PROPOSAL JURNAL

Posted On March 6, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

PROPOSAL

TEORI EKONOMI II

Mengacu pada Jurnal:

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

dan

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                              2121 0516

FEBRIANA PUSPITA SARI                              2221 0688

MCHAEL ALEXANDER                                  2421 0380

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

PROPOSAL JURNAL

 

I

Judul Jurnal

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

dan

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

II

Latar Belakang Perdagangan pada dasarnya adalah suatu kegiatan inti yang secara sadar maupun tidak, telah membentuk berbagai perubahan di era ini. Telah diketahui bahwa perubahan tidak dapat dihindari dan selalu terjadi. Ketika perubahan tersebut terjadi, kebutuhan manusia menjadi semakin kompleks. Banyak dari mereka melakukan penelitian dan menyelidiki segala hal tentang produk yang ingin mereka beli, yang menyebabkan tingkat persaingan semakin tinggi.

Berdasarkan hal tersebut, ada baiknya jika negara-negara yang memproduksi suatu barang memperhatikan kebutuhan konsumen secara spesifik dan melakukan yang terbaik demi konsumen dan kelangsungan hidup dari negara produsen itu sendiri.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, tingkat persaingan yang tinggi yang terjadi akhirnya mengharuskan produsen juga melihat comparative dan competitive advantage yang mereka miliki. Dengan memiliki comparative dan competitive advantage yang memadai, produsen dapat memenangkan pasar dan menjual lebih banyak dibandingkan produsen lainnya. Dari hal ini, maka produsen dapat meraih profit lebih tinggi secara material.

Di dalam makalah ini, kami akan membahas dan menjabarkan bagaimana dampak berbagai faktor baik dari dalam maupun dari luar yang akan mempengaruhi persaingan suatu produk di pasar internasional. Di sini kami menggunakan produk meubel dari negara Cina dan produk-produk dari sektor pertanian, seperti buah dan sayuran dari negara Tunisia.

III

Perumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas dan sumber jurnal yang kami gunakan sebagai acuan maka berikut adalah masalah yang terjadi di Cina dan Tunisia:

  1. 1.      Bagaimana sumber daya alam (tanah) di Tunisia dapat mempengaruhi produksi komoditas pertaniannya?
  2. 2.      Bagaimana efisiensi dapat membantu suatu negara memenangkan persaingan di pasar internasional (global market)?
  3. 3.      Mengapa tingkat ekspor komoditas tertentu di negara Tunisia cenderung kurang baik, sedangkan untuk komoditas minyak zaitun baik?
  4. 4.      Apakah kekurangan dari teknologi dan inovasi di Cina yang menjadi penghambat di pasar Internasional?
  5. 5.      Apakah upaya yang dapat dilakukan Cina agar tidak terlalu terpaku dengan harga dan lebih memperhatikan kualitas?
  6. 6.      Mengapa tingkat persaingan di pasar internasional selalu berubah dari waktu ke waktu?
  7. 7.      Apakah strategi yang dapat membantu suatu negara di dalam bidang ekspor – impor?

IV

Batasan Masalah Oleh karena cakupan masalah yang terjadi di pasar internasional sangat luas dan kompleks maka penelitian ini akan memusatkan perhatiannya untuk membahas hasil-hasil sebelumnya, comparative dan competitive advantage, serta faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat persaingan internasional, seperti efisiensi produksi.

V

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek penting yang mempengaruhi perdagangan suatu negara di kancah internasional, seperti yang dilakukan oleh dua negara ini yaitu Cina dan Tunisia. Kedua negara tersebut dapat berhasil dalam menembus pasar internasional (global market) karena telah berhasil melakukan efisiensi produksi.

 

Efisiensi ini dapat ditingkatkan, dengan cara menurunkan biaya total saat melakukan proses produksi. Secara spesifik, penelitian ini berusaha untuk mencari informasi tentang:

 

  1. 1.      Struktur biaya dari sektor pertanian di Tunisia
  2. 2.      Nilai domestic resource cost (DRC) dan pengaruhnya terhadap produk pertanian di Tunisia.
  3. 3.      Comparative dan competitive advantage terhadap produk buah dan sayuran di Tunisia, juga  terhadap produk meubel kayu di Cina.
  4. 4.      Tingkat persaingan dan kompetisi Tunisia dan Cina di pasar internasional.
  5. 5.      Hal-hal yang dapat dilakukan oleh perusahaan Cina untuk mempertahankan kredibilitasnya karena sedang dilanda persaingan pesat dengan negara-negara Eropa.
  6. 6.      Faktor-faktor yang dapat menjadi hambatan bagi Cina di dalam bersaing di industri meubel dunia di masa depan.
  7. 7.      Comparative dan compepetive advantage dari produk meubel dan pertanian.
  8. 8.      Manfaat efisiensi bagi kedua negara.

VI

Riset Terdahulu Untuk produk meubel, penelitian ini menggunakan data yang diambil dari berbagai macam sumber, seperti CFNA, UN comtrade database Standard International Trade Classification (SITC), National Bureau of Statistics, dan Xu et al. Dari data tersebut, peneliti menelitinya secara spesifik untuk memperoleh hasil-hasil yang diharapkan.

