SYARIAH Se-booming Syahrini

Posted On April 13, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Image

Dewasa ini sedang booming-boomingnya tentang seleb wanita yang cantik jelita bin berbakat ini, ya pokoknya sangat fenomenal deh di industri hiburan tanah air. Begitu juga dengan industri perbankan tanah air yang juga tengah booming soal Bank Syariah. Mulai dari produknya, konsepnya yang tanpa riba, keunggulan-keunggulannya, dan sebagainya. Di sini saya mencoba menuangkan kembali informasi yang saya baca dari hasil browsing ke mana-mana sampai melalang buana ke situs BI. Oke, enjoy it !

***************************************************************************************************************************************

Image

PERKEMBANGAN dan KONDISI TERKINI

Tahun 2012 yang baru saja dimulai ini bisa dibilang cukup ada dalam kondisi yang “aman” tercermin dari pertumbuhan Indonesia terutama industri perbankan yang cukup kuat dan positif di tengah ombak penurunan ekonomi dunia. Oleh karena kondisi makro ekonomi yang relatif stabil, keadaan industri perbankan pun mengalami peningkatan dalam pengembangannya. Setelah dirating, hasil dari Islamic Finance Country Index menyatakan bahwa industri perbankan syariah Indonesia masuk di urutan ke-empat di bawah Iran, Arab Saudi, dan Malaysia yang notabene-nya selalu jadi peran utama keuangan syariah global. What an amazing news !

 

Angka rata-rata pun yang cukup luar biasa perihal pertumbuhan aset perbankan syariah selama lima tahun belakangan yang naik ke posisi 40% sementara pertumbuhan perbankan konvensional hanya berada di titik 20%. Ditinjau dari segi aset, total aset perbankan syariah sebesar Rp 125,5 triliun, naik dari 2010 yang hanya sekitar Rp 97,5 triliun (berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia, Oktober 2011).

 

AKANKAH KRISIS MENERJANG ?

Krisis yang terjadi negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Eropa disinyalir memang akan memberi kontribusi terhadap perbankan Indonesia, baik langsung atau tidak. Kenapa bisa begitu? Simpel saja, jawabannya karena mayoritas sistem keuangan Indonesia perbankan. Untungnya di tengah-tengah kegalauan ekonomi yang terjadi itu tidak berdampak langsung ke Indonesia karena eksposur luar negeri hanya sekitar Rp100 triliun (sekitar 3% dari aset perbankan nasional) begitupun juga terhadap perbankan Syariah yang minim terkena dampak karena portfolio pembiayaannya hanya Rp92.8 triliun (September 2011) dan nyaris semua pembiayaannya ada usaha di sektor riil domestik, bukan luar negeri. Penggunaan dana nasabah dengan distribusi kredit ke sektor usaha produktif juga ikut serta dalam mendukung kekuatan kondisi perbankan.

 

Kabar gembira berikutnya adalah sekarang Indonesia berada di posisi “investment grade” dari BB+ menjadi BBB yang didapat dari International Credit Rating. Setidaknya, posisi credit rating Indonesia bisa disejajarkan dengan negara maju yang diterpa badai krisis. Hal yang luar biasa, karena saat negara maju sedang collapse, Indonesia malah bisa survive. Harapannya adalah kemampuan Indonesia untuk survive ini akan menarik minat inestasi dari investor asing di industri perbankan.

 

UDEK-UDEK DATA BPS

  1. Isi Kantong Syariah-Sumber Dana

Image

Bicara soal dana, Bank Syariah ini juga tergolong cukup hebat, padahal belum lama juga dilaunching dan langsung booming. Pendanaan dari nasabah yang cukup besar menjadikannya kuat untuk menahan gejolak ekonomi yang membuat negara-negara besar saja collapse, tapi karena nyaris semua pembiayaannya ada usaha di sektor riil domestik, bukan luar negeri. Memang dengan diagram kue pie seperti ini kita akan lebih mudah untuk melihat hasilnya. Di bagian yang berwarna ungu sebesar 87,4% dana yang dimiliki oleh bank syariah berasal dari pihak ketiga (nasabah), sedangkan dana-dana lainnya seperti modal, pinjaman, surat berharga, dan kewajiban hanya menjadi minoritas yang bisa dikatakan tidak signifikan. Fenomena ini cukup luar biasa karena dapat memback up industri perbankan di Indonesia ini.

