Kondisi Perekonomian Bawang Putih di Indonesia

Posted On November 7, 2011

Filed under TEORI EKONOMI 1 - SMAK 04-3

Comments Dropped leave a response

Kondisi Perekonomian Bawang Putih di Indonesia

Nama ilmiah bawang putih adalah Allium sativum.  Bawang putih termasuk tanaman umbi-umbian dari kelas dicotyledonae. Bawang putih mempunyai manfaat sebagai salah satu zat anti kanker dalam tubuh manusia. Pertumbuhan bawang putih di Indonesia memang tidak banyak menyumbang kebutuhan bawang putih di dunia. Produksi bawang putih di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada 1998 – 2002 , Indonesia hanya mampu berkontribusi dalam pemenuhan bawang putih untuk masyarakat dunia sebanyak 0,4 hingga 0,9 persen. Penurunan hasil produksi bawang putih dari para petani Indonesia disebabkan dengan sistem perekonomian di Indonesia, kondisi tanah kurang cocok, penggunaan teknologi pertanian yang tidak tepat guna, harga input atau penunjang kegiatan tani (seperti pupuk dan pestisida yang mahal), serta peluang jual ke pasar yang juga tidak terlalu besar, maka dapat dipastikan produksi bawang putih di kalangan petani Indonesia dapat terhambat.

 

Produksi Bawang Putih di Indonesia

Bawang putih akan dapat berkembang dengan baik bila berada di dataran rendah. Daerah di Indonesia yang memiliki kriteria tanah cocok untuk pertumbuhan bawang putih adalah Yogyakarta, Brebes, Nganjuk, Mojokerto khususnya kecamatan Pacet , dan pulai dewata Bali.

Permintaan bawang putih melonjak sedangkan stok barangnya tidak ada (pasokan dari Surabaya belum sampai), sehingga harga bawang putih melonjak drastis. Akibat harga yang naik secara drastis maka omzet penjual turun dari 600-800ribu di bulan oktober. Sehari-hari bawang putih dapat terjual 5 sampai 8 karung per bulan, tapi sejak harga naik, omzet per bulan hanya 2 karung saja.

Sementara itu, pasokan bawang putih di kota Pangkal Pinang provinsi Bangka Belitung masih mencukupi permintaan konsumen karena pasokan dari daerah sentra produksi bawang di Pulau Jawa dan Sumatera meningkat. diperkirakan permintaan bawang putih, bawang merah, cabai, tomat dan sayur mayur lainnya akan meningkat seminggu menjelang Idul Adha karena sangat dibutuhkan membuat aneka masakan menyambut lebaran.

Harga bawang putih di pasar tradisonal Kota Agung, Kabupaten Tanggamus , kembali naik dari harga bawang putih berkisaran Rp8.000-Rp9.000, kini naik hingga Rp10.000 per kilogram. Kenaikan harga bawang putih ini di sejumlah pasar di Kecamatan Kota Agung dikarenakan stok bawang putih masih minim. Sedangkan permintaan sedang meningkat sehingga harga bawang putih saat ini mengalami kenaikan. Namun demikian, kenaikan harga bawang putih ini  tidak diikuti oleh bawang merah. Dimana harga bawang merah saat ini mengalami penurunan. Harga bawang merah pada minggu lalu berkisaran Rp14.000 per kilogram. Pada minggu ini turun menjadi Rp12.000 per kilogram.

Produk bawang putih impor asal Negeri Tirai Bambu Cina terus menguasai pangsa pasar dalam negeri. Setiap tahun Indonesia harus impor ratusan juta dolar. Indonesia ketergantungan bawang putih impor dari Cina sudah terjadi sejak lama. Bawang putih asal Cina ada dalam kualitas baik dan dalam harga yang sangat murah. Cina merupakak produsen bawang putih terbesar di dunia. Dengan masuknya, bawang putih impor dari Cina, maka sisi positifnya dengan banyak masuknya bawang putih dari Cina karena menyebabkan harga lebih murah bagi konsumen. Tapi, sisi petani lokal, kondisi ini lambat laun memukul produksi mereka. Diperkirakan bawang putih impor menguasai 90% lebih pasar dalam negeri dan sisanya bawang putih lokal.

