INDUSTRIALISASI

Posted On March 30, 2011

Filed under tugas

Comments Dropped 2 responses

INDUSTRIALISASI

 

PENDAHULUAN

  • · Apa itu Industrialisasi?

Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah (bahan baku) atau barang setengah jadi menjadi barang jadi dan batrang yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan (assembling) dan reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi dapat juga berupa jasa.

 

PEMBAHASAN

1. Konsep dan Tujuan Industrialisasi

Dalam sejarah pembangunan eknomi, konsep industrialisasi berawal dari revolusi pertamam pada pertengahan abad ke-18 yang terjadi di Inggris, dengan penemuan metode baru untuk pemintalan, penenunan kapas, serta peningkatan faktor produksi yang digunakan.

 

Industrialisasi suatu proses interaksi antara perkembangan teknologi, inovasi, spesialisasi dan perdagangan dunia untuk meningkatkan pendapatan masyarakat dengan mendorong perubahan struktur ekonomi.

Selain itu, industrialisasi merupakan salah satu strategi jangka panjang untuk menjamin pertumbuhan ekonomi. Hanya beberapa Negara dengan penduduk sedikit dan kekayaan alam melimpah, seperti Kuwait dan Libya (negara penghasil minyak) ingin mencapai pendapatan yang tinggi tanpa industrialisasi.

Setelah perang dunia II juga banyak bermunculan perkemebangan teknologi yang baru, misalnya produksi dengan skala besar dengan konsep assembling, listrik, penemuan bahan-bahan sintetik, kendaraan bermotor, revolusi teknologi komunikasi, sampai pada penggunaan robot. Semua perubahan yang terjadi ini juga ikut memacu proses industrialisasi dunia karena perkembangan ini mengubah pola produksi industri dan meningkatkan kapasitas (volume) perdagangan dunia.

2. Faktor Pendorong

Faktor pendorong selain dari perkembangan teknologi (T) dan inovasi (In), serta laju pertumbuhan pendapatan per kapita adalah sebagai berikut:

a) Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negara.

Negara yang awalnya memiliki industri dasar/primer/hulu seperti baja, semen, kimia, dan industri tengah seperti mesin alat produksi akan mengalami proses industrialisasi yang relatif lebih cepat. Hal ini dikarenakan jika sudah terdapat berbagai industri hulu dan menengah yang kuat, maka otomatis negara yang bersangkutan akan lebih mudah untuk membangun industri hilir dengan tingkat diversifikasi produksi yang tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara yang belum mempunyai industri hulu dan menengah.

b) Besarnya pasar dalam negeri yang ditentukan oleh kombinasi antar populasi dan tingkat pendapatan nasional riil per kapita. Besar pangsa pasar DN yang ditentukan oleh tingkat pendapatan dan jumlah penduduk. Misalnya, Indonesia dengan 200 juta orang menyebabkan pertumbuhan kegiatan ekonomi, karena pasar yang besar menjamin adanya skala ekonomis dan efisiensi dalam proses produksi (asumsi:faktor penentu lainnya cukup mendukung).

c) Ciri industrialisasi, yaitu cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan, termasuk di dalamnya adalah insentif  kepada investor.

d) Kondisi dan keberadaan Sumber Daya Alam (SDA). Negara dengan SDA yang besar cenderung lebih lambat dalam industrialisasi, karena tingkat diversifikasi dan laju pertumbuhan eknominya relatif rendah.

e) Kebijakan dan strategi pemerintah, seperti tax holiday, bebas bea masuk untuk bahan baku impor, pinjaman dengan suku bunga yang relatif rendah.

 

 

  1. Perkembangan Sektor Industri Manufaktur Nasional

A.    Pertumbuhan Output

Proses industrialisasi yang terjadi pada negara-negara ASEAN yang pesat disorong oleh laju pertumbuhan output industri yang pesat karena menyebabkan terjadinya penambahan struktural yang cukup luas di dalam perekonomian negara tersebut.

 

Hal ini dikarenakan, sektor industri menaglami laju pertumbuhan yang sangat pesat, melebihi laju pertumbuhan di negara berkembang dengan rata-rata 50-100% pada 1970-an, bahkan dengan batas rata-rata yang lebih tinggi pada 1980-an. Pangsa sektor manufaktur terhadapa toal output industri telah menjadi lebih dari 2 kali lipat di Indonesia maupun Malaysia, dan hampir 2

Kali lipat di Thailand. Ke-empat ekonomi tersebut kini telah melampaui titik belok yang penting di jalan panjang pembangunan ekonomi dalam hal output sektor manufaktur yang melebihi output sektor pertanian.(Hill, 2003).