  1. Harta Karun Syariah-Total Aset

Image

Berdasarkan data statistik perbankan syariah Bank Indonesia bulan Desember 2011, total aset perbankan syariah sebesar Rp 140,0 triliun, naik dari November 2011 yang hanya sekitar Rp 125,0 triliun. Konsep perlahan namun pasti sepertinya dianut oleh Perbankan Syariah Indonesia. Tercermin dalam grafik bahwa dari masa ke masa peningkatan terus terjadi walaupun hanya merayap, tapi seperti yang telah diulas sebelumnya bahwa selama 5 tahun belakangan ini pertumbuhannya menembus angka 40% per tahun. Lain lagi dengan  dana pihak ketiga dan pembiayaan yang diberikan masing-masing mencapai Rp 115 triliun dan Rp 100 triliun dengan tingkat financing to deposit rasio (FDR). Jumlah pemain perbankan syariah tidak bertambah satu tahun terakhir ini baik dari jumlah Bank Umum Syariah (BUS), yaitu 11 BUS dan Unit Usaha Syariah (UUS), yaitu 23 UUS.

 

KEJAR TARGET SYARIAH 2012

Niat BI seputar peningkatan laju Bank Syariah begitu gencar dan sigap. Di awal tahun 2012 ini saja BI tengan menyiapkan strategi-strategi yang unik sehingga diharapkan mampu untuk meningkatkan kinerja Perbankan Syariah dan menembus 4% total aset perbankan nasional. Ada beberapa strategi yang dirancangkan oleh BI untuk kejar target yang tak lain ditujukan untuk mencapai level pertumbuhan di atas 50% dan bisa mendapatkan 4% market share nasional. Saat diwawancara oleh ANTARA (Bandung), Halim Alamsyah selaku Deputi Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa saat ini aset perbankan syariah di Indonesia ada di posisi 130 triliun (3,78% dari total aset perbankan nasional) dengan total pertumbuhan aset 48% dibanding 2010 lalu.

 

Di awal 2012 ini, kinerja perbankan syariah akan bergerak semakin naik karena terdapat 3 Bank Syariah baru, seperti BCA Syariah, Panin Syariah dan Bank Victoria. Sang nara sumber, Bandung Lucky Fathul Azis selaku Pimpinan Kantor Bank Indonesia (KPI) mendeskripsikan bahwa daerah Jawa barat seperti Bandung, pertumbuhan aset perbankan syariah mencapai 44,545 persen dengan total aset saat ini sebesar Rp14,8 triliun. Proporsi perbankan syariah Jabar saat ini sudah mencapai 5,2 persen dari total aset perbankan se-Jabar. Hal ini memberikan angin segar bahwa pertumbuhan perbankan syariah di Jabar optimistis naik pada 2012. Hal menarik berikutny yang ada di Jabar adalah dibentuknya “Sharia Center” Jabar sebagai tempat sosialisasi, pembelajaran, dan penelitian tentang ekonomi dan perbankan syariah.

 

REFERENSI

http://id.berita.yahoo.com/bi-siapkan-strategi-perbankan-syariah-untuk-2012-082012578.html

http://koran.republika.co.id/koran/24/151317/Proyeksi_Perbankan_Syariah_2012

http://www.bi.go.id/web/id/Statistik/Statistik+Perbankan/Statistik+Perbankan+Syariah/

http://www.pkesinteraktif.com/edukasi/opini/3141-outlook-perbankan-syariah-2012.html

http://zonaekis.com/proyeksi-perbankan-syariah-2012/

Advertisements

…Lebih Global, Lebih Mendasar… [O][B][R][O][L][A][N] [T][E][N][T][A][N][G] [B][A][N][K]

Posted On March 29, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Di bumi ini yang katanya sempit, siapa sih yang belum tahu tentang Bank? Atau belum pernah ke Bank mungkin?

Waahh..pastinya semuanya kenal sama yang namanya “Bank”. Mulai dari kecil pasti sudah diajak sang bunda nabung ke Bank, atau pas jadi mahasiswa dan mau bayaran uang kuliah, pasti mesti kudu masuk ke Bank dan administrasi keuangannya diurus di lembaga yang satu ini. Tapi, apakah kita sudah kenal lebih dekat lagi tentang si Bank? Kenalan lebih lagi yuk.. Itung-itung silahturahmi deh..

