JURNAL PENELITIAN BAWANG PUTIH

Posted On November 29, 2011

Filed under TEORI EKONOMI 1 - SMAK 04-3

Comments Dropped leave a response

ANALISA JURNAL

TEORI EKONOMI

“Usaha Tani Bawang Putih”

DISUSUN OLEH:

CANDY GLORIA                                         2121 0516

MUTHIYA GABRIELA MALAWAT        2421 0878

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

ANALISA JURNAL

  1.                 I.      JUDUL               : Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-faktor Produksi

              Pada Usaha Tani Bawang Putih

              (Studi Kasus di Kecamatan Sapuran, Wonosobo)

 

PENGARANG    : CLAUDIO SATRYA WIDYANANTO

 

       TAHUN               : 2010

 

 

  1.             II.       TEMA               : Usaha Tani Bawang Putih di Indonesia

 

 

  1.          III.       LATAR BELAKANG MASALAH

A. Fenomena

Sektor petanian pangan biasanya diusahakan oleh rakyat kecil, salah satu komoditas tanaman pangan yaitu bawang putih. Bawang putih termasuk komoditas yang menjadi perhatian dari sekian banyak komoditas pertanian karena jumlah produksinya yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1.3.

Pengembangan usahatani bawang putih perlu dilakukan terkait dengan kebutuhan konsumsi bawang putih seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk. Oleh karena itu usaha tani bawang putih diarahkan untuk dapat memacu peningkatan produktivitasnya. Namun, yang terjadi adalah produktivitas bawang putih selama 4 tahun terakhir (2005 – 2008) selalu menurun tiap tahunnya dengan rata-rata penurunan 15,96 persen per tahun.

 

Produksi bawang putih di daerah Wonosobo merupakan yang terbesar di Jawa Tengah selama tahun 2004 hingga tahun 2007 dan terbanyak ke dua di Jawa Tengah untuk tahun 2008. Namun potensi yang dimiliki Kabupaten Wonosobo kurang mampu dikelola dengan baik. Hal ini dapat dilihat dari jumlah produksi bawang putih di Kabupaten Wonosobo selama tahun 2004 hingga tahun 2008 yang selalu mengalami penurunan seiring dengan berkurangnya luas panen, akan tetapi jumlah rata-rata produksi bawang putih tidak mengalami tren menurun, justru cenderung fluktuatif. Keadaan ini dapat dilihat ketika tahun 2004 rata-rata produksi bawang putih mencapai 48,73 kwintal/hektar. Fenomena ini menunjukkan bahwa rata-rata produksi tidak hanya dipengaruhi oleh luas panen saja seperti yang diperlihatkan oleh Tabel 1.6.

A. Riset Terdahulu

Nilai produktivitas ini masih tergolong rendah dan masih berpeluang untuk ditingkatkan karena berdasarkan hasil penelitian Tety Suciaty (2004) faktor bibit memegang peranan yang penting untuk menunjang keberhasilan produksi tanaman, selain itu juga penggunaan bibit yang bermutu tinggi merupakan langkah awal peningkatan produksi.

 

 

  1. B.  Motivasi Penelitian

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Menganalisis pengaruh penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit,pupuk, fungisida, insektisida dan tenaga kerja, terhadap jumlah produksi dalam kegiatan usahatani bawang putih di Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.

2. Menganalisis tingkat efisiensi teknis, efisiensi harga, maupun efisiensi ekonomis dalam kegiatan usahatani bawang putih di Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo.

 

 

  1.                 I.       METODOLOGI

   A. Data

Penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer.

1. Data Primer

Data primer yang digunakan antara lain meliputi: data pemakaian faktor produksi usaha tani bawang putih, dan jumlah produksi dalam satu kali masa panen bawang putih.

2. Data Sekunder

Data sekunder yang digunakan bersumber dari: Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Wonosobo, Dinas Pertanian Kabupaten Wonosobo, serta beberapa sumber lain yang terkait.

 

B. Variabel

Persamaan analisis linier berganda yang digunakan dalam penelitian ini merujuk pada persamaan yang digunakan oleh Tety Suciaty (2004) sebagai berikut :

LnY = Ln a + b1 Ln X1 + b2 Ln X2 + b3 Ln X3 + b4 Ln X4 + b5 Ln X5 + b6 Ln X6 +

bn Ln Xn + V..………………… …………………………………………… ( 3.1 )

 

dimana :

Y = jumlah produksi bawang putih yang dihasilkan dalam satu kali masa panen (Kg).