 

Selain itu, menurut Hill, hal lain yang mungkin penting adalah pelaksanaan industrialisasi di ke-empat negar tersebut telah berhasil melampaui suatu proses pergeseran secara bertahap selama 1970-an, dari yang tadinya berorientasi ke pasar domestik (subtitusi impor) ke industri yang berorientasi ke pasar global.

 

B.     Pendalaman Struktur Industri

Pembangunan ekonomi jangka panjang dapat merubah pusat kekuatan ekonomi dari pertanian menuju industri dan menggeser struktur industri yang memiliki keunggulan kompetitif dan komparatif.

Indikator yang digunakan untuk mengukur struktur industri adalah distribusi dari jumlah unti produksi (perushaan) yang ada dan total NO atau NT dari sektor industri menurut kelompok industri (subsektor). Kaena semakin tingginya subsektor industri, berarti semakin tingginya diversifikasi produksi.

 

Distribusi PDB menurut subsektor industri juga dapat berperan sebagai indikator poengukur tingkat diversifikasi industri. Semakin maju industri manufaktur, semakin besar kontribusi output dari kelompok-kelompok industri berteknologi tinggi terhadap pembentukan PDB.
Perubahan struktur industri disebabkan oleh:

  • · Penawaran agregat perkembangan teknologi, kualitas SDM, dan inovasi material baru untuk produksi.
  • · Permintaan agregat peningkatan pendapatan per kapita yang mengubah volume dan pola konsumsi.

 

Orientasi perkembangan industri manuafktur di Indonesia masih pada barang
konsumsi sederhana seperti makanan, minuman pakaian jadi. Sisi permintaan agergat, pasar domestik barang konsumsi berkembang pesat seiring laju penduduk dan peningkatan pendapatan masyarakat per kapita. Sedangkan pada sisi penawaran agregat, sarana dan prasarana menunjang untuk produksi.

C.     Teknologi dari Produk Manufaktur

Untuk membandingkan dan menganalisa kemampuan T dari produksi di negara-negara berbeda, karena industri dapat diklasifikasikan ke dalam 3 kategori. Kategori pertama yaitu industri denagn teknoklogi yang tinggi, contohnya obat-obatan, komputer, alat-alat perkantoran, barang elektronik, dan kendaraan bermotor. Kategoti kedua yaitu industri dengan T yang menengah, contohnya produk-produk dari logam sederhana, produk-produk dari plasitik dan karet, dan penyulingan minyak. Kategori ketiga adalah industri dengan T rendah, seperti kertas dan percetakan, pakaian jadi, makanan, minuman, rokok, dan mebel.

Tingkat perkembangan industri manufaktur dapat dilihat dari pendalaman struktur industri itu sendiri. Struktur industri:

1) Ragam produk barang konsumsi, sederhana, barang konsumsi dengan kandungan teknologi yanglebih canggih, barang modal.

2)  Intensitas pemakain faktor produksi barang dengan padat karya dan barang dengan padat modal. Orinetasi pasar barang domestik dan barang ekspor.

 

D.    Ekspor

Kinerja ekspor (X) dari produk-produk manufaktur juga dapat digunakan sebagai salah satu indikator alternatif untuk mengukur derajat pembangunan dari industri manufaktur. Kinerja X bisa ada dalam 3 arti, yaitu laju pertumbuhan volume atau nilai X dan diversifikasi, baik dalam produk maupun pasar/ negara tujuan. Pada umumnya, industri manufaktur suatu negara dikatakan sudah maju apabila laju pertumbuhan X manufakturnya rata-rata per tahun tinggi dan tingkat diversifikasi produk seta pasar dan negara tujuannya tinggi.

 

Hasil analisis Wolrd Bank tahun 1999 menunjukkan bahwa Indonesia lemah dalam prosuk-produk manufaktur yang prospek masa depannya sangat baik. Data BPS juga menunjukkan bahwa diversifikasi X manufaktur Indonesia cukup tinggi, namun masih hanya didominasi oleh industri kecil dan menengah ke bawah, terutama pada barang-barang konsumsi. Selain itu, industri Indonesia juga masih didominasi dengan produk-produk berbasis pertanian. Di sisi lain, harga dunia untuk komoditi berbasis pertanian relatif rendah jika dibandingkan dengan komoditas berteknologi menengah ke atas, seperti komputer, mesin, dan otomotif, bahkan pasaran harga komoditas-komoditas ini kian meningkat dari waktu ke waktu.

