ANALISA JURNAL EKONOMI

Posted On January 26, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

ANALISA JURNAL

TEORI EKONOMI

Efisiensi Teknik Perbankan Indonesia


DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                         2121 0516

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

ANALISA JURNAL

JUDUL                : EFISIENSI TEKNIK PERBANKAN INDONESIA

                                       PASCAKRISIS EKONOMI

                                       (SEBUAH STUDI EMPIRIS PENERAPAN MODEL DEA)

 

PENGARANG    : Adrian Sutawijaya dan Etty Puji Lestari

 

TAHUN               : 2009

 

 

                I.       TEMA     : Efisiensi Teknik Perbankan Indonesia

 

 

            II.       LATAR BELAKANG MASALAH

A. Fenomena

Perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dituntut untuk memiliki kinerja yang baik. Perkembangan sektor keuangan di Indonesia berada dalam kondisi  pesat menjelang akhir 1980-an setelah keluarkannya paket Kebijakan Juni 1983 dan Paket Kebijakan Oktober 1988. Kedua kebijakan tersebut melatarbelakangi perkembangan industri perbankan sebagai salah satu industri keuangan di Indonesia. Jumlah bank meningkat dua kali lipat selama sepuluh tahun, yaitu dari 111 buah pada tahun 1988 menjadi 237 bank pada tahun 1997 (sebelum krisis), dan jumlah kantor bank meningkat lebih dari 200%, yaitu dari 1728 menjadi 6337 buah. Perkembangan sektor keuangan dilihat dari peningkatan jumlah aset bank, kemampuan bank dalam mengumpulkan dana dan menyalurkan kredit yang meningkat lebih dari 500% sejak tahun 1989 sampai tahun 1996 (Laporan Bank Indonesia).

B.  Riset Terdahulu

                    Penelitian ini berdasarkan pada penelitian Miller dan Noulas (1996) yaitu penelitian efisiensi perbankan di Amerika Serikat dari aspek profitabilitas menggunakan DEA dari sisi dualitasnya. Sementara penelitian ini menggunakan kasus dari Indonesia dengan pengembangan yang sesuai dengan karakteristik perbankan di Indonesia.

Penelitian ini ditujukan untuk mencari sumber inefisiensi teknik perbankan dengan membandingkan bank di Indonesia pada saat sebelum dan selama krisis berlangsung serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya inefisiensi teknik pada perbankan Indonesia. Secara umum kondisi perbankan di Indonesia belum semuanya efisien. Indikasi ini terlihat antara lain dari tingginya suku bunga kredit (prime rate) di Indonesia sebesar 18,5% pada tahun 1995, 16,75% tahun 1996 dan melonjak menjadi 39% pada tahun 1999. Angka ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Teori Efisiensi

Efisiensi dapat didefinisikan sebagai rasio antara output dengan input (Kost dan Rosenwig, 1979:41). Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu jika input yang sama menghasilkan output lebih besar, dengan input lebih kecil menghasilkan output sama, dan dengan input yang besar menghasilkan output lebih besar. Ditinjau dari teori ekonomi, ada dua pengertian efisiensi, yaitu efisiensi teknik (bersudut pandang mikro)dan efisiensi ekonomi (mempunyai sudut pandang makro). Pengukuran efisiensi teknik cenderung terbatas pada hubungan teknis dan operasional dalam proses konversi input menjadi output.

2. Teori Efisiensi Bank

Kurva biaya rata-rata bank menjadi sebuah ukuran bank yang biasanya dihitung dari nilai aset atau nilai simpanan dengan biaya produksi output per-unit (lihat Rose,1999:106, Sounders, 1999:290). Kurva ini digambarkan berbentuk U-Shaped yang mendatar pada bagian tengahnya (Rose, 1999:106) dengan implikasi rentang bank yang menghasilkan efisiensi maksimal.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa bank kecil memberikan pelayanan yang berbeda dengan bank besar, karena bank besar mampu memberikan jasa yang lebih lengkap. Implikasinya perhitungan biaya rata-rata yang dikeluarkan bank kecil berbeda dengan bank besar. Pada gambar 1, bank kecil dan menengah mencapaibiaya produksi yang paling rendah (100 juta dollar – 500 juta dollar AS) pada nilai asetnya. Sebaliknya bank besar mencapai titik optimal (2 – 10 milyar dollar AS). Hasil penelitian juga mengatakan bahwa tingkat efficiency antara 20  – 25% lebih besar dari keseluruhan biaya produksi yang seharusnya terjadi pada kondisi efisiensi maksimum.