Come on, guys !

***************************************************************************************************************************

  • PENGERTIAN

Seturut dengan Kitab Suci Perbankan alias Undang-Undang perbankan No.10 tahun 1998, bank adalah:

“badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk pinjaman (kredit) atau bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.”

Jadi, singkatnya perbankan itu adalah segala sesuatu tentang bank, mulai dari kelembagaan, aktivitas/usaha, dan cara/proses dalam pelaksanaan kegiatan usahanya.

  • FUNGSI

Perbankan Indonesia memiliki fungsi utama, yaitu sebagai penghimpun dana dan penyalur dana masyarakat. Secara umum dikenal dengan konsep “tangan kanan-tangan kiri”. Maksudnya adalah tangan kanan bank mendapat dana dari himpunan masyarakat yang nabung selanjutnya disalurkan lagi oleh bank ke masyarakat dengan tangan kirinya. Timbal baliknya sama-sama disebut bunga. Perbedaannya cuma yang yang satu adalah bunga tabungan (Bank yang memberikan ke nasabah) dan bunga pinjaman (Nasabah yang harus membayarkannya ke pihak Bank).

Inti dari keseluruhan fungsi Bank adalah bagaimana caranya untuk memperoleh sumber dana dari surplus unit (pihak yang menabung di Bank) yang kemudian akan dialokasikan lagi ke defisit unit (pihak yang membutuhkan kucuran dana pinjaman). Aktivitas ini juga menjadi jantung perbankan yang disebut Asset and Liability Management. Oleh karena itu, Bank sering juga dikenal dengan sebutan financial intermediary (perantara keuangan).

  • JENIS

Berbicara tentang jenisnya, Bank terbagi atas Bank Umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR). Penjelasannya digambarkan di tabel ini:

Bank Umum

Bank Perkreditan Rakyat (BPR)

Bank yang kegiatan dan aktivitas usahanya secara konvensional atau dengan prinsip syariah dan memberikan layanan untuk lalu lintas pembayaran.

Bank ini harus memiliki modal minimal 100 miliar sebelum 2010 akhir.

Bank yang kegiatan dan aktivitas usahanya secara konvensional atau dengan prinsip syariah tapi tidak memberikan layanan untuk lalu lintas pembayaran.

 

  • SUMBER DANA BANK

Bank memperoleh dana dari tabungan masyarakat yang disimpan dalam ebberapa bentuk. Dana simpanan ini menjadi sumber dana terbesar yang dimiliki Bank untuk melakukan aktivitas keuangannya. Tabungan nasabah tersebut terbagi atas:

Giro

Simpanan yang bisa ditarik kapan saja dengan cek, bilyet giro, atau dengan validasi (pemindahbukuan).

Deposito

Simpanan yang bisa ditarik pada satu waktu tertentu jika telah ada perjanjian antara nasabah penyimpan dengan pihak Bank.

Sertifikat Deposito

Simpanan deposito dengan bukti sertifikat yang bisa dipindahtangankan.

Tabungan

Simpanan yang bisa ditarik dengan kesepakatan saja, tidak dapat ditarik dengan cek dan bilyet giro.

Selain dari himpunan dana masyarakat tersebut Bank juga dapat memperoleh dana dari aktivitas perdagangan surat berharga, seperti yang ada di pasar modal dan pasar uang.

 

  • ALOKASI DANA BANK

Kembali lagi ke Kitab Suci Perbankan, menurut Peraturan Bank Indonesia No: 7/2/PBI/2005 tentang Penilaian Kualitas Aktiva Bank Umum, yang dimaksud dengan aktiva produktif adalah penyediaan dana Bank untuk memperoleh penghasilan dalam bentk kredit, surat berharga,, penempatan dana antar Bank, tagihan akseptasi, tagihan atas surat berharga yang dibeli dengan perjanjian dijual kembali, tagihan derivatif, penyertaan, transaksi rekening administrasi dan penyediaan dana lainnya. Berdasarkan Peraturan Bank Indonesia No: 7/2/PBI/2005, Aktiva produktif dikelompokan menjadi empat, yaitu:

  1. Kredit: penyediaan uang atas dasar kesepakatan pinjam-meminjam antara bank dengan pihak lain dan melunasi pinjamannya sampai kurun waktu tertentu dengan pembayaran bunga.
  2. Surat berharga : Surat pengakuan atas hutang, wesel, obligasi, sekuritas kredit, derivatif, dan kewajiban penerbit yang bisa diperdagangkan dalam pasar modal atau pasar uang.
  3. Penempatan dana : penanaman dana Bank pada bank lainnya, biasa dalam bentuk giro, depostio berjangka, sertifikat deposito, dan sebagainya.
  4. Penyertaan modal : penanaman dana Bank dalam saham seperti dalam Undang-undang yang berlaku seperti perusahaan asuransi, modal ventura, penanaman dalam bentuk surat konvertibel.

 

  • PRODUK PERBANKAN

Bagi individu atau kelompok, Bank merupakan cash management untuk mengelola keuangannya. Oleh karena itu, Bank meluncurkan beberapa produk yang dapat digunakan untuk memberikan jasa pengiriman uang lokal, nasional, dan internasional. Bank juga memperoleh komis (fee) dari tiap-tiap layanan tersebut, tapi tidak sitentukan oleh tingkat suku bunga atau sering disebut dengan fee based income. Berikut adalah contoh dari produk layanan Bank:

Layanan e-banking

Automated teller Machine (ATM)

Di Indonesia dikenal dengan Anjungan Tunai Mandiri. Mesin ini berbentuk seperti komputer yang bisa digunakan untuk melakukan penarikan tunai, transfer, penyetoran, dan cek saldo. Mesin ini disediakan oleh Bank.

Computer Banking

Nasabah bisa mengakses layanan ini lewat koneksi internet untuk menerima atau membayar tagihan.

Electronic Bill Presentment & Payment (EBPP)

Pembayaran tagihan yang disampaikan Bank ke nasabah melalui media online seperti e-mail. Nasabah juga bisa melakukan pembayran atas tagihannya via online.

Electronic Check Conversion

Mendukung proses transfer online untuk konversi info yang ada di cek, seperti no.rekening, jumlah nominal, dan sebagainya.

Electronic Fund Transfer

Layanan transfer uang atau pinjaman dari satu rekening ke rekening lainnya dengan media elektronik.

Direct Payment

Pembayaran yang memungkinkan nasabah untuk membayar via transfer dana elektronik dari nasabah ke kreditor. Nasabah harus menginisiasi tiap transaksi.

Direct Deposit

Pembayaran suatu intituisi seperti membayar gaji karyawan via transfer elektronik ke rekening nasabah.

Preauthirized Debit

Pembayarannya akan rutin secara otomatis, sehingga Bank langsung akan mendebit sejumlah uang dari rekening nasabah.

Debit Card

Kartu yang digunakan di mesin ATM dan dapat digunakan nasabah untuk mendebit dana dari rekeningnya.

Payroll Card

Kartu pengganti cek yang biasa dimiliki oleh perusahaan yang dpaat juga digunakan oleh si karyawan.

Prepaid Card

Kartu yang memiliki nilai moneter karena sudah ditanamkan dana oleh nasabah, contoh kartu flash.

Smart Card

Kartu dengan chips khusus yang tertanam nilai moneter di dalamnya. Dapat menyimpn data pribadi, validasi PIN, contohnya kartu CoMet (e-ticketing kereta listrik).

Store-value Card

Kartu dengan simpanan sejumlah nilai moneter yang terbagi atas single purpose (kartu telpon), limited purpose, dan multipurpose (MasterCard, Visa).

Itulah cerita dan obrolan tentang Bank. Semoga Bank-Bank di Indonesia dapat memberikan pelayanan dengan lebih baik  sehingga masyarakat lebih tertarik lagi untuk menabung seperti syair lagu “… bang bing bung, yok kita menabung.. tahu-tahu kita pasti dapet untung..” Tingkatkan terus saldo tabungan anda !