 

 

4. Ketergantungan pada Impor

Ada sebuah implikasi bahwa tiap negara akan saling tergantung satu dan yang lainnya lewat perdagangan internasional (X dan M) dalam memenuhi kebutuhan dalam negerinya.

 

Indonesia masih memiliki ketergantungan dengan impor barang-barang dari luar negeri. Hal ini dikarenakan tingkat industri manufaktur Indonesia yang masih lemah walaupun terus berkembang, sehingga tingkat ketergantungan impor barang manufaktur masih tinggi. Berbeda dengan negara yang memiliki industri manufaktur yang maju, maka negara tersebut tidak bergantung pada impor.

 

Walaupun kondisi X manufaktur Indonesia terus berkembang, neraca perdagangan Indonesia untuk barang-barang manufaktur terus mengalami defisit, kecuali pada masa 1998-1999 karena M turun drastis akibat depresiasi rupiah dan krisis ekonomi. Defisit dalam saldo merupakan suatu konsekuensi dari struktur perdagangan manufaktur Indonesia.

 

Di satu sisi, X manufaktur didominasi oleh produk sederhana yang nilainya di pasar dunia relatif rendah dan di sisi lain, M manufaktur Indonesia didominasi oleh barang-barang menengah ke atas, seperti barang konsumsi tahan lama (kendaraan bermotor, elektronik, komputer), barang modal (mesin, mobil penumpang), bahan baku, dan penolong yang sudah diproses (makanan,minuman, dan bahan baku untuk industri, bahan bakar dan pelumas), komponen-komponen transportasi yang pada umumnya memiliki nilai relatif lebih tinggi di pasar dunia.

 

5. Permasalahan

A.    Keterbatasan Teknologi dan SDM

Kualitas SDM dapat diukur dengan tingkat rata-rata pendidikan dari angkatan kerja atau masyarakat dari golongan umur produktif,  yaitu 15-65 tahun. Jika pekerja yang tidak/belum sekolah digabungkan dengan pekerja yang tidak tamat SD, maka data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar dari jumlahaangkatan kerja di Indonesia hanya berpendidikan rendah.

 

Kualitas SDM dapat juga diukur dengan lamanya sekolah atau rata-rata tahun pendidikan yang dialami masyarakat dari kategori umur tertentu di negara tersebut. Hill(2002) menunjukkan bahwa rata-rata tahun pendidikan yang dialami oleh masyarakat kategori dari umur 25 tahun ke atas di Indonesia paling singkat, jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, yakni masih di bawah 5 tahun. Hal ini juga menggambarkan bahwa jumlah pendduk Indonesia, terutama dengan diploma pendidikan tinggi di atas sarjana (S1) lebih sedikit dibanding dengan negara-negara Asia lainnya. Rendahnya kualitas SDM di Indonesia salah satunya disebabkan oleh terbatasnya dana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.

B.     Masalah Struktural dan Organisasi

  • · Kelemahan struktural

Basis ekspor dan pasar masih sempit, walaupun Indonesia mempunyai banyak sumber daya alam (SDA) dan tenaga kerja (TK), tapi produk dan pasarnya masih hanya terkonsentrasi pada:

1)      terbatas pada empat produk (kayu lapis, pakaian jadi, tekstil dan alas kaki).

2)      Pasar tekstil dan pakaian jadi terbatas pada beberapa negara, yaitu Amerika, Kanada, Turki dan Norwegia.

3)      Amerika, Jepang dan Singapura mengimpor 50% dari total ekspor tekstil dan pakaian jadi dari Indonesia.

4)      Produk penyumbang 80% dari ekspor manufaktur  Indonesia masih mudah terpengaruh oleh perubahan permintaan produk di pasar terbatas.

5)      Banyak produk manufaktur terpilih padat karya yang mengalami penurunan harga karena munculnya para pesaing baru, seperti Cina dan Vietnam.

6)      Produk manufaktur tradisional menurun daya saingnya sebagai akibat faktor internal, seperti tuntutan kenaikan upah.