 

X1 = luas lahan yang digunakan dalam satu kali masa tanam. (m2)

 

X2 = jumlah benih atau bibit digunakan dalam satu kali masa tanam (Kg)

 

X3 = jumlah seluruh pupuk yang digunakan dalam satu kali masa tanam diakumulasikan dalam satuan (Kg).

 

X4 = jumlah seluruh pestisida yang digunakan dalam satu kali masa tanam diakumulasikan dalam satuan (Lt).

 

X5 = jumlah tenaga kerja yang digunakan dalam satu kali masa tanam (hari

orang kerja/HOK).

 

a,b = besaran yang akan diduga

 

V = kesalahan (disturbance term)

 

C. Metode Penelitian

v    Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan metode wawancara menggunakan kuesioner atau survei.

v    Metode Analisis

Analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi dua analisis, yakni analisis regresi berganda dan analisis efisiensi. Analisis regresi berganda digunakan guna menjawab tujuan penelitian yang pertama, yakni mengetahui pengaruh penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja terhadap jumlah produksi bawang putih.

 

  1.             II.       HASIL dan ANALISIS

Efisiensi Harga dan Ekonomi

Pembahasan efisiensi harga dan efisiensi ekonomi akan menghasilkan tiga hasil kemungkinan yaitu:

(1) jika nilai efisiensi lebih besar dari 1, hal ini berarti digunakan dalam menjalankan usahatani bawang putih adalah luas lahan bahwa efisiensi yang maksimal belum tercapai, sehingga penggunaan faktor produksi perlu ditambah agar mencapai kondisi yang efisien. (2) jika nilai efisiensi lebih kecil dari satu, hal ini berarti bahwa kegiatan usahatani yang dijalankan tidak efisien, sehingga untuk mencapai tingkat efisien maka faktor produksi yang digunakan perlu dikurangi.

(3) jika nilai efisiensi sama dengan satu, hal ini berarti bahwa kondisi usahatani yang dijalankan sudah mencapai tingkat efisien dan diperoleh keuntungan yang maksimum. Input yang, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja.

  1.          III.       KESIMPULAN dan REKOMENDASI

KESIMPULAN

Penelitian ini bertujuan untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh penggunaan faktor produksi luas lahan, bibit, pupuk, fungisida,insetisida, dan tenaga kerja terhadap jumlah produksi bawang putih dengan menggunakan model analisis linier berganda selain itu juga bertujuan untuk mengetahui tingkat efisiensi produksi pada usahatani bawang putih di Kecamatan Sapuran, Kabupaten Wonosobo yang dilihat dari efisiensi tehnik, efisiensi harga dan efisiensi ekonomi.

 

REKOMENDASI

Disarankan kepada petani untuk lebih banyak menanam bawang putih lokal dimana masih sedikitnya bawang putih lokal dipasaran dan juga disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk menetapkan kadar vitamin dan mineral yang lain yang terdapat pada bawang putih.

 

Sumber : http://eprints.undip.ac.id/22608/1/CLAUDIO_SATRYA_WIDYANANTO.PDF

Advertisements

Kondisi Perekonomian Bawang Putih di Indonesia

Posted On November 7, 2011

Filed under TEORI EKONOMI 1 - SMAK 04-3

Comments Dropped leave a response

Kondisi Perekonomian Bawang Putih di Indonesia

Nama ilmiah bawang putih adalah Allium sativum.  Bawang putih termasuk tanaman umbi-umbian dari kelas dicotyledonae. Bawang putih mempunyai manfaat sebagai salah satu zat anti kanker dalam tubuh manusia. Pertumbuhan bawang putih di Indonesia memang tidak banyak menyumbang kebutuhan bawang putih di dunia. Produksi bawang putih di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada 1998 – 2002 , Indonesia hanya mampu berkontribusi dalam pemenuhan bawang putih untuk masyarakat dunia sebanyak 0,4 hingga 0,9 persen. Penurunan hasil produksi bawang putih dari para petani Indonesia disebabkan dengan sistem perekonomian di Indonesia, kondisi tanah kurang cocok, penggunaan teknologi pertanian yang tidak tepat guna, harga input atau penunjang kegiatan tani (seperti pupuk dan pestisida yang mahal), serta peluang jual ke pasar yang juga tidak terlalu besar, maka dapat dipastikan produksi bawang putih di kalangan petani Indonesia dapat terhambat.