 

Sedangkan untuk produk pertanian di Tunisia, penelitian ini menggunakan data yang dikutip dari ITC Calculations dan ITC Calculation yang didasarkan pada COMTRADE of UNSD, dan data yang diolah sendiri. Sehingga secara keseluruhan, penelitian ini juga menganalisis beberapa data yang telah diteliti sebelumnya.

VII

Metodelogi Penelitian

 

 

  1. Sasaran, Waktu, Lokasi Penelitian

Di dalam penelitian ini, peneliti meneliti tingkat persaingan meubel dan produk pertanian secara internasional. Peneliti mennggunakan data dari tahun 1993-2007 untuk meubel dan menggunakan data dari tahun 1998-2002 untuk produk pertanian. Lokasi penelitian tersebut adalah negara Cina untuk meubel dan Tunisia untuk produk pertanian.

  1. Metode Penelitian

Untuk menemukan dampak dan hal-hal yang diperlukan dalam rangka menghadapi persaingan internasional, serta jawaban bagi masalah-masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka peneliti menggunakan metode survey. Hal ini terlihat dari data yang diambil oleh peneliti.

c.       Teknik Pengumpulan Data

Untuk mendapatkan data yang diperlukan tentang tingkat persaingan dan jumlah ekspor (kualitas) produk meubel dan pertanian, peneli mengambil data dari berbagai sumber.

 

Untuk produk pertanian di Tunisia, data yang diperoleh peneliti adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari perhitungan secara langsung oleh penulis dengan menggunakan pedekatan Biaya Sumberdaya Domestik. Data sekunder diperoleh dari International Trade Centre (ITC), ITC merupakan gabungan lembaga Organisasi Perdagangan Dunia dan PBB yang memiliki peranan dalam, informasi perdagangan serta pengembangan produk dan pasar.

 

Sedangkan untuk meubel di cina, peneliti menggunakan sumber data sekunder yang berasal dari CNFA tahun 2005 dan 2006 United Nation (UN) Database Standard Internasional Trade Classification (SITC), World Bank gross national income (GNI) country classification tahun 2008.

  1. Teknik Analisis Data

Di dalam penelitian ini, peneliti menganalisis data yang sudah diambil untuk menjawab masalah-masalah yang ada.

Untuk menganalisis komoditas pertanian, seperti jeruk, minyak zaitun, dan tomat di Tunisia, peneliti menggunakan angka Domestic Resource Cost (DRC) sebagai indikator. Berbeda dengan Tunisia, untuk menganalisis data tentang tingkat persaingan meubel global, peneliti meninjau beberapa segi, diantaranya pangsa pasar (MS), menyatakan keunggulan komulatif (RCA), dan persaingan perdagangan (TC).

  1. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi teknologi serta inovasi mutlak diperlukan untuk bersaing di pasar internasional. Produsen juga harus terus berubah mengikuti perkembangan, jika tidak produsen tersebut akan termakan oleh waktu. Selain itu, sumber daya alam ternyata dapat mempengaruhi jumlah produksi terhadap suatu barang, sehingga produsen harus memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif untuk mengoptimalkan harga dan kuantitas, serta mengurangi biaya. Hal ini kemudian menyebabkan terjadinya surplus perdagangan.

Advertisements

UJIAN RINGKASAN JURNAL 1 dan 2

Posted On March 1, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

RINGKASAN JURNAL

TEORI EKONOMI

DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                         2121 0516

FEBRIANA PUSPITA SARI                       2221 0688

MCHAEL ALEXANDER                            2421 0380

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

Judul Jurnal

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

Penulis Jurnal Xiao Han, Yali Wen, dan Shashi Kant

Ringkasan Jurnal

Di era globalisasi yang erat kaitannya dengan teknologi, industri mebel dunia terus berkembang. Hal ini ditandai dengan meningkatnya tingkat inovasi dalam pengemasan dan pengiriman produk, yang akhirnya membuat perdagangan di pasar internasional menjadi semakin mudah.

 

Hal ini terlihat melalui jumlah perdagangan yang telah meningkat dari U$42 milyar pada tahun 1997 menjadi US$97 milyar di tahun 2007 dan perubahan yang dramatis di dalam penyediaan mebel di pasar global, terutama di cina.

 

Saat ini, hampir 90% produk yang dihasilkan diekspor untuk mendapatkan profit maksimum. Di Asia, murahnya harga tenaga kerja dan bahan baku merupakan faktor pendukung untuk menciptakan efisiensi biaya produksi. Hal itulah yang dilakukan oleh Cina sehingga mampu memenangkan persaingan dengan negara-negara maju di Eropa.

 

Dalam pasar global, persaingan mebel diwarnai oleh 10 negara pesaing yang menguasai 70% meubel dari pasar global. Pasar global ini didominasi oleh negara-negara maju  seperti Amerika, Italia, Jerman, dan Kanada satu dekade lalu. Namun, negara maju tersebut mengalami kemunduran saham, sementara negara berkembang seperti Cina mengalami kemajuan dan potensi untuk melakukan ekspor di pasar internasional.