 

  • · Kelemahan organisasi:

1)      Ketergantungan impor sangat tinggi.Pada 1990, Indonesia menarik banyak PMA untuk industri berteknologi tinggi, seperti kimia, elektronik, dan otomotif. Namun, proses penggabungan, pengepakan dan assembling masih dengan hasil:

v Nilai impor bahan baku, komponen dan input perantara masih tinggi diatas 45%.

v Industri padat karya, seperti tekstil, pakaian jadi dan kulit bergantung kepada impor bahan baku, komponen dan input perantara juga masih relatif tinggi.

v PMA sektor manufaktur masih bergantung kepada suplai bahan baku dan komponen dari luar negeri.

v Peralihan teknologi (teknikal, manajemen, pemasaran, pengembangan organisasi dan keterkaitan eksternal) dari PMA masih sangat terbatas.

v Pengembangan produk dengan merek sendiri dan pembangunan jaringan pemasaran masih terbatas.

 

2)      Tidak ada industri yang berteknologi menengah.

v Kontribusi industri berteknologi menengah (logam, karet, plastik, semen) terhadap pembangunan sektor industri manufaktur yang menurun tahun 1985 -1997.

v Kontribusi produk padat modal (material dari plastik, karet, pupuk, kertas, besi dan baja) terhadap ekspor menurun 1985-1997. Produksi produk dengan teknologi rendah berkembang pesat.

3)      Industri kecil dan menengah masih terbelakang produktivitas rendah, jumlah tenaga kerja masih banyak (padat karya), bukan padat modal.

4)      Kapasitas menyerap dan mengembangkan teknologi masih lemah dikarenakan SDM yang lemah.

6. Strategi Pembangunan Sektor Industri

A.    Strategi SI / Substitusi Impor (Inward Looking)

Strategi ini bertujuan untuk mengembangkan industri berorientasi domestik yang dapat menggantikan produk impor. Negara yang menggunakan strategi ini adalah Korea dan Taiwan. Pertimbangan digunakannya strategi ini adalah:

a.       Sumber daya alam dan faktor produksi yang cukup tersedia.

b.      Potensi permintaan (demand) dalam negeri memadai sebagai pendorong perkembangan industri manufaktur dalam negeri.

c.       Kesempatan kerja menjadi luas.

d.      Pengurangan ketergantungan impor, sehingga defisit berkurang.

B.     Strategi PE / Promosi Ekspor (outward Looking)
Strategi ini beorientasi ke pasar internasional dalam usaha pengembangan industri dalam negeri yang memiliki keunggulan bersaing. Rekomendasi agar strategi ini dapat berhasil adalah:

a.       Pasar harus menciptakan sinyal harga yang benar yang merefleksikan kelangkaan barang yang bersangkutan, baik pasar input maupun output.

b.      Tingkat proteksi impor yang harus rendah.

c.       Nilai tukar yang harus realistis.

d.      Ada insentif untuk peningkatan ekspor.

C.     Kebijakan Industri Pasca Krisis Ekonomi

Krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 sangat memukul industri manufaktur di Indonesia akibat depresiasi nilai rupiah yang sangat besar terhadap dolar AS. Krisi ekonomi ini menunjukkan bahwa ternyata pembanguna Industri selama masa pemerintahan orde baru tidak menghasilkan industri nasional yang kokoh. Sebaliknya, pembangunan industri yang didukung oleh kebijakan SI dengan proteksi yang berlebihan dan terlalu lamatelah membuat industri manufaktur Indonesia menjadi sanagt lemah dengan tingkat ketergantungan pada M dan utang yang tinggi.

 

Masuknya IMF ke Indonesia untuk membantu keluar dari krisis tersebut telah membawa perubahan besar di dalam kebijakan industrialisasi dalam negeri. Dibandingkan dengan keadaan sebelum krisis, kebijakan industri baru yang dianut Indonesai lebih berorientasi pada X, dengan tidak menghilangkan pembangunan industri di pasar domestik.

 

Salah satu langkah konkret yang dilakukan oleh pemerintah adalah dengan mengadakan tarif  M, baik terhadap barang jadi maupun barang setengah jadi, bahan baku komponen secara bertahap, dan penghilangan fasilitas kemudahan selama masa orde baru banyak diberikan kepada perusahaan-perusahaan besar. Sementara itu, fasilitas kemudahan untuk kredit murah tetap diberikan kepada usaha kecil dan menengah, tapi dengan prosedur seleksi yang jauh lebih ketat dan memiliki tujuan program yang jelas.