 

Produksi Bawang Putih di Indonesia

Bawang putih akan dapat berkembang dengan baik bila berada di dataran rendah. Daerah di Indonesia yang memiliki kriteria tanah cocok untuk pertumbuhan bawang putih adalah Yogyakarta, Brebes, Nganjuk, Mojokerto khususnya kecamatan Pacet , dan pulai dewata Bali.

Permintaan bawang putih melonjak sedangkan stok barangnya tidak ada (pasokan dari Surabaya belum sampai), sehingga harga bawang putih melonjak drastis. Akibat harga yang naik secara drastis maka omzet penjual turun dari 600-800ribu di bulan oktober. Sehari-hari bawang putih dapat terjual 5 sampai 8 karung per bulan, tapi sejak harga naik, omzet per bulan hanya 2 karung saja.

Sementara itu, pasokan bawang putih di kota Pangkal Pinang provinsi Bangka Belitung masih mencukupi permintaan konsumen karena pasokan dari daerah sentra produksi bawang di Pulau Jawa dan Sumatera meningkat. diperkirakan permintaan bawang putih, bawang merah, cabai, tomat dan sayur mayur lainnya akan meningkat seminggu menjelang Idul Adha karena sangat dibutuhkan membuat aneka masakan menyambut lebaran.

Harga bawang putih di pasar tradisonal Kota Agung, Kabupaten Tanggamus , kembali naik dari harga bawang putih berkisaran Rp8.000-Rp9.000, kini naik hingga Rp10.000 per kilogram. Kenaikan harga bawang putih ini di sejumlah pasar di Kecamatan Kota Agung dikarenakan stok bawang putih masih minim. Sedangkan permintaan sedang meningkat sehingga harga bawang putih saat ini mengalami kenaikan. Namun demikian, kenaikan harga bawang putih ini  tidak diikuti oleh bawang merah. Dimana harga bawang merah saat ini mengalami penurunan. Harga bawang merah pada minggu lalu berkisaran Rp14.000 per kilogram. Pada minggu ini turun menjadi Rp12.000 per kilogram.

Produk bawang putih impor asal Negeri Tirai Bambu Cina terus menguasai pangsa pasar dalam negeri. Setiap tahun Indonesia harus impor ratusan juta dolar. Indonesia ketergantungan bawang putih impor dari Cina sudah terjadi sejak lama. Bawang putih asal Cina ada dalam kualitas baik dan dalam harga yang sangat murah. Cina merupakak produsen bawang putih terbesar di dunia. Dengan masuknya, bawang putih impor dari Cina, maka sisi positifnya dengan banyak masuknya bawang putih dari Cina karena menyebabkan harga lebih murah bagi konsumen. Tapi, sisi petani lokal, kondisi ini lambat laun memukul produksi mereka. Diperkirakan bawang putih impor menguasai 90% lebih pasar dalam negeri dan sisanya bawang putih lokal.

Produk bawang putih lokal menghilang sejak beberapa tahun lalu. Hal itu disebabkan produk bawang putih asal Cina yang terus menguasai pasar dalam negeri. Keistimewaan bawang impor asal Cina karena harganya lebih murah dan kualitasnya lebih bagus, yakni lebih besar dan bawang lebih bersih. Stok barang pun tidak mengenal musim dan waktu, setiap hari bawang impor selalu ada dalam jumlah yang banyak. Berbeda dengan bawang putih lokal yang membutuhkan waktu cukup, baru bisa dipanen. Harga bawang puith impor cukup terjangkau, Rp 10.000/kg untuk ukuran besar, dan Rp 9.000/kg untuk ukuran sedang.

 

Harga Bawang Putih Stabil

Harga bawang putih cenderung stabil pada 2011 dibandingkan harga komoditi pertanian lainnya. Jika terdapat perubahan hargapun tidak berfluktuasi terlalu tinggi walaupun distribusinya agak meningkat. Data yang bersumber dari Kementerian Perdagangan pada Januari 2011, menyebutkan bahwa harga bawang putih berkisar Rp. 18.258 per kg dan pada Februari sempat turun menjadi Rp. 15.000 per kg. Bulan berikutnya, harga bawang putih kembali naik menjadi Rp. 17.571 per kg dan naik lagi menjadi Rp. 18.857 per kg pada bulan April , dan Rp. 10.000,- per kg pada 26 oktober 2011.