 

Saat ini, Cina dan negara-negara berkembang lainnya yang terus memperlihatkan ekspansi besar-besaran di bidang ekspor, sehingga saham negara-negara maju menjadi menyusut menjadi 50% dari yang sebelumnya 80%.

 

Untuk terus bersaing di pasar internasional, akan lebih baik jika perusahaan Cina tidak hanya terpaku terhadap persaingan harga, tetapi juga memperhatikan produktivitas tenaga kerja, manajemen, dan segi teknis lainnya yang masih ada jika dibandingkan dengan negara maju, seperti Jerman dan Italia.

 

Tercatat dalam WTO (World Trade Organization) di akhir tahun 2001, Cina memperoleh akses yang sepadan ke pasar internasional bahkan melebihi Italia pada tahun 2004. Kemudian, Cina juga maju sebagai pemimpin di dalam bidang ekspor meubel kayu dengan jumlah saham 20,91%.

 

Tahun 2004 kemarin, Departmen Perdagangan amerika melakukan kebijakan anti dumping terhadap produksi dan ekspor meubel kayu Cina. Nilai keseluruhan produk yang terkena dampak ini mencapai 1,2 juta miliar dolar Amerika pada tahun 2003. Hal ini merupakan perkara anti dumping terbesar yang terjadi selama 2003.

Permintaan dan harga barang-barang Cina juga pernah tergoncang akibat krisis global yang terjadi di Amerika.Hal ini terjadi karena, saat mengalami krisis, Amerika menghentikan impor meubel dari cina. Tetapi, untuk memperbaiki hal itu, Cina mengekspor kayu meubel yang telah dipotong sebelum menjadi meubel.

Gangguan juga kembali datang secara geografis dimulai dari iklim, seperti badai es dan gempa bumi hebat yang terjadi 2008 lalu di Cina Selatan yang mengurangi suplai kayu lokal dan mempengaruhi usaha-usaha meubel. Faktor inilah yang harus diperhatikan Cina untuk terus melakukan inovasi untuk penataran industri.

 
Judul Jurnal

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian

Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

Penulis Jurnal Boubaker DHEHIBI dan Aymen FRIJA

Ringkasan Jurnal

Dalam beberapa dekade terakhir, globalisasi membuat ekonomi dunia semakin mandiri, dan membuat hubungan komersial antara negara-negara di seluruh dunia menjadi sangat penting dan intensif. Akibatnya, saat ini model pertukaran (perdagangan) internasional diatur oleh seperangkat hukum dan perjanjian, yang sebagian besar dikelola oleh WTO (World Trade Organization). Oleh karena itu, pertanian kini menjadi salah satu sektor yang paling berpengaruh di era globalisasi. Hal ini terjadi karena negosiasi pertanian tentang hambatan perdagangan, serta konvensi bilateral dan multilateral adalah hal yang paling sulit dan membingungkan di dalam WTO (World Trade Organization).

Berdasarkan hal tersebut, hari ini kita harus mengetahui dan memahami aspek yang mempengaruhi perdagangan suatu negara di kancah internasional. Efisiensi merupakan aspek penting yang harus ditingkatkan dengan cara menurunkan biaya total saat melakukan proses produksi. Tingkat ekspor komoditi di Tunisia dapat dibandingkan dengan menggunakan minyak zaitun, jeruk, dan tomat sebagai komoditinya karena merupakan hasil tani yang paling strategis.  Kontribusi yang cukup besar juga diberikan melalui ekspor dari segi pendapatan berupa perdagangan buah dan sayur. Angka produksi ekspor tomat di Tunisia sangat terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Jumlah tomat yang dikonsumsi lokal selalu saja lebih besar daripada yang diekspor.

 

Fakta kondisi pertanian Tunisia adalah hasil panen dan harga yang diperoleh dari National Agronomic Institute digunakan sebagai dasar penetapan batas harga yang dilakukan oleh ITC (International Trade Cost). Menurut data yang telah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa hasil tani yang paling kompetitif adalah minyak zaitun. Hal ini dikarenakan, minyak zaitun merupakan komoditas yang paling efisien. Perhitungan DRC juga mengindikasikan bahwa minyak zaitun dapat berhasil bersaing dalam dunia ekspor. Inilah yang menjadi kunci efisiensi lokal yang terjadi karena peminimalisasian biaya kesempatan (opportunity cost). Berbeda dengan tomat yang kurang kompetitif terhadap perubahan yang ada namun perbaikan terlihat dari naiknya hasil produksi, stabilitas harga jual, dan harga ekspor sehingga secara berkala tingkat harga tomat ada dalam kondisi yang baik dari waktu ke waktu.