 

Tak hanya itu, perhatian besar juga diberikan kepada pengembangan industri pendukung yang membuat mesin, peralatan produksi, antara bahan baku dan komponennya. Tujuannya adalah untuk mengurangi ketergantungan sektor industri manufaktur khususnya dan ekonomi nasional terhadap M. Sehinnga guna mendukung kebijakan tersebut, pemerintah menerapkan clustering.Yang dimaksud dengan clustering adalah setiap industri mempunyai keterikatan produksi ke belakang maupun ke depan yang kuat dengan industri lain atau sektor ekonomi lainnya.

KESIMPULAN

  • · Faktor pendorong selain dari perkembangan teknologi (T) dan inovasi (In), serta laju pertumbuhan pendapatan per kapita adalah sebagai berikut:

a) Kondisi dan struktur awal ekonomi dalam negara.

b) Besarnya pasar dalam negeri yang ditentukan oleh kombinasi antar populasi dan tingkat pendapatan nasional riil per kapita.

c) Ciri industrialisasi, yaitu cara pelaksanaan industrialisasi seperti tahap implementasi, jenis industri unggulan dan insentif yang diberikan, termasuk di dalamnya adalah insentif  kepada investor.

d) Kondisi dan keberadaan Sumber Daya Alam (SDA).

e) Kebijakan dan strategi pemerintah, seperti tax holiday, bebas bea masuk untuk bahan baku impor, pinjaman dengan suku bunga yang relatif rendah.

  • · Tingkat perkembangan industri manufaktur dapat dilihat dari pendalaman struktur industri itu sendiri. Struktur industri:

1) Ragam produk barang konsumsi, sederhana, barang konsumsi dengan kandungan teknologi yanglebih canggih, barang modal.

2)  Intensitas pemakain faktor produksi barang dengan padat karya dan barang dengan padat modal. Orinetasi pasar barang domestik dan barang ekspor.

  • · Kualitas SDM dapat diukur dengan tingkat rata-rata pendidikan dari angkatan kerja atau masyarakat dari golongan umur produktif,  yaitu 15-65 tahun. Jika pekerja yang tidak/belum sekolah digabungkan dengan pekerja yang tidak tamat SD, maka data BPS menunjukkan bahwa sebagian besar dari jumlahaangkatan kerja di Indonesia hanya berpendidikan rendah. Rendahnya kualitas SDM di Indonesia salah satunya disebabkan oleh terbatasnya dana pendidikan yang disediakan oleh pemerintah.
  • · Krisis ekonomi yang terjadi pada 1998 sangat memukul industri manufaktur di Indonesia akibat depresiasi nilai rupiah yang sangat besar terhadap dolar AS. Krisis ekonomi ini menunjukkan bahwa ternyata pembanguna Industri selama masa pemerintahan orde baru tidak menghasilkan industri nasional yang kokoh. Sebaliknya, pembangunan industri yang didukung oleh kebijakan SI dengan proteksi yang berlebihan dan terlalu lamatelah membuat industri manufaktur Indonesia menjadi sanagt lemah dengan tingkat ketergantungan pada M dan utang yang tinggi.

DAFTAR PUSTAKA

Sukirno, Sadono. 2006. Makroekonomi Teori Pengantar. Jakarta: PT  Raja GrafIndustrido Persada.

Tambunan, Tulus. 2003. Perekonomian Indonesia Beberapa Masalah Penting. Jakarta: Ghalia Industridonesia.

http://organisasi.org/pengertian_definisi_macam_jenis_dan_penggolongan_industri_di_indonesia_perekonomian_bisnis

http://wikipedia.org/industrialisasi

 

IDENTITAS DIRI

Nama              : CANDY GLORIA

NPM               : 21210516

Kelas               : 1 EB 07

Mata Kuliah   : Perekonomian Indonesia

Topik              : Industrialisasi

Tugas ke-       : 5

 

2 Responses to “INDUSTRIALISASI”

  1. peduli pendidikan

    sip…makalhnya leh di copas g om???ijin za…

    • candygloria

      SIP..tapi gw bukan om2..
      copas ajah tapi tulis sumberny y.. thx

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s