3. Skala Ekonomis (economies of scale)

Inovasi teknologi dan ekspansi usaha dibutuhkan agar biaya yang harus dikeluarkan meningkat. Untuk memaksimalkan keuntungan suatu bank harus melakukan efisiensi terutama untuk skala ekonomis (economies of scale) yaitu dengan meningkatkan output, agar biaya produksi yang dikeluarkan semakin menurun (Saunders, 1997:290). Kecenderungan yang terjadi adalah biaya produksi rata-rata (average cost) yang dikeluarkan oleh bank menurun seiring dengan ekspansi.

C. Metode Penelitian

Perbankan memiliki peranan penting sebagai lembaga keuangan yang dituntut untuk memiliki kinerja yang baik. Salah satu aspek penting dalam pengukuran kinerja perbankan adalah efisiensi yang antara lain dapat ditingkatkan melalui penurunan biaya (reducing cost) dalam proses produksi. Oleh karena itu, bank yang lebih efisien diharapkan akan mendapat keuntungan yang optimal, dana pinjaman yang lebih banyak, dan kualitas servis yang lebih baik pada nasabah.

                III.       METODOLOGI

   A. Data

Data yang digunakan dalam DEA, dibagi dalam variabel input dan output yang diformulasikan ke dalam dua asumsi yaitu constant return to scale (CRS) dan variable return to scale (VRS). Perhitungan efisiensi dengan DEA menggunakan dua variabel input yaitu tenaga kerja dan aktiva perusahaan, serta dua variabel output meliputi pendapatan bunga dan pendapatan non bunga, masing-masing bank.

 

B. Variabel

Efisiensi teknis perbankan diukur dengan menghitung rasio antara output dan input perbankan. Data Envelopment Analysis (DEA) akan menghitung bank yang menggunakan input n untuk menghasilkan output m yang berbeda (Miller dan Noulas;1996). Efisiensi bank diukur sebagai berikut:

dimana:

hs adalah efisiensi teknik bank s

yis merupakan jumlah output i yang diproduksi oleh bank s

xjs adalah jumlah input j yang digunakan oleh bank s

ui merupakan bobot output i yang dihasilkan oleh bank s

vj adalah bobot input j yang diberikan oleh bank s, dan i dihitung dari 1 ke m serta j dihitung dari 1 ke n.

v    Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal Bank Indonesia, antara lain Direktori Bank Indonesia (2000-2004) yang berupa neraca dan laporan laba rugi bank, Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia beberapa edisi, dan Laporan Tahunan Bank Indonesia, serta hasil penelitian Biro Riset Infobank dan Asia Week.

v    Metode Analisis

DEA merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur efisiensi penelitian kesehatan (healt care), pendidikan (education), transportasi, pabrik (manufacturing), dan perbankan. DEA dirancang untuk mengukur efisiensi relatif suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) yang menggunakan input dan output yang lebih dari satu, dimana penggabungan tersebut tidak mungkin dilakukan. Efisiensi relatif suatu UKE adalah efisiensi suatu UKE dibandingkan dengan UKE lain dalam sampel yang menggunakan jenis input dan output yang sama.

 

                I.       HASIL dan ANALISIS

v Hasil Perhitungan Efisiensi Perbankan (Metode Variable Return To Scale)

Dilihat dari pencapaian secara rata-rata maka bank umum swasta nasional memiliki tingkat efisiensi paling rendah yaitu berkisar antara 46 – 82%, bahkan tidak satupun bank swasta yang dipakai sebagai sampel yang memiliki efisiensi maksimal 100%. Untuk itu bank swasta harus lebih meningkatkan kinerja agar bisa bersaingdengan bank pemerintah dan bank pembangunan. Menurut tingkat efisiensi keseluruhan, ternyata tingkat efisiensi bank pembangunan daerah secara rata-rata paling tinggi dibandingkan bank pemerintah dan bank swasta (sesuai dengan kajian yang dilakukan Ferrier dan Lovell (1990); yang menyatakan bahwa bank yang kecil justru lebih efisien dibandingkan bank besar).