 

By      : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

 

REFERENSI:

Margianti, E S; Hermana, Budi. Manajemen Dana Bank Prinsip dan regulasi di Indonesia/Sumber Penggunaan Dana Bank

…Do you want to know more?… [B][A][N][K] [S][Y][A][R][I][A][H]

Posted On March 29, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Di sini saya membahas tentang “Bank Syariah”, hal-hal unik seputar dirinya. Eitss, tunggu dulu.. Bank di sini tuh maksudnya Bank Lembaga Keuangan itu lho, bukan Bang Samiun si tukang siomay, Bang Jaja tukang sate, atau Bang kumis spesialis sop kambing. Bagi yang tertarik baca-baca tentang bank syariah ini langsung saja deh baca-baca halaman ini. Sekedar info, saya nulis ini dari hasil baca dan merangkum beberapa sumber, ada yang dari buku dan browsing juga. Oke, Met baca !
Be ready and just stay on this page.. Get Closer !

Come on, guys !

**************************************************************************************************************************************

  • CERITA TENTANG BANK SYARIAH

Bank syariah memiliki sistem operasi di mana pemilik dana menanamkan uangnya di bank tanpa bermotif untuk mendapatbunga, tapi mendapatkan keuntungan bagi hasil. Dana nasabah disalurkan kepada mereka yang membutuhkan (misalnya modal usaha) dengan perjanjian pembagian keuntungan sesuai kesepakatan.

Dewasa ini, jumlah total perbankan syariah mencapai 90,4 triliun rupiah menurut hasil statistik yang dilakukan oleh BPS November 2010 lalu. Perbankan syariah ini terdiri atas 11 bank umum syariah, 23 unit usaha syariah, dan 149 BPR syariah. Namun, jika dibandingkan dengan Bank umum, dari segi aset Bank syariah masih tertinggal jauh. Bayangkan saja, aset bank umum sudah mencapai 2.856.274 miliar rupiah.

Bank Indonesia menyebutkan bahwa perbankan syariah di Indonesia dalam pengembangan sistem perbankan syariah di Indonesia berada di lingkaran kerangka dual-banking system atau sistem perbankan ganda dalam API (Arsitektur Perbankan Indonesia) dengan harapan mampu memberikan alternatif jasa perbankan yang semakin baik. Keduanya, perbankan syariah dan perbankan konvensional ditujukan saling bersinergi untuk mendukung mobilisasi dana masyarakat dan pembiayaan di sektor ekonomi.

Sebenarnya, prinsip kerja Bank syariah beroperasi atas dasar bagi hasil yang menguntungkan nasabah dan Bank. Aspek keadilan dalam bertransaksi, kesantunan/etika berinvestasi, nilai-nilai kebersamaan juga diperlihatkan di sini, dan motif speku;latif juga berusahan untuk dihindari. Terbitnya kitab Suci alias Undang-Undang No.21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah tertanggal 16 Juli 2008 semakin mendukung pertumbuhan bank ini sehingga peranan dalam mendukung perekonomian Indonesia juga semakin signifikan.

  • PENGERTIAN, PRINSIP, FUNGSI

Prinsip syariah adalah hukum Islam (perbankan) dalam fatwa yang dikeluarkan oleh lembaga berwenang. Jadi, prinsip syariah dalam Bank itu sendiri merupakan perjanjian yang tentu saja atas dasar hukum islam (berlandaskan Al-Qur’an dan Hadits Nabi SAW.) antara Bank dengan pihak lain untuk kegiatan keuangan. Bank Syariah adalah bank yang beroperasi dengan tidak mengandalkan pada bunga.

Tujuan dari Bank syariah itu sendiri adalah untuk menunjang pembangunan nasional yang diharapkan mampu meningkatkan keadilan, kebersamaan, dan pemerataan kesejahteraan rakyat. Dana di Bank syariah itu sendiri dihimpun darti wakaf uang yang selanjutnya dialokasikan kembali ke pengelola wakaf (nazhir) dengan izin dari pemberi wakaf (wakif). Konsep financial intermediary juga berlaku dalam Bank syariah, tapi sumber karakteristik pengumpulan dana dan pengalokasiannya berbeda dengan Bank konvensional.

Bank Syariah

Bank Konvensional

Melakukan investasi-investasi yang halal saja.

Investasi yang halal dan haram.

Berdasarkan prinsip bagi hasil, jual beli, atau sewa.

Memakai perangkat bunga.