Penelitian ini menganalisis struktur biaya di bidang ekspor pertanian di Tunisia dengan menggunakan DRC (Domestic Resource Cost) sebagai indikator. Sehingga dapat disimpulkan bahwa negara Tunisia memiliki keunggulan komparatif pertanian di sektor minyak zaitun (DRC>1). Sedangkan untuk hasil tani tomat dan jeruk dinilai kurang kompetitif di pasar international karena nilai DRC kurang dari satu. Walaupun demikian, sektor tomat terus mengalami perbaikan dari waktu ke waktu yang ditandai dengan meningkatnya jumlah output, dan faktor-faktor teknikal lainnya. Sedangkan untuk jeruk, ketersediaan sumber daya alam, terutama tanah kurang mendukung sehingga tingkat kompetitifnya cenderung rendah. Sebenarnya, tingkat hasil tani Tunisia sudah baik. Namun, untuk komoditi tomat dan jeruk perlu ditingkatkan terutama di segi ekspor. Sedangkan untuk hasil tani minyak zaitun harus dipertahankan bahkan ditingkatkan agar semakin mampu menguasai pasar global. Efisiensi juga perlu dioptimalkan, sehingga biaya produksi dapat diminimalisir dan terwujudlah profit yang maksimal.

 

UJIAN ANALISA JURNAL 2

Posted On March 1, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

ANALISA JURNAL

TEORI EKONOMI

The Global Competitiveness

of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                         2121 0516

FEBRIANA PUSPITA SARI                       2221 0688

MCHAEL ALEXANDER                            2421 0380

 

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

ANALISA JURNAL

 

I Judul

The Global Competitiveness of The Chinese Wooden Furniture Industry

 

Persaingan Global Industri Meubel Kayu Cina

II Pengarang

Xiao Han, Yali Wen, dan Shashi Kant

  a.    Tahun

2009

  b.    Tema

Forest Policy and Economics

 

Kebijakan Ekonomi dan Kehutanan

III Latar Belakang Masalah
  a.    Fenomena Seiring berjalannya waktu, industri meubel dunia terus berkembang dengan pesat karena inovasi dalam pengemasan dan pengiriman produk yang membuat perdagangan di pasar internasional semakin mudah.

Kemudahan ini akhirnya membuat industri meubel berkembang. Hal ini bisa dilihat melalui jumlah perdagangan yang telah meningkat dari U$42 milyar pada tahun 1997 menjadi US$97 milyar di tahun 2007 dan perubahan dalam penyediaan meubel di pasar global, terutama di cina.

Hari ini, cina telah menjadi industri terbesar meubel dunia yang terintegrasi dengan baik. Cina telah membuat kemajuan yang luar biasa dan memasok banyak meubel di pasar global, sehingga menjadikan cina sebagai negara yang mengekspor dan memproduksi meubel tingkat atas. Namun demikian, cina juga perlu lebih memperhatikan beberapa hal untuk terus meningkatkan eksistensinya.

Maka, penelitian ini berusaha untuk membandingkan cina dengan negara lainnya di dalam persaingan di pasar meubel global, agar mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh serta masalah-masalah yang ada secara mendetail.

  b.    Riset Terdahulu Penelitian ini menggunakan data yang diambil dari berbagai macam sumber, seperti CFNA, UN comtrade database Standard International Trade Classification (SITC), National Bureau of Statistics, dan Xu et al. Dari data tersebut, peneliti menelitinya secara spesifik untuk memperoleh hasil-hasil yang diharapkan.
  c.     Motivasi Penelitian Di dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode survey. Hal ini terlihat dari data yang diambil oleh penulis adalah data yang telah dihasilkan sebelumnya. Selain itu, telah diketahui bahwa industri meubel telah berkembang pesat dibandingkan sebelumnya. Perlu diperhatikan, negara-negara yang memproduksi meubel tidak hanya harus memperhatikan biaya produksi, tetapi juga harus memperhatikan kualitas meubel yang dihasilkan. Oleh sebab itu, negara yang lebih efisien dalam produksi akan mendapatkan profit yang maksimal.
IV Metodologi
  a.    Data Jurnal ini menggunakan sumber data sekunder yaitu berasal dari CNFA tahun 2005 dan 2006 United Nation (UN) Database Standard Internasional Trade Classification (SITC), World Bank gross national income (GNI) country classification tahun 2008.
  b.    Variabel Variabel yang digunakan dalam jurnal ini berupa variable bebas yakni persaingan global industry medan variable terikat yakni Industri mebel kayu di Cina.
  c.     Metode Penelitian Metode yang digunakan pada jurnal ini ditinjau melalui beberapa segi, diantaranya pangsa pasar (MS), menyatakan keunggulan komulatif (RCA), dan persaingan perdagangan (TC).

  • Pangsa pasar merupakan persentase atau proporsisi dari total ketersediaan pasar atau segmen pasar yang di ambil oleh suatu negara, dan dapat pula dinyatakan pada persamaan berikut:

MSij = Xij = Xiw

Dimana MS adalah pangsa pasar, X adalah ekspor, i adalah komoditi, dan j adalah negara. Xij adalah ekspor komoditas i ke negara j; Xiw adalah ekspor dunia dari komoditas i.