Stabilnya harga bawang putih akhir-akhir ini dipengaruhi oleh banyaknya pasokan bawang putih dan permintaannyapun tidak melonjak. Sebagian besar kebutuhan bawang putih nasional selama ini dipenuhi dari luar negeri atau impor. Pada 2010, impor bawang putih nasional mencapai 361.174 ton yang bernilai 245.960 juta dollar. Di awal 2011, impor bawang putih tercatat sebanyak 43.387 ton yang bernilai impor 32.318 juta dollar.

Pemerintah belum dapat memenuhi kebutuhan bawang putih dari negeri sendiri. Alasannya adalah belum tertariknya para petani menanam bawang putih karena dulu harganya murah sekali. Saat ini, harga bawang putih bisa dikatakan tinggi sehingga menarik minat para petani untuk menanamnya. Rencananya, Kementerian Pertanian akan mengkampanyekan petani untuk menanam bawang putih dan meningkatkan produksinya.

Di Indonesia, terdapat empat sentra produksi bawang putih. Tempat-tempat tersebut adalah Tegal, Pemalang, Karanganyar, dan Palu. Pada 2011 ini, diharapkan produksi bawang putih nasional dapat meningkat kontribusinya dari 4% menjadi 8% dari kebutuhan nasional.

 

Bawang Putih Lokal dan Impor

Pada pertengahan 2011 ini, para pedagang bawang putih lebih memilih menjual bawang putih impor daripada menjual bawang putih lokal. Para pedagang ini mengatakan bahwa bawang putih impor lebih disukai pembeli dan  harganya pun lebih murah dibanding dengan produk petani bawang putih dalam negeri.

Seorang pedagang grosir mengatakan bahwa ia sudah menjual bawang putih dari Cina selama berbulan-bulan. Hal ini karena para konsumen lebih banyak yang memilih bawang putih impor karena lebih besar dan bersih. Namun, masalah rasa bawang putih lokal lebih enak.

Saat ini lahan pertanian bawang putih di Pulau Jawa hanya tersisa sekitar 70 hectare dari 10 hectare. Sisanya saat ini berpusat di Tegal, Jawa Tengah. Inilah yang membuat bawang putih lokal kalah bersaing dengan Cina sehingga kehilangan pasar.

 

 

Surplus, Shortage, dan Equilibirium Bawang Putih

 

Kasus I à Surplus

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

Tidak ! karena pada harga tersebut penjual mau menjual dengan jumlah 11.000 kg , tetapi pembeli hanya mau membeli dengan jumlah 5.000 kg. Jadi ada kelebihan (surplus supply) sebanyak 6.000 kg yang tidak terjual. Agar semua bawang putih laku terjual , penjual menurunkan harga jualnya. Jadi, harga Rp. 10.000/kg tidak akan menjadi harga yang berlaku umum dipasaran. Situasi ini disebut “buyers market” (pasar dikuasai oleh para pembeli). Jadi pembeli merupakan pihak yang kuat dari pada penjual. Karena penjual bersedia menurunkan harga dan mencari-cari pembeli agar semua bawang putih laku terjual. Hal ini akan menguntungkan bagi pembeli.

 

Kasus II à Shortage

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

Tidak ! karena pada harga tersebut penjual ingin menjual 7.000 kg sedangkan pembeli ingin membeli sebanyak 10.000 kg. Jadi ada kekurangan (shortage supply) sebanyak 3.000 kg. Hal ini menyebabkan pembeli berani membayar dengan harga lebih tinggi. Situasi ini yang disebut “sellers market” (pasar dikuasai oleh para penjual). Jadi penjual merupakan pihak yang kuat dari pada pembeli. Hal ini akan menguntungkan pihak penjual.