Berorientasi pada keuntungan (profit oriented) dan kemakmuran dan kebahagian dunia akhirat.

Berorientasi pada keuntungan semata (Profit oriented).

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kemitraan.

Hubungan dengan nasabah dalam bentuk hubungan kreditur-debitur.

Penghimpunan dan penyaluran dana harus sesuai dengan fatwa Dewan Pengawas Syariah.

Tidak terdapat dewan sejenis.

 

Pada prinsipnya, dalam menjalankan kegiatannya Bank syariah harus berlandaskan pada syariat Islam, seperti :

1. Prinsip Simpanan (Al-Wadiah)

Dianggap sebagai titipan murni dari satu pihak ke pihak lain yang harus dijaga dan dikembalikan sewaktu-waktu jika si penitip menghendaki (Syafi’I Antonio, 2001). Al-wadiah terdiri atas Wadiah Yad Al-Amanah (Trustee Depository) dan Wadiah Yad adh-Dhamanah (Guarantee Depository).

2. Prinsip Bagi Hasil (Profit Sharing)

Tatacara pembagian hasil usaha antara penyedia dana dengan pengelola dana.

3. Prinsip Jual-Beli (Al-Tijarah)

Tata cara jual beli, Bank akan membeli barang yang dibutuhkan duluan atau mengangkat nasabah sebagai agen bank untuk melakukan pembelian barang atas nama bank, selanjutnya bank menjual barang tersebut kepada nasabah dengan harga sejumlah harga beli yang ditambah dengan keuntungan.

4. Prinsip Sewa (Al-Ijarah)

Akad pemindahan hak guna atas barang/ jasa lewat pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan hak kepemilikan atas barang itu sendiri. Ada dua jenis Al-ijarah, yaitu Ijarah (sewa murni) dan ijarah al muntahiya bit tamlik (gabungan sewa-beli, penyewa mempunyai hak untuk memiliki barang pada akhir masa sewa).

5. Prinsip Jasa (Fee-Based Service)

Meliputi seluruh layanan non-pembiayaan yang diberikan bank.

 

  • KARAKTERISTIK

Sebagaimana Bank pada umumnya, Bank syariah juga memiliki karakteristik yang menjadi ciri khasnya. Karakteristiknya adalah:

• 4 Asas utama : kemitraan, keadilan, transparansi, dan universal,

• Dilarang keras untuk memungut riba,

• Tidak menganut konsep time-value of money,

• Uang sebagai alat tukar, bukan komoditas,

• Tidak boleh bermotif spekulatif,

• Tidak diperkenankan menggunakan dua harga untuk satu barang,

• Dalam satu akad tidak diperbolehkan menjalani dua transaksi,

• Konsep bagi hasil (profit sharing),

• Tidak membedakan secara tegas antara sektor moneter dan riil,

• Memperoleh imbalan atas jasa perbankan lain selama tidak bertentangan dengan prinsip syariah, dan

• Syarat transaksi harus sesuai dengan prinsip syariah, yaitu tidak mengandung unsur kedzoliman, bukan riba, tidak membahayakan pihak sendiri dan orang lain, tidak ada unsur penipuan, tidak mengandung materi yang diharamkan, serta tidak mengandung unsur judi.

 

  • SUMBER DANA

Simpanan merupakan kepercayaan nasabah dalam memberikan dananya untuk disimpan dan dikelola oleh pihak Bank atas dasar prinsip syariah dan tentunya dengan nama yang berbeda dengan yang ada di Bank konvensional, seperti:

Giro

Wadi’ah yad dhamanah

Simpanan yang penarikannya dapat dilakukan setiap saat dengan menggunakan cek, bilyet giro, sarana perintah pembayaran lain atau dengan pemindahbukuan.

Tabungan

Wadi’ah yad dhamanah dan mudharabah

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan menurut syarat tertentu yang telah disepakati, dan tidak dapat ditarik dengan cek.

Deposito

Mudharabah (investasi)

Simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu menurut perjanjian antara penyimpan dan bank yang bersangkutan.