  • Suatu negara dikatakan memiliki keunggulan komparatif dalam komoditas ketika indeksnya lebih besar dari satu apabila nilai indeks kurang dari satu maka negara ini memiliki kerugian komparatif.

dimana X adalah ekspor, i adalah komoditi, dan j adalah negara. Xij adalah ekspor komoditas i ke negara j; ΣiXij adalah total ekspor dari negara j; ΣjXij adalah ekspor dunia dari komoditas i; and ΣiΣjXij adalah total ekspor dunia.

  • Persaingan perdagangan

Persaingan perdagangan dapat di rumuskan sebagai berikut:

TCij = Xij−Mij = Xij + Mij

Jika TCij<0 produktivitas negara j adalah lebih rendah daripada tingkat rata-rata dunia berarti menunjukkan kelemahan komparatif.

V Hasil dan Analisis
  1. Gambaran Umum

Terdapat 10 negara pesaing industri meubel terbesr di dunia yang menguasai 70% dari pasar global. Pasar global didominasi oleh negara-negara maju hampir satu dekade lalu. Saham mereka pun menyusut menjadi 50% dari sebelumnya 80% karena tergantikan oleh industri yang berasal dari negara-negara berkembang.

Negara-negara maju seperti Amerika, Italia, Jerman, dan Kanada mengalami kemunduran saham, sementara negara berkembang sedang berpotensial untuk melakukan ekspor di pasar internasional. Di antaranya, Cina juga memperlihatkan ekspansi besar-besaran di bidang ekspor.

Tercatat dalam WTO (World Trade Organization) di akhir 2001, Cina memperoleh akses yang sepadan ke pasar internasional bahkan melebihi Italia pada tahun 2004. Kemudian, Cina juga maju sebagai pemimpin dalam bidang ekspor meubel kayu dengan jumlah saham 20,91%.

  1. Inovasi dan Tantangan Dagang Internasional

Untuk terus bersaing di pasar internasional, akan lebih baik jika perusahaan cina tidak terpaku terhadap persaingan harga, tetapi juga memperhatikan produktivitas tenaga kerja, manajemen, dan segi teknis lainnya yang masih ada jika dibandingkan dengan negara maju, seperti Jerman dan Italia.Kemudian, kontrak manufaktur yang diberikan akhirnya menyebabkan perusahaan-perusahaan kecil atau sedang yang memiliki modal terbatas, tidak mengembangkan desain dan inovasi. Kurangnya kredibilitas merk, dan teknologi juga dapat menghambat cina untuk bergerak maju dan tetap mempertahankan industri tersebut dalam jangka panjang.

  1. Memburuknya Kondisi Perdagangan

Tahun 2004 kemarin, Departmen Perdagangan amerika melakukan kebijakan anti dumping terhadap produksi dan ekspor meubel kayu Cina. Nilai keseluruhan produk yang terkena dampak ini mencapai 1,2 juta miliar dolar Amerika pada tahun 2003. Hal ini merupakan perkara anti dumping terbesar yang terjadi selama 2003.

  1. Masalah Makro-ekonomi

Permintaan dan harga barang-barang Cina juga pernah tergonacang akibat krisis yang terjadi di Amerika lalu karena Cina merupakan negara pengekspor meubel ke Amerika. Dalam upaya perbaikan industri tersebut, Cina mengekspor kayu meubel yang telah dipotong sebelum menjadi meubel.

Gangguan iklim, seperti badai es dan gempa bumi hebat yang terjadi 2008 lalu di Cina Selatan juga mengurangi suplai kayu lokal dan mempengaruhi usaha-usaha meubel. Faktor inilah yang mendorong Cina untuk melakukan inovasi untuk penataran industri.

VI Penutup
  a.    Kesimpulan Penelitian ini  menyediakan informasi analisis tentang pengeksploitasian kerangka persaingan industri kayu dari perspektif daganga internasional. Hampuir 90% dari produk yang dihasilkan dijual dengan cara mengekspor untuk mendapatkan profit maksimum. Di Asia, murahnya harag tenaga kerja dan bahan baku menjadi faktor pendukung terjadinya efisiensi biaya produksi, itulah yang dilakukan Cina sehingga mampu memenangkan persaingan dengan negara-negara maju di Eropa.

Selama 20 tahun terakhir ini, Industri meubel kayu Cina memiliki pertumbuhan yang disinyalir cukup tinggi. Hal ini kemudian menjadi tonggak awal kepemimpinan Cina dalam industri ekspor meubel. Memang diakui bahwa meubel kayu Cina memiliki kompetisitas yang tinggi sehingga mampu bersaing di dunia global.

Namun demikian, Cina masih perlu memperbaiki dan menata kualitas juga dari sisi harga, mengingat Itali dan Jerman merupakan pesaing yang cukup berat. Begitu juga dengan Polandia dan Vietnam yang mulai meramba dunia meubel. Apalagi, Cina sedang menghadapi masalah makro ekonomi, seperti kenaikan biaya, menurunnya permintaan internasional, jurang teknologi, dan meningkatnya tantangan dagang.

  b.    Rekomendasi Hal yang dapat dihimbau dari penelitian ini adalah  pemerintah dan asosiasi industri perlu bekerja dengan cepat dalam berinovasi dan mempromosikan industri meubel Cina ini, baik dari segi bahan baku, perancangan dan desain, serta merk dagang. Gencarnya persaingan internasional mendorong Cina untuk lebih inovatif dalam menghasilkan produksi agar Cina tetap mampu bertahan dan memenangkan persaingan global ini.