 

Kasus III à Harga Keseimbangan (Equilibirium)

  1. Apakah bawang putih pada harga Rp. 10.000/kg akan menjadi harga pasar yang berlaku umum ?

 

Dapat ! karena pada harga Rp. 10.000/kg, jumlah yang mau dibeli (Qd = 6.000 kg) dan jumlah yang mau dijual (Qs = 6.000 kg) tepat sama, tidak ada kekurangan dan tidak ada kelebihan. Jadi pada harga ini semua pihak akan mendapatkan apa yang diinginkan. Dan tidak ada alasan untuk menaikan atau menurunkan harga lagi (cateris paribus). Maka harga Rp. 10.000,- ini disebut harga keseimbangan (Equilibirium Price) yaitu harga yang menyeimbangkan permintaan dan penawaran, atau P dimana Qd = Qs.

 

Kurva Permintaan dan Penawaran

Dengan Qd = 6.000 kg dan Qs = 6.000 kg yang pada tingkat harga sama yaitu Rp. 10.000,- maka dapat dilukiskan dengan kurva. Jumlah (Qd dan Qs) diukur pada sumbu horizontal (sumbu x) dan harga per satuan kg diukur pada sumbu tegak (sumbu Y).Perpotongan kurva tersebut menunjukan harga keseimbangan yaitu Qd = Qs = Rp. 10.000 kg .

 

Keterangan Gambar Harga Keseimbangan (equilibirium)

Kurva permintaan (D) turun ke kanan bawah

Kurve Permintaan (D) turun ke kanan-bawah. Kurve Penawaran (S) naik ke kanan-atas. Perpotongan kurve D dan kurva S menunjukkan harga keseimbangan, yaitu P = Rp 10.000/kg. Pada harga itu jumlah yang diperjualbelikan Q = 6.000/kg.

 

Pada harga lebih tinggi, daripada harga keseimbangan tersebut, terdapat surplus. Supaya barangnya laku, para penjual terdorong untuk menurunkan harga jual. Sebaliknya jika harga lebih rendah daripada Rp 10.000/kg, maka ada kekurangan (shortage) bawang putih yang akan mendorong pembeli menawar harga yang Iebih tinggi.

 

Dan grafik segera tampak bahwa pada semua harga yang lebih tinggi daripada harga keseimbangan (pada P>10.000), maka Qs > Qd berarti terdapat surplus. Surplus ini akan mendorong para penjual untuk menurunkan harga jualnya. Pada harga yang lebih rendah itu, para penjual akan mengurangi jumlah yang ditawarkan (= hukum penawaran). Jika harga diturunkan, para pembeli akan bersedia membeli lebih banyak atau Qd bertambah (hukum permintaan). Proses ini berjalan terus sampai surplus tersebut hilang. Jadi misalnya apakah harga Rp 10.000/kg bisa terjadi? Bisa! Apakah harga Rp 10.000 akan dapat tahan lama? Tidak! Sebab pada harga Rp 10.000/kg itu Qs > Qd (11.000 kg > 5.000 kg) berarti masih tetap ada surplus/kelebihan supply.

 

Demikian pula pada semua harga yang lebih rendah daripada harga keseimbangan (pada P <10.000), maka Qd > Qs ,jadi ada kekurangan supply (Shortage). Kekurangan tersebut akan mendorong para pembeli untuk menawar dengan harga lebih tinggi, agar mendapatkan bawang putih sebanyak yang dibutuhkan. Hal ini terjadi sampai tercapai keseimbangan. Jadi misalnya harga Rp 10.000/kg, apakah akan bisa tahan lama? Tidak! Sebab pada harga itu Qd > Qs (10.000 kg > 7.000 kg).

 

Satu-satunya harga yang dapat bertahan lama ialah harga dimana Qs = Qs. Pada harga dan kuantitas itu kecenderungan menaikkan dan menurunkan harga atau untuk menambah dan mengurangi jumlah tidak ada. Maka harga Rp 10.000 / kg pada Qd = Qs = 6.000 kg adalah harga keseimbangan (Equilibrium price).

 

 

 

NAMA                  : CANDY GLORIA dan MUTHIYA GABRIELA MALAWAT

KELAS                    : SMAK 04-3

NPM                      : 21210516 dan 24210878

MATKUL              : TEORI EKONOMI 1*

                                   TUGAS kelompok ke-1

 

REFERENSI

http://www.anneahira.com/bawang-putih.htm

KESEIMBANGAN PASAR

Posted On November 5, 2011

Filed under TEORI EKONOMI 1 - SMAK 04-3

Comments Dropped leave a response

KESEIMBANGAN PASAR

(MARKET EQUILIBRIUM)

 

Ö    Keseimbangan pasar akan terjadi bila permintaan dan penawaran berada pada suatu titik yang sama (P,Q) jika dilukiskan dalam suatu kurva. Kurva yang melukiskannya biasa dikenal dengan Kurva keseimbangan pasar (Market Equilibrium).