 

v Hasil Analisis Tiap Variabel (Metode VRS)

Hasil pencapaian efisiensi tiap variabel dengan metode variable return to scale menunjukkan bahwa rata-rata tiap variabel menunjukkan bahwa tenaga kerja merupakan variabel yang memiliki nilai efisiensi rata-rata paling rendah yaitu sebesar 39.08% disusul oleh aktiva dengan nilai rata-rata 43,70%. Rendahnya pencapaian nilai efisiensi disebabkan bank kelebihan tenaga kerja sehingga optimalitas kerja menurun.

 

v Hasil Perhitungan Efisiensi Perbankan (Metode Constant Return to Scale)

Hasil perhitungan dengan DEA tahun 2004 menunjukkan bahwa terjadi efisiensi pada empat bank yakni Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Jateng dan Bank Jabar. Tingkat efisiensi bank Mandiri tahun 2003 menurun dan mengalami peningkatan kinerja tahun 2004 sampai 100%. Pada tahun ini bank yang pencapaian efisiensi terkecil adalah BCA. Hasil ini sejalan dengan temuan Ferrier dan Lovell (1990) yang mengevaluasi efisiensi 575 bank di Amerika Serikat tahun 1984 bahwa bank besar justru yang lebih sulit untuk mencapai efisiensi maksimal.

 

v Hasil Analisis Tiap Variabel (Metode CRS)

Nilai efisiensi rata-rata antar variabel terbesar dicapai oleh pendapatan

bunga dan pendapatan non bunga dengan tingkat pendapatan efisiensi sebesar 100%. Sesuai dengan fakta yang terjadi bahwa saat ini kecenderungan bank untuk memperoleh pendapatan di luar bunga dengan kartu pastik untuk memberi kemudahan yang berguna untuk menarik minat konsumen. Yang terpopuler  ditawarkan adalah kartu kredit dan ATM. Fleksibilitas dalam pembayaran dan angsuran menyebabkan kartu ini diminati masyarakat karena masyarakat tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar.

 

            II.       KESIMPULAN dan REKOMENDASI

            KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian efisiensi teknis perbankan di Indonesia yang dilakukan terhadap 12 bank di Indonesia dengan menggunakan DEA-CRS, dan DEA-VRS adalah sebagai berikut:

1.      Perhitungan DEA untuk efisiensi teknik dengan asumsi teknologi VRS dan teknologi CRS. Umumnya rata-rata pencapaian efisiensi setiap variabel mengalami penurunan. Kenyataannya, pada saat krisis, bank cenderung mengadakan efisiensi, agar biaya yang dikeluarkan menurun. Hal ini dilakukan karena selama krisis fungsi bank sebagai financial intermediary tidak berjalan normal, akibatnya, pendapatan bank menurun.

2.      Hasil analisis DEA seluruh kelompok bank mengalami penurunan efisiensi selama krisis, kecuali bank mandiri. Sehingga simpulannya adalah bank mandiri memiliki performance terbaik. Indikasi ini terlihat dari rendahnya presentasi penurunan efisiensi dengan asumsi CRS dan asumsi VRS.

 

   REKOMENDASI

Saran yang diajukan terhadap penelitian ini adalah sebaiknya diadakan aturan internal bank untuk menggunakan sistem kontrak untuk pegawainya yang bisa diperbaharui setiap dua tahun sekali. Dengan demikian bank bisa mengefisiensikan penggunaan tenaga kerjanya. Upaya lain adalah dengan meningkatkan produk-produk pelayanan jasa bank karena sektor perbankan yang rentan terhadap perubahan struktur ekonomi. Perwujudan dapat dilakukan dengan ATM perbankan, go public, pemberian kredit properti dan konsumsi ataupun dengan pembuatan kartu kredit. Peranan pemerintah dan pihak perbankan juga diperlukan dalam membenahi program restrukturisasi dan privatisasi, sehingga lebih kompetitif yang dapat dilakukan dengan penambahan modal, meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, operasional dan skill terutama untuk sumber daya manusianya.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s