Simpanan khusus

Mudharabah Muqayyadah

 

 

  • ALOKASI DANA

Seperti halnya aktiva produktif dalam Bank konvensional, Bank syariah juga memiliki aktiva produktif (syariah), yaitu penanaman dana Bank syariah dalam rupaih atau valuta asing baik dalam bentuk piutang, qardh, surat berharga syariah, penempatan, penyertaan modal, dan kontijensi administrasi. Berikut adalah tabel dari konsep-konsep penyaliran dana Bank syariah:

Mudharabah

Perjanjian atas suatu jenis perkongsian, dimana pihak pertama menyediakan dana, dan pihak kedua bertanggung jawab atas pengelolaan usaha. Hasil usaha dibagikan sesuai nisbah yang disepakati bersama secara awal. Prinsip ini dikenal sebagai “qiradh” atau “muqaradah”.

Musyarakah

Perjanjian di antara pemilik dana untuk menggabungkan dana mereka dalam suatu usaha dengan pembagian keuntungan yang telah disepakati.

Murabahah

Penjualan barang dengan harga jual sebesar harga perolehan ditambah keuntungan yang disepakati dan penjual harus mengungkapkan harga perolehan barang tersebut kepada pembeli.

Salam

Akad jual-beli muslam fiih (barang pesanan) dengan pengiriman di kemudian hari oleh muslam illaihi (penjual) dan pelunasannya dilakukan oleh pembeli pada saat akad disepakati sesuai dengan syarat-syarat tertentu.

Istishna

Akad jual-beli dalam bentuk pemesanan pembuatan barang tertentu dengan kriteria dan persyaratan tertentu yang disepakati antara pemesan (pembeli, mustashni’) dan penjual (pembuat, shani’).

Ijarah

Perjanjian sewa terhadapa suatu barang dalam waktu tertentu melalui pembayaran sewa.

Qardh

Penyediaan dana terhadap pihak peminjam untuk melakukan pembayaran sekaligus atau cicilan dalam jangka waktu tertentu.

Surat berharga syariah

Surat bukti dari investasi atas dsar syariah yang boleh diperjualbelikan di pasar uang atau pasar modal, seperti obligasi, wesel, dan surat berharga lain.

Penempatan

Penanaman dana Bank syariah pada bank syariah lainnya atau pada BPR syariah dalam bentuk giro/tabungan wadiah, deposito berjangka, dan sebagainya.

 

By      : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

 

REFERENSI:

Margianti, E S; Hermana, Budi. Manajemen Dana Bank Prinsip dan regulasi di Indonesia/manajemen Dana Bank Syariah.

http://zonaekis.com/perkembangan-akuntansi-bank-syariah/

…Berbagi Cerita yuk tentang… [S][H][A][D][O][W] [B][A][N][K][I][N][G]

Posted On March 28, 2012

Filed under Bank & Lembaga Keuangan

Comments Dropped leave a response

Siapa sih “Shadow Banking”? Makluk kaya apa sih? Bentuknya gimana? Emangnya “Shadow Banking” ngapain aja kerjanya? Bla..bla..bla..
Let’s check it out here.. ^^
****************************************************************************************************************************************

“Shadow Banking” merupakan lembaga keuangan non-bank, memang bergerak di bidang keuangan, tapi dia bukan Bank. Akan tetapi, lembaga ini memiliki layanan untuk pinjaman kredit, melalui produk angsuran. Konsepnya, walaupun mirip Bank, tapi ini tetap saja bukan Bank. Ya, seperti pernyataan “serupa tapi tak sama”. Di Indonesia sendiri, lembaga “Shadow Banking” ini sudah menyebarluas, melanglang buana kemana-mana, mulai dari Sabang sampai Merauke. Di perkotaan besar, di Kabupaten pasti tetap ada beberapa “Shadow Banking” yang buka tenda dan menjadi langganan masyarakat yang umumnya menengah ke bawah. Jadi, bisa dikatakan popularitas si lembaga keuangan non-bank ini benar-benar sedang tenar di kalangan masyarakat. Kenapa? Soalnya lembaga ini memberikan layanan kredit dengan syarat relatif mudah bagi langganannya yaitu masyarakat menengah ke bawah.