Ö    Dalam kurva keseimbangan ini, garis penawaran dan garis penawaran akan bertemu pada suatu titik yang sama. Titik ekuilibirum tersebut akan mampu bertahan (stayed) dalam jangka panjang apabila pada titik tersebut konsumen dan produsen sama-sama diuntungkan atau setidaknya hanya memperoleh kerugian yang sangat kecil.

Ö    Suatu kondisi di mana penawaran lebih besar daripada permintaan atau dinotasikan dengan Qs > Qd, maka disebut dengan surplus (kelebihan penawaran).

Ö    Suatu kondisi di mana permintaan lebih besar daripada penawaran atau dinotasikan dengan Qd > Qs, maka disebut dengan shortage (kelebihan permintaan). Lihat kurva di bawah ini.

Dari kurva di atas, menunjukkan nilai sebagai berikut:

Penjelasan

  1. Saat harga barang ada dalam kondisi tertinggi yaitu $15, maka akan ada barang dalam jumlah lebih banyak yang ditawarkan oleh produsen sebesar 150 unit. Sedangkan saat harga barang ada dalam kondisi tertinggi yaitu $15, konsumen hanya akan mengajukan permintaan sebesar 50 unit. Maka telah terjadi surplus (kelebihan penawaran) sebesar 100 unit, yang dapat saja diekpor oleh produsen untuk mendapat laba lebih besar sedangkan kebutuhan konsumen juga sudah terpenuhi.
  2. Saat harga barang ada dalam kondisi $10, maka akan ada 100 unit yang ditawarkan oleh produsen. Dan pada saat itu, konsumen yang merasakan penurunan harga, akan mengajukan permintaan lebih lagi menjadi 100 unit. Dalam kondisi ini, terjadi titik temu (keseimbangan) antara Qs = Qd.
  3. Saat harga barang ada dalam kondisi terendah yaitu $5, maka hanya akan ada sedikit barang yang ditawarkan oleh produsen yaitu sebesar 50 unit. Sedangkan saat harga barang ada dalam kondisi terendah yaitu $5, konsumen malah akan mengajukan permintaan sebesar 150 unit. Maka telah terjadi shortage (kekurangan penawaran / kelebihan permintaan) sebesar 100 unit. Hal ini menyebabkan terjadinya kelangkaan barang karena kebutuhan konsumen juga tidak dapat terpenuhi dengan baik.

 

 

 

KEBIJAKAN PEMERINTAH

Dalam suatu perekonomian, pemerintah akan turut campur tangan, dengan tujuan untuk melindungi konsumen dan produsen. Ada dua cara yang dilakukan oleh pemerintah, yaitu dengan Pengendalian Harga (price control). Pengendalian harga yang dilakukan pemerintah dapat dengan cara menetapkan batas harga tertinggi (ceiling price) dan menetapkan batas harga terendah (floor price).

 

  1. Ceiling Price

Adalah batas maksimum harga penjualan oleh produsen, misalnya penetapan harga patokan setempat (HPS) yang dilakukan pemerintah untuk semen. Tujuan pemerintah adalah agar dapat terjangkau oleh konsumen dengan daya beli kurang. Namun, pengendalian ini tidak akan berdayaguna jika produsen ada dalam pasar oligopoly, terlebih lagi jika produsen monopoli.

Kita ambil saja contoh untuk kasus harga sembako di Indonesia. Pemerintah melakukan penetapan harga tertinggi untuk tujuan konsumen yang memilki daya beli kurang dapat melakukan konsumsi untuk kebutuhan hidup mereka. Lihat kurva.

Saat harga keseimbangan $12, maka kuantitas keseimbangan ada sebanyak 150 unit. Agar membantu konsumen dapat berkonsumsi dengan baik, pemerintah menetapkan harga di titik $8. Hal ini menyebabkan konsumen ingin menambah konsumsinya menjadi 190 unit (DQ = 40 unit). Sedangkan di titik $8, produsen hanya menyediakan kapasitas output sebesar 100 unit. Hal ini tentunya menyebabkan kelangkaan (shortage) sebanyak 90 unit.