 

UJIAN ANALISA JURNAL 1

Posted On March 1, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

ANALISA JURNAL

TEORI EKONOMI

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian

Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisi

DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                         2121 0516

FEBRIANA PUSPITA SARI                       2221 0688

MCHAEL ALEXANDER                            2421 0380

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

 

ANALISA JURNAL

 

I

Judul

Impact of Domestic Resource Costs on the Competitiveness of Tunisian

Fresh Fruit and Vegetable Products Exports

 

Dampak Biaya Sumber Daya Lokal Terhadap

Kompetisi Ekspor Buah dan Sayur Segar di Tunisia

II

Pengarang

Boubaker DHEHIBI dan Aymen FRIJA

 

a.    Tahun

2009

 

b.    Tema

Natural Resources Management

 

Managemen Sumber Daya Alam

III

Latar Belakang Masalah

 

a.    Fenomena Dalam beberapa dekade terakhir, globalisasi membuat ekonomi dunia semakin mandiri, dan membuat hubungan komersial antara negara-negara di seluruh dunia menjadi sangat penting dan intensif. Akibatnya, saat ini model pertukaran (perdagangan) internasional diatur oleh seperangkat hukum dan perjanjian, yang sebagian besar dikelola oleh WTO (World Trade Organization).

Karena itu, pertanian kini menjadi salah satu sektor yang paling berpengaruh di era globalisasi. Hal ini terjadi karena negosiasi pertanian tentang hambatan perdagangan, serta konvensi bilateral dan multilateral adalah hal yang paling sulit dan membingungkan di dalam WTO (World Trade Organization).

Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini meneliti tingkat ekspor di bidang pertanian, khususnya di negara Tunisia agar mengetahui seberapa besar kemampuan negara tersebut dalam bersaing di pasar Internasional.

 

b.    Riset Terdahulu Penelitian ini menggunakan data yang dikutip dari ITC Calculations dan ITC Calculation yang didasarkan pada COMTRADE of UNSD, dan data yang diolah sendiri. Sehingga secara keseluruhan, penelitian ini juga menganalisis beberapa data yang telah diteliti sebelumnya.

 

c.     Metode Penelitian Motivasi atau tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dan memahami aspek-aspek penting yang mempengaruhi perdagangan suatu negara di kancah internasional, seperti efisiensi. Efisiensi ini dapat ditingkatkan, dengan cara menurunkan biaya total saat melakukan proses produksi. Penelitian ini juga berharap dapat memberikan pemahaman bahwa negara yang memiliki efisiensi dapat bersaing di pasar internasional, dalam konteks ini, negara tersebut adalah Tunisia.

IV

Metodologi

 

a.    Data Data yang diperoleh dari jurnal ini adalah data primer dan sekunder. Data primer diperoleh dari perhitungan secara langsung oleh penulis dengan menggunakan pedekatan Biaya Sumberdaya Domestik. Data sekunder diperoleh dari International Trade Centre (ITC), ITC merupakan gabungan lembaga Organisasi Perdagangan Dunia dan PBB yang memiliki peranan dalam, informasi perdagangan serta pengembangan produk dan pasar.

 

b.    Variabel Variabel yang digunakan dalam jurnal penelitian ini adalah biaya sumber daya domestik – ekspor buah dan sayuran segar.

 

c.     Metode penelitian Metode penelitian yang digunakan berupa pendekatan Biaya Sumberdaya Domestik (DRC). Biaya Sumberdaya domestic (DRC) diperoleh berdasarkan perbandingan antara biaya paluang dari sumberdaya domestik terhadap nilai tambah di perbatasan harga.

 

V

Hasil dan Analisis
  1. Produksi Buah dan Sayur Tunisia

Produksi buah dan sayur di Tunisia mengindikasikan bahwa minyak zaitun, jeruk, dan tomat adalah hasil tani yang paling strategis. Hal ini dikarenakan, hasil tani dapat berkompetisi dalam persaingan global. Pertanian buah menempati urutan yang signifikan di Tunisia dan memebrikan kontribusi yang cukup besar dalam pendapatn ekspor.

  1. Perdagangan Buah dan Sayur Tunisia

Tunisia tergolong dalam negara pengekpor tomat, tetapi angka produksinya memang sangat terbatas jika dibandingkan dengan kebutuhan nasional. Jumlah tomat yang dikonsumsi lokal selalu saja lebih besar daripada yang mampu diekspor.

  1. Studi Empiris Biaya Sumber Daya Lokal

Fakat dari kondisi pertanian Tunisia adalah data hasil panen dan harga yang diperoleh dari National Agronomic Institute sehingga digunakan sebagai dasar dari penetapan batas harga yang dilakukan oleh ITC (International Trade Cost).