Tapi, di tengah ketenarannya itu, berbagai pihak tengah menggodok persoalan undang-undang dan prinsip regulasi menyangkut “shadow banking” ini. Kenapa bisa begitu? Timbulah pertanyaan, kenapa “shadow banking” ini perlu diperketat. Sebenarnya, dampak penetrasi “shadow banking” terhadap stabilitas sistem keuangan Indonesia itulah yang dikhawatirkan oleh pihak BI, seperti yang disampaikan oleh Darmin Nasution, selaku Gubernur BI. Seperti yang kita ketahui, “shadow banking” memicu pesatnya kredit otomotif yang disalurkan perusahaan pembiayaan dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi. Beliau juga menambahkan, kalau pengetatan aturan seputar si “shadow banking” ini akan membantu mengurangi resiko sistemik terhadap sektor keuangan.

Di samping itu, menurut Purbaya Yudhi Sadewa selaku Kepala Danareksa Research Institute, alasan BI lebih konsen saat ini ke “shadow banking” gara-gara adanya praktik yang mengganggu karena banyak perusahaan yang memanfaatkan loop hole transaksi keuangan mentang-mentang tidak diawasi oleh bank sentral. Penjelasannya sederhana, BI berniat agar “shadow banking” meningkatkan syarat uang muka untuk perkreditan otomotif (seperti sepeda motor) karena, jika uang muka terlalu rendah akan berpotensi menyebabkan kredit macet dengan dampak mengganggu kinerja perbankan.

Kalau dari sisi perbankan, ada pendapat lain juga yang mengatakan bahwa pengaturan yang terlalu ketat terhadap lembaga keuangan nonbank dapat mengganggu kinerja mitra perbankan, seperti koperasi atau LKM lain karena kembali lagi Bank juga tidak bisa bekerja sendiri menjalankan fungsi intermediasi. Jadi, Bank juga butuh mitra kerja untuk bantu-bantu dan selama ini mereka memang sudah menjadi kepanjangan tangan perbankan, seperti koperasi simpan pinjam dan LKM memiliki tugas untuk menjangkau debitur yang unik karena sudah duluan kenal dengan si calon debitur yang akan mendapat pembiayaan. Maka dari itu menurut Tri Joko Prihanto selaku Direktur Keuangan dan Perencanaan PT Bank Bukopin Tbk. regulator perlu hati-hati juga saat menyikapi “shadow banking”.

Memang untuk mengatur dan mengawasi “shadow banking” ini, Bank sentral butuh koordinasi dengan pemerintah karena penetrasinya dapat mengakibatkan krisis keuangan. Dewasa ini, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan alias Bapepam-LK berperan penting dalam mengatur “shadow banking” agar tidak menimbulkan masalah. Menurut Kemal Azis Stamboel, Anggota Komisi XI DPR, tantangan dan rintangan pun dihadapi OJK karena industri jasa keuangan yang semakin membumi, lahirnya produk dan jasa keuangan yang makin kompleks, dan sukar dimengerti oleh publik. Harapan Kemal pada Pemerintah dan DPR ke depannya adalah praktik-praktik “shadow banking” lembaga keuangan mikro, sesegera mungkin untuk menyelesaikan pembahasan RUU Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang masih digodok itu.

Supervisi dan regulasi terhadap LKM, seperti Koperasi, Baitul Mal wa Tamwil, Badan Kredit Desa, dan LKM lain juga harus perlu dilakukan. Kenapa? Ya, tentu saja karena terdapat penghimpunan dana dari masyarakat kecil. Menurut Menteri Keuangan, Agus Martowardojo, Seperti kita lihat, banyak terdapat LKM di pasaran yang tengah mengumpulkan dana dari rakyat sehingga lembaga-lembaga ini harus menjalankan usahanya sebaik mungkin, hati-hati, tertib dan bertanggungjawab pastinya. LKM diharapkan dapat melindungi dan memberikan manfaat yang optimal bagi rakyat. Well, semoga saja, harapan-harapan dari para ekonom di bidang perbankan dan keuangan ini dapat tercapai untuk membangun Indonesia yang lebih baik.

By : Candy Gloria (2121 0516_SMAK04_FE Gunadarma)

REFERENSI:
http://www.medanbisnisdaily.com/Menkeu Perketat Shadow Banking 2.htm
http://www.kontan.co.id/PENGETATAN SHADOW BANKING/Siap-siap beleid anyar shadow banking.htm/
http://www.investor.co.id/ DPRDukungPengetatanRegulasiShadowBanking.htm