 

  1. Floor Price

      Adalah batas harga minimum yang diberlakukan. Tujuan pemerintah adalah untuk melindungi produsen. Contoh, bila saat panen, agar harga beras tidak anjlok di pasaran. Lihat kurva.

Saat harga keseimbangan $15, maka kuantitas keseimbangan ada sebanyak 130 unit. Untuk melindungi produsen, pemerintah menetapkan harga di titik $20. Hal ini menyebabkan konsumen ingin mengurangi konsumsinya menjadi 90 unit (DQ = 40 unit). Sedangkan di titik $20, produsen akan menambah kapasitas output sebesar 180 unit (DQ = 90 unit). Hal ini tentunya menyebabkan kelebihan penawaran (surplus) sebanyak 90 unit. Pada kondisi ini, kebutuhan konsumen akan terpernuhi, dan produsen masih dapat mengekspor produknya.

 

 

 

 

NAMA              : CANDY GLORIA

NPM                 : 2121 0516

KELAS              : SMAK 04-3 (SARMAG)

MATKUL          : TEORI EKONOMI 1

TUGAS KE-5

 

FENOMENA PERGESERAN KURVA PENAWARAN

Posted On November 5, 2011

Filed under TEORI EKONOMI 1 - SMAK 04-3

Comments Dropped leave a response

Ö    Penawaran (Supply) adalah jumlah barang (Q) yang ditawarkan oleh produsen dalam rangka untuk dijual pada suatu tingkat harga (P) dalam pada periode tertentu. Kurva penawaran memiliki slope negative, yaitu bergerak dari kiri bawah ke kanan atas, seperti pada gambar.

Ö    Factor-faktor yang mempengaruhi penawaran adalah:

*    Harga barang itu sendiri

Jika harga barang tesebut sedang melambung dan naik, maka secara otomatis produsen akan berusaha untuk menambah kuantitas barang yang ditawarkan (Qs), karena produsen bermaksud menambah penjualannya untuk memperoleh tambahan laba. Hal ini memiliki esensi dari hukum permintaan yaitu:

P ­ maka Q ­

 

*    Harga barang lain terkait

Barang subtitusi (pengganti) akan mempengaruhi penawaran suatu barang. Misalnya jika harga celana import bertambah mahal, maka konsumen akan menggantikannya dengan celana produk local, hal ini akan mendorong naiknya penawaran celana produk lokal karena produsen lokal akan menambah produksinya.

 

*    Harga faktor produksi dan Biaya produksi

Faktor produksi yang meliputi bahan baku dan tenaga kerja juga mempengaruhi penawaran. Jika harga bahan baku meningkat maka harga barang yang ditawarkan juga akan naik. Hal ini menyebabkan produsen akan membatasi jumlah barang yang diproduksinya karena dibutuhkan modal yang lebih besar. Sehingga nilai Qs akan menurun.

 

*    Teknologi produksi

Teknologi yang sem,akin maju akan mendorong kenaikan produksi. Misalnya jika diproduksi dengan mesin yang lebih canggih, produk yang dihasilkan akan lebih banyak dan lebih cepat.

 

*    Jumlah pedagang

Dengan bertambahnya jumlah pedagang maka jumlah barang yang ditawarkan akan meningkat, begitupun sebaliknya.

 

*    Tujuan perusahaan

Tujuan suatu perusahaan adalah memaksimumkan laba, bukan untuk memaksimumkan tingkat hasil produksi. Oleh karena itu, produsen tidak akan memanfaatkan kapasitas produksinya secara maksimum, tapi menggunakannya saat tingkat produksi memberikan untung maksimum.

 

*    Kebijakan pemerintah

Kebijakan pemerintahj juga kan mempengaruhi penawaran suatu barang. Misalnya seperti yang terjadi di Indonesia, pemerintah mengurangi impor beras dan meningkatkan produksi dalam negeri agar tercapainya swasembada beras. Hal ini menyebabkan petani berusaha meningkatkan otuputnya di tiap kali panen. Kebijakan ini menambah supply beras dan keperluan impor beras dapat dikurangi.

 

Ö    Pergeseran kurva penawaran, pada saat harga tetap (hanya kuantitas yang mengalami pergeseran) dapat bergeser ke kanan yang artinya terjadi peningkatan penawaran barang (Qs ­) dan pergeseran ke kiri yang artinya terjadi penurunan penawaran (Qs ¯).