Produk bawang putih lokal menghilang sejak beberapa tahun lalu. Hal itu disebabkan produk bawang putih asal Cina yang terus menguasai pasar dalam negeri. Keistimewaan bawang impor asal Cina karena harganya lebih murah dan kualitasnya lebih bagus, yakni lebih besar dan bawang lebih bersih. Stok barang pun tidak mengenal musim dan waktu, setiap hari bawang impor selalu ada dalam jumlah yang banyak. Berbeda dengan bawang putih lokal yang membutuhkan waktu cukup, baru bisa dipanen. Harga bawang puith impor cukup terjangkau, Rp 10.000/kg untuk ukuran besar, dan Rp 9.000/kg untuk ukuran sedang.

 

Harga Bawang Putih Stabil

Harga bawang putih cenderung stabil pada 2011 dibandingkan harga komoditi pertanian lainnya. Jika terdapat perubahan hargapun tidak berfluktuasi terlalu tinggi walaupun distribusinya agak meningkat. Data yang bersumber dari Kementerian Perdagangan pada Januari 2011, menyebutkan bahwa harga bawang putih berkisar Rp. 18.258 per kg dan pada Februari sempat turun menjadi Rp. 15.000 per kg. Bulan berikutnya, harga bawang putih kembali naik menjadi Rp. 17.571 per kg dan naik lagi menjadi Rp. 18.857 per kg pada bulan April , dan Rp. 10.000,- per kg pada 26 oktober 2011.

Stabilnya harga bawang putih akhir-akhir ini dipengaruhi oleh banyaknya pasokan bawang putih dan permintaannyapun tidak melonjak. Sebagian besar kebutuhan bawang putih nasional selama ini dipenuhi dari luar negeri atau impor. Pada 2010, impor bawang putih nasional mencapai 361.174 ton yang bernilai 245.960 juta dollar. Di awal 2011, impor bawang putih tercatat sebanyak 43.387 ton yang bernilai impor 32.318 juta dollar.

Pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan bawang putih dari negeri sendiri. Alasannya adalah belum tertariknya para petani menanam bawang putih karena dulu harganya murah sekali. Saat ini, harga bawang putih bisa dikatakan tinggi sehingga menarik minat para petani untuk menanamnya. Rencananya, Kementerian Pertanian akan mengkampanyekan petani untuk menanam bawang putih dan meningkatkan produksinya.

Di Indonesia, terdapat empat sentra produksi bawang putih. Tempat-tempat tersebut adalah Tegal, Pemalang, Karanganyar, dan Palu. Pada 2011 ini, diharapkan produksi bawang putih nasional dapat meningkat kontribusinya dari 4% menjadi 8% dari kebutuhan nasional.

 

Bawang Putih Lokal dan Impor

Pada pertengahan 2011 ini, para pedagang bawang putih lebih memilih menjual bawang putih impor daripada menjual bawang putih lokal. Para pedagang ini mengatakan bahwa bawang putih impor lebih disukai pembeli dan  harganya pun lebih murah dibanding dengan produk petani bawang putih dalam negeri.

Seorang pedagang grosir mengatakan bahwa ia sudah menjual bawang putih dari Cina selama berbulan-bulan. Hal ini karena para konsumen lebih banyak yang memilih bawang putih impor karena lebih besar dan bersih. Namun, masalah rasa bawang putih lokal lebih enak.

Saat ini lahan pertanian bawang putih di Pulau Jawa hanya tersisa sekitar 70 hectare dari 10 hectare. Sisanya saat ini berpusat di Tegal, Jawa Tengah. Inilah yang membuat bawang putih lokal kalah bersaing dengan Cina sehingga kehilangan pasar.

 

 

Surplus, Shortage, dan Equilibirium Bawang Putih

 

Kasus I à Surplus

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

Tidak ! karena pada harga tersebut penjual mau menjual dengan jumlah 11.000 kg , tetapi pembeli hanya mau membeli dengan jumlah 5.000 kg. Jadi ada kelebihan (surplus supply) sebanyak 6.000 kg yang tidak terjual. Agar semua bawang putih laku terjual , penjual menurunkan harga jualnya. Jadi, harga Rp. 10.000/kg tidak akan menjadi harga yang berlaku umum dipasaran. Situasi ini disebut “buyers market” (pasar dikuasai oleh para pembeli). Jadi pembeli merupakan pihak yang kuat dari pada penjual. Karena penjual bersedia menurunkan harga dan mencari-cari pembeli agar semua bawang putih laku terjual. Hal ini akan menguntungkan bagi pembeli.

 

Kasus II à Shortage

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

Tidak ! karena pada harga tersebut penjual ingin menjual 7.000 kg sedangkan pembeli ingin membeli sebanyak 10.000 kg. Jadi ada kekurangan (shortage supply) sebanyak 3.000 kg. Hal ini menyebabkan pembeli berani membayar dengan harga lebih tinggi. Situasi ini yang disebut “sellers market” (pasar dikuasai oleh para penjual). Jadi penjual merupakan pihak yang kuat dari pada pembeli. Hal ini akan menguntungkan pihak penjual.