  1. Hasil dan Analisis

Menurut data yang te;lah diperoleh, maka dapat diketahui bahwa, hasil tani yang paling kompetitif adalah minyak zaitun. Mengapa demikian? Hal ini dikarenakan, minyak zaitun merupakan komoditas yang paling efisien. Bukan hanya itu, perhitungan DRC juga mengindikasikan bahwa minyak zaitun dapat berhasil bersaing dalam dunia ekspor. Inilah yang menjadi kunci efisiensi lokal.

Efisiensi terjadi karena peminimalisasian biaya kesempatan (opportunity cost). Berbeda dengan tomat yang kurang kompetitif terhadap perubahan yang ada namun ada perbaikan dari waktu ke waktu yang dapat dilihat dari naiknya hasil produksi, stabilitas harga jual, dan harga ekspor sehingga secara berkala tingkat harga tomat ada dalam kondisi yang baik.

VI

Penutup

 

a.    Kesimpulan Penelitian ini menganalisis struktur biaya di bidang ekspor pertanian di Tunisia dengan menggunakan DRC (Domestic Resource Cost) sebagai indikator. Setelah diteliti, dapat disimpulkan bahwa negara Tunisia memiliki keunggulan komparatif pertanian di sektor minyak zaitun (DRC>1). Sedangkan untuk hasil tani tomat dan jeruk tidak terlalu unggul, dan dinilai kurang kompetitif di pasar international karena nilai DRC kurang dari satu.

Walaupun demikian, sektor tomat terus mengalami perbaikan dari waktu ke waktu yang ditandai dengan meningkatnya jumlah output, dan faktor-faktor teknikal lainnya. Sedangkan untuk jeruk, ketersediaan sumber daya alam, terutama tanah kurang mendukung, sehingga tingkat kompetitifnya cenderung rendah.

 

b.    Rekomendasi Sebenarnya, tingkat hasil tani Tunisia sudah baik. Namun demikian, untuk komoditi tomat dan jeruk masih perlu ditingkatkan terutama di segi ekspor. Sedangkan untuk hasil tani minyak zaitun harus dipertahankan bahkan ditingkatkan agar semakin mampu menguasai pasar global. Segi efisiensi juga perlu dioptimalkan, sehingga biaya produksi dapat diminimalisir dan terwujudlah profit yang maksimal.

MARI BELAJAR MENGANALISA JURNAL YUK…

Posted On February 17, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

Judul Jurnal

Impact of Oil Price Subsidy Reduction Policy on Performance of

Wood Products Industry

Dampak Kebijakan Pengurangan Subsidi Harga

Bahan Bakar Minyak Terhadap Kinerja Industri

Hasil Hutan Kayu

Penulis Jurnal Satria Astana

Ringkasan Jurnal

 

Tahun Anggaran 1998/1999 kapasitas subsidi harga BBM yang diberikan oleh pemerintah kepada Pertamina adalah sebesar Rp 27.5 triliun. Nilai ini merupakan selisih dari penjualan BBM nasional sebesar Rp 22.5 triliun dan komponen biaya BBM sebesar Rp 50 triliun. Dengan pengurangan subsidi harga BBM sebesar 30% atau kenaikan harga BBM rata-rata 12%, jumlah anggaran subsidi harga BBM dalam tahun 2000 masih tinggi, mencapai Rp 18.3 triliun.

 

Masalah yang terjadi adalah kenaikan harga BBM cenderung mendorong penurunan kinerja industri hasil hutan kayu yang lebih jauh, khususnya dalam hal penawaran dan permintaannya. Hal ini dikarenakan potensi kayu hutan alam telah menurun sehingga biaya logging meningkat.

 

Ketika kondisi Permintaan konstan, pengurangan subsidi atau kenaikan harga BBM di industri kayu olahan akan menggeser kurva penawaran kayu olahan ke kiri sehingga harga keseimbangan kayu olahan meningkat dan keseimbangan penawaran dan permintaan turun. Sedangkan saat kondisi penawaran konstan, penurunan permintaannya menyebabkan harga kayu olahan menurun dan keseimbangan permintaan dan penawarannya menurun.

 

Lalu biaya pemanenan kayu, komponen BBM berkontribusi signifikan sebesar 30%.

Model industri hasil hutan kayu yang ada menggambarkan realitas yang menjadi perhatian dalam kinerja industri hutan kayu dan menjelaskan hubungan ekonomi yang terbentuk. Oleh karena itu, model ini dapat digunakan sebagai alat simulasi dan prakiraan. Melalui model ini maka dampak kebijakan pengurangan subsidi harga BBM terhadap kinerja industri hutan kayu dan kesejahteraan sosial dapat dianalisis.

 

Kondisi kenaikan harga BBM dan adanya subsidi dari pemerintah menyebabkan BBM cenderung inelastis. Penyebabnya adalah keterbatasan barang substitusi dan komplementer BBM.  Bagi perusahaan industri kayu, total revenue sangat dipengaruhi oleh subsidi dari pemerintah.

 
Judul Jurnal

Price Elasticity Dynamics Over The Product Life Cycle:

A Study Of Consumer Durables

Dinamika Elastisitas Harga Pada Siklus Hidup Produk :

Penelitian Mengenai Pemakaian Tahan Lama

Penulis Jurnal Philip M. Parker dan Ramya Neelamegham

Ringkasan Jurnal

Berbicara mengenai pembelian konsumen, Parker (1992) berpendapat yang hanya mempertimbangkan pembelian pertama, sedangkan Simon (1988) mempertimbangkan daya jual merk (sebagai faktor untuk menarik minat konsumen). Berdasarkan pengalaman yang empiris menunjukkan bahwa keseluruhan kategori harga penjualan bersifat elastis. Kematian pertama dalam nilai absolut, akhirnya nilai tersebut akan meningkat lagi jika produk tersebut menghadapi penurunan fase dari siklus hidup produk (karena barang subtitusi atau perubahan selera, dll). Model dasar dapat dengan mudah dimodifikasi untuk menghitung keseluruhan penjualan (pembelian pertama ditambah pengulangan pembelian) konteks perkakas rumah tangga. Jika tidak berubah, model dasar ini bisa digunakan dalam waktu 5-10 tahun dalam pemakaian tahan lama.

Berdasarkan pembelian pertama yang mendorong konsumen untuk melakukan pembelian kembali, menunjukkan bahwa hasil penelitian Simon tentang pentingnya daya jual merk, menjadi bukti empiris dari dinamika elastisitas barang tersebut, seperti:

  1. Frezeers (-22,8)
  2. Kompor (-3,2)
  3. Kulkas (-2,3)
  4. Setrika uap (-2,2)
  5. Blender (-2,2)

Kesimpulannya adalah rata-rata tingkat elastisitas perabot rumah tangga -2,7.

Elastisitas freezer sangat signifikan karena produk ini tidak memiliki subtitusi. Suatu produk pada umumnya mengalami tingkat elastisitas tertinggi pada fase awal siklus hidup produk. Sedangkan produk tersebut mengalami elastisitas terendah bahkan inelastis pada saat pembelian kembali meningkat.

       
Judul Jurnal

The Impact Of Advertising On Consumer Price Sensitivity In Experience Goods Market

Dampak Iklan Dalam Mempengaruhi Sensitivitas Harga

Penulis Jurnal Tülin Erdem, Michael P. Keane, dan Baohong Sun

Ringkasan Jurnal

Sensitivitas harga konsumen, yaitu kepekaan relatif dari harga dalam mempengaruhi keputusan pembelian dan kecenderungan untuk mencari dan menemukan harga yang lebih baik (lebih murah) Penelitian yang dilakukan di Chicago dan Atlanta menggunakan 18 merk pada pasta gigi, sikat gigi, deterjen dan saus kecap. Dan hasilnya adalah iklan dapat menyebabkan suatu produk akan semakin dikenal oleh banyak orang.  Ketika tingkat kepercayaan konsumen meningkat (loyalitas) maka terciptalah sebuah brand yang terkenal, sehingga masyarakat akan berusaha terus dan terus memperhitungkan tingkat harga pada produk tersebut. Oleh karena itu, iklan yang dapat mengurangi sensitivitas harga konsumen.

Pada indikator ini sensitivitas harga ditentukan oleh seberapa banyak dan dalamnya informasi yang didapat konsumen mengenai harga dan kualitas yang ditawarkan berbagai produk sejenis yang akan dikonsumsi oleh konsumen. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, konsumen yang memiliki informasi harga dan kualitas yang lebih banyak akan menurunkan tingkat sensitivitas harga seorang konsumen , namun sebaliknya apabila konsumen yang tidak memiliki banyak informasi mengenai harga dan kualitas produk yang akan mereka konsumsi maka hal tersebut dapat   meningkatkan sensitivitas harga seorang konsumen.

Iklan memang dapat mempengaruhi tingkat permintaan suatu barang. Akan tetapi, pengaruh dari iklan tersebut sangat bergantung dari tampilan, kemenarikan, dan seberapa intens iklan tersebut. Dalam kasus ini, peneliti meneliti barang-barang yang elastis, sehingga iklan yang menguntungkan dan lebih berpengaruh pada elastisitas harga adalah iklan yang tidak menurunkan elastisitas permintaan. Hal ini terjadi karena ketika elastisitas harga suatu barang naik, maka permintaan barang tersebut akan turun karena terdapat barang-barang alternatif atau subtitusi lainnya. Sebagai tambahan, keadaan tersebut dapat menyebabkan produsen baru untuk masuk ke dalam pasar. Kesimpulannya, iklan yang menarik konsumen secara ototmatis akan menurunkan sensitivitas harga.

       
Judul Jurnal

Price and Income Elasticities of Residential Water Demand

Elastisitas Harga dan Pendapatan Bagi Permintaan Air Rumah Tangga

Penulis Jurnal Jasper Dalhuisen, Raymond Florax, Henri de Groot