  1. Pergeseran kurva penawaran ke kanan (Qs ­)

 

Kita ambil contoh pergeseran penawaran baju kaos yang meningkat dari titik awal A sebesar 600 unit ke titik B sebesar 900 unit, sehingga terjadi kenaikan output sebesar 300 unit (DQs = 300). Berdasarkan kurva di atas ini dapat dilihat bahwa terjadi peningkatan output. Meningkatnya penawaran baju kaos ini dapat saja disebabkan oleh faktor teknologi, harga bahan baku, banyaknya penjual, dan subsidi (kebijakan pemerintah).

Jika teknologi yang digunakan oleh perusahaan konveksi lebih canggih, maka output yang dihasilkan (kaos) akan lebih banyak dan dalam waktu yang relatif lebih cepat, sehingga penawaran perusahaan konveksi akan baju kaos lebih besar.

Bukan hanya teknologi, tapi harga bahan baku juga mempengaruhi. Kita ambil contoh, jika harga bahan baku kaos dan benang turun, maka perusahaan konveksi akan memiliki modal lebih. Dari yang awalnya hanya dapt memproduksi 600 unit, karena penurunan harga bahan baku dapat memproduksi 900 unit.

Begitupun jika diamati dari segi banyaknya penjual. Oleh karena penjualan baju kaos sedang marak/booming. Maka akan semakin banyak orang yang tertarik untuk menjadi produsen baju kaos, sehingga penawaran output keseluruhan baju kaos dalam suatu negara meningkat.

Adanya campur tangan dari pemerintah, dalam hal ini adalah subsidi kepada perusahaan konveksi juga akan membuat produksi baju kaos meningkat, karena perusahaan konveksi mendapatkan tambahan modal dari subsidi pemerintah, sehingga dari yang awalnya hanya mampu memproduksi 600 unit, saat ini dapat memproduksi 900 unit.

 

2. Pergeseran kurva penawaran ke kiri (Qs )

Selanjutnya, pergeseran penawaran baju kaos yang menurun dari titik awal A sebesar 900 unit ke titik B sebesar 600 unit, sehingga terjadi penurunan output sebesar 300 unit (DQs = 300). Berdasarkan kurva di atas ini dapat dilihat bahwa terjadi penurunan output. Menurunnya penawaran baju kaos ini dapat saja disebabkan oleh faktor teknologi, harga bahan baku, banyaknya penjual, dan pajak (kebijakan pemerintah).

Jika teknologi yang digunakan oleh perusahaan konveksi mengalami gangguan, sebut saja mesin perusahaan konveksi tersebut mengalami kerusakan, maka output yang dihasilkan (kaos) akan lebih sedikit sehingga penawaran perusahaan konveksi akan baju kaos lebih kecil.

Bukan hanya teknologi, tapi harga bahan baku juga mempengaruhi. Misalnya saja, jika harga bahan baku kaos dan benang naik, maka perusahaan konveksi dalam keadaan jumlah modal yang tetap tapi bahan baku naik harus menurunkan kapasitas produksinya. Hal ini dikarenakan modal yang dimiliki perusahaan tidak mampu untuk membiayai produksi dengan jumlah sebelumnya. Dari yang awalnya sanggup memproduksi 900 unit, karena pkenaikan harga bahan baku hanya mampu memproduksi 600 unit.

Begitupun jika diamati dari segi banyaknya penjual. Saat beberapa penjual kaos musiman memutuskan untuk tidak melanjutkan penjualannya, karena masa penjualan baju kaos yang sedang marak/booming telah berlalu (biasanya terjadi pada baju kaos bola). Sehingga dampak terhadap penawaran output keseluruhan baju kaos dalam suatu negara menurun.

Adanya campur tangan dari pemerintah, dalam hal ini adalah pajak kepada perusahaan konveksi juga akan membuat produksi baju kaos menurun, karena perusahaan konveksi harus membayar pajak ke pemerintah, sehingga dari yang awalnya mampu memproduksi 900 unit, saat ini hanya dapat memproduksi 600 unit.

 

 

NAMA              : CANDY GLORIA

NPM                 : 2121 0516

KELAS              : SMAK 04-3 (SARMAG)

MATKUL          : TEORI EKONOMI 1

TUGAS KE-4