5. 5.      Hal-hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan Cina untuk mempertahankan kredibilitasnya karena sedang dilanda persaingan pesat dengan negara-negara Eropa.
  6. 6.      Faktor-faktor yang dapat menjadi hambatan bagi Cina di dalam bersaing di industri meubel dunia di masa depan.
  7. 7.      Comparative dan compepetive advantage dari produk meubel dan pertanian.
  8. 8.      Manfaat efisiensi bagi kedua negara.

VI

Riset Terdahulu Untuk produk meubel, penelitian ini menggunakan data yang diambil dari berbagai macam sumber, seperti CFNA, UN comtrade database Standard International Trade Classification (SITC), National Bureau of Statistics, dan Xu et al. Dari data tersebut, peneliti menelitinya secara spesifik untuk memperoleh hasil-hasil yang diharapkan.

 

Sedangkan untuk produk pertanian di Tunisia, penelitian ini menggunakan data yang dikutip dari ITC Calculations dan ITC Calculation yang didasarkan pada COMTRADE of UNSD, dan data yang diolah sendiri. Sehingga secara keseluruhan, penelitian ini juga menganalisis beberapa data yang telah diteliti sebelumnya.

VII

Metodelogi Penelitian

 

 

  1. Sasaran, Waktu, Lokasi Penelitian

Di dalam penelitian ini, peneliti meneliti tingkat persaingan meubel dan produk pertanian secara internasional. Peneliti mennggunakan data dari tahun 1993-2007 untuk meubel dan menggunakan data dari tahun 1998-2002 untuk produk pertanian. Lokasi penelitian tersebut adalah negara Cina untuk meubel dan Tunisia untuk produk pertanian.

  1. Metode Penelitian

Untuk menemukan dampak dan hal-hal yang diperlukan dalam rangka menghadapi persaingan internasional, serta jawaban bagi masalah-masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka peneliti menggunakan metode survey. Hal ini terlihat dari data yang diambil oleh peneliti.

c.       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan tentang tingkat persaingan dan jumlah ekspor (kualitas) produk meubel dan pertanian, peneli mengambil data dari berbagai sumber.

 

Untuk produk pertanian di Tunisia, data yang diperoleh peneliti adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari perhitungan secara langsung oleh penulis dengan menggunakan pedekatan Biaya Sumberdaya Domestik. Data sekunder diperoleh dari International Trade Centre (ITC), ITC merupakan gabungan lembaga Organisasi Perdagangan Dunia dan PBB yang memiliki peranan dalam, informasi perdagangan serta pengembangan produk dan pasar.

 

Sedangkan untuk meubel di cina, peneliti menggunakan sumber data sekunder yang berasal dari CNFA tahun 2005 dan 2006 United Nation (UN) Database Standard Internasional Trade Classification (SITC), World Bank gross national income (GNI) country classification tahun 2008.

  1. Teknik Analisis Data

Di dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data yang sudah diambil untuk menjawab masalah-masalah yang ada.

Untuk menganalisis komoditas pertanian, seperti jeruk, minyak zaitun, dan tomat di Tunisia, peneliti menggunakan angka Domestic Resource Cost (DRC) sebagai indikator. Berbeda dengan Tunisia, untuk menganalisis data tentang tingkat persaingan meubel global, peneliti meninjau beberapa segi, diantaranya pangsa pasar (MS), menyatakan keunggulan komulatif (RCA), dan persaingan perdagangan (TC).

  1. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi teknologi serta inovasi mutlak diperlukan untuk bersaing di pasar internasional. Produsen juga harus terus berubah mengikuti perkembangan, jika tidak produsen tersebut akan termakan oleh waktu. Selain itu, sumber daya alam ternyata dapat mempengaruhi jumlah produksi terhadap suatu barang, sehingga produsen harus memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk mengoptimalkan harga dan kuantitas, serta mengurangi biaya. Hal ini kemudian menyebabkan terjadinya surplus perdagangan.

Next Page »
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.