 

Kasus III à Harga Keseimbangan (Equilibirium)

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

 

Dapat ! karena pada harga Rp. 10.000/kg, jumlah yang mau dibeli (Qd = 6.000 kg) dan jumlah yang mau dijual (Qs = 6.000 kg) tepat sama, tidak ada kekurangan dan tidak ada kelebihan. Jadi pada harga ini semua pihak akan mendapatkan apa yang diinginkan. Dan tidak ada alasan untuk menaikan atau menurunkan harga lagi (cateris paribus). Maka harga Rp. 10.000,- ini disebut harga keseimbangan (Equilibirium Price) yaitu harga yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran, atau P dimana Qd = Qs.

 

Kurva Permintaan dan Penawaran

Dengan Qd = 6.000 kg dan Qs = 6.000 kg yang pada tingkat harga sama yaitu Rp. 10.000,- maka dapat dilukiskan dengan kurva. Jumlah (Qd dan Qs) diukur pada sumbu horizontal (sumbu x) dan harga per satuan kg diukur pada sumbu tegak (sumbu Y).Perpotongan kurva tersebut menunjukan harga keseimbangan yaitu Qd = Qs = Rp. 10.000 kg .

 

Keterangan Gambar Harga Keseimbangan (equilibirium)

Kurva permintaan (D) turun ke kanan bawah

Kurve Permintaan (D) turun ke kanan-bawah. Kurve Penawaran (S) naik ke kanan-atas. Perpotongan kurve D dan kurva S menunjukkan harga keseimbangan, yaitu P = Rp 10.000/kg. Pada harga itu jumlah yang diperjualbelikan Q = 6.000/kg.

 

Pada harga lebih tinggi, daripada harga keseimbangan tersebut, terdapat surplus. Supaya barangnya laku, para penjual terdorong untuk menurunkan harga jual. Sebaliknya jika harga lebih rendah daripada Rp 10.000/kg, maka ada kekurangan (shortage) bawang putih yang akan mendorong pembeli menawar harga yang Iebih tinggi.

 

Dan grafik segera tampak bahwa pada semua harga yang lebih tinggi daripada harga keseimbangan (pada P>10.000), maka Qs > Qd berarti terdapat surplus. Surplus ini akan mendorong para penjual untuk menurunkan harga jualnya. Pada harga yang lebih rendah itu, para penjual akan mengurangi jumlah yang ditawarkan (= hukum penawaran). Jika harga diturunkan, para pembeli akan bersedia membeli lebih banyak atau Qd bertambah (hukum permintaan). Proses ini berjalan terus sampai surplus tersebut hilang. Jadi misalnya apakah harga Rp 10.000/kg bisa terjadi? Bisa! Apakah harga Rp 10.000 akan dapat tahan lama? Tidak! Sebab pada harga Rp 10.000/kg itu Qs > Qd (11.000 kg > 5.000 kg) berarti masih tetap ada surplus/kelebihan supply.

 

Demikian pula pada semua harga yang lebih rendah daripada harga keseimbangan (pada P <10.000), maka Qd > Qs ,jadi ada kekurangan supply (Shortage). Kekurangan tersebut akan mendorong para pembeli untuk menawar dengan harga lebih tinggi, agar mendapatkan bawang putih sebanyak yang dibutuhkan. Hal ini terjadi sampai tercapai keseimbangan. Jadi misalnya harga Rp 10.000/kg, apakah akan bisa tahan lama? Tidak! Sebab pada harga itu Qd > Qs (10.000 kg > 7.000 kg).

 

Satu-satunya harga yang dapat bertahan lama ialah harga dimana Qs = Qs. Pada harga dan kuantitas itu kecenderungan menaikkan dan menurunkan harga atau untuk menambah dan mengurangi jumlah tidak ada. Maka harga Rp 10.000 / kg pada Qd = Qs = 6.000 kg adalah harga keseimbangan (Equilibrium price).

 

 

 

NAMA                  : CANDY GLORIA dan MUTHIYA GABRIELA MALAWAT

KELAS                    : SMAK 04-3

NPM                      : 21210516 dan 24210878

MATKUL              : TEORI EKONOMI 1*

                                   TUGAS kelompok ke-1

 

REFERENSI

http://www.anneahira.com/bawang-putih.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.