SAWIT

Posted On December 15, 2010

Filed under tulisan

Comments Dropped leave a response

SAWIT

Harga TBS Belum Berpihak ke Petani

 

Hanya berharap harga jual ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di tingkat dunia segera pulih, karena hal ini berpengaruh pada tingkat kesejahteraan petani, termasuk Subari (51) yang merupakan seorang petani kelapa sawit di desa Rasau, Kalbar.

Menurut Subari, untuk membei pupuk saja sudah sulit. Jatuhnya harga CPO di tingkat global membuat petani semakin terpuruk.

 

Hanya dihargai Rp 900 per kg

Gubernur Kalbar, per 31 Agustus 2009 telah menetapkan harga tandan uah segar (TBS) umur tanamam 3-4 tahun sebesar Rp 1200 per kg, sedangkan TBS umur tanamam 5 tahun sebesar Rp 1400 per kg di tingkat petani. Tapi berlawanan dengan fakta, hanya PTPN XIII yang mematuhi ketentuan dengan mebeli TBS dari tanaman berumur 3 tahun sebesar Rp 1200 per kg. Itu pun sebelum masuk ruang pabrik CPO, TBS disortir dulu tingkat kematangannya.

Jadi, minimal 25% dari TBS petani dibuang dengan alasan tingkat kemasakan di bawah standar. Berbeda dengan pembelian oleh PTPN XIII. TBS tidak pernah disortir sebelum msuk ke ruang pabrik CPO walaupun tingkat kemasakannya di bawah 75%.

Pabrik CPO milik swasta hanya membeli TBS petani Rp 900 per kg. Meski bedanya Rp 300 per kg dengan harga jual di pabrik CPO milik PTN XIII, tapi TBS petani tidak pernah disortir sebelum masuk ruang pabrik. Dengan harga jual Rp 900 per kg, petani dapat penghasilan kotor sebesar Rp 2.304 juta per ha. Asumsi per hektar ditanami 128 pohon dan tiap pohon menghasilkan 20 kg TBS.

Namun, untuk biaya operasional mulai dari pemupukan, perawatan, pemanenan, dan pengangkutan TBS saja sudah Rp 2 juta per ha per bulan. Jika dikalkulasi pendapatan bersihnya hanya Rp 600 ribu per ha. Harga TBS baru bisa dibilang memihak ke petani jika secara riil dibeli pabrikan minimal Rp 1500 per kg.

 

Hanya sawit

Program revitalisasi perkebunan tidak berjalan lancar di Kalbar karena kurangnya dukungan dari kepala pemerintahan otonom, sehingga masih ada tumpang tindih lahan dan perusahaan perkebunan skala besar tidak bersedia untuk menjadi avails petani.

Sebenarnya revitalisasi mencakup kelapa sawit, kakao, dan karet. Tetapi pihak bank hanya mau mengucurkan dana kredit untuk sawit. Hal ini dikarenakan kakao dan karet dinilai tidak memiliki prospek yang bagus.

Menurut Idwar HaXis, Kepala Dinas Perkebunan provinsi Kalbar, sebagian besqr pemerintah otonom di kalbar tidak mengerti program revitalisasi perkenunan. Sejauh ini hanya ada 5 perusahaan di Kalbar yang sudah ikut program revitalisasi. Kalbar mengalokasikan lahan seluas 1,5 juta ha untuk perkebunan. Sementara ini luas kebun sawit sudah mencapai 800 ribu ha, yang 250 ribu ha adalah milik petani. Tiga bulan terakhir ini muncul antusias dari bupati setelah berkali-kali masyarakat mendesak fasilitas untuk memperoleh kredit revitalisasi perkebunan. (Aju, Kontributor Pontianak).

 

Sumber: AGRINA Tabloid, 30 September 2009

 

 

Telah ditulis ulang oleh:

Nama  : CANDY GLORIA

NPM    : 21210516

Kelas   : 1 EB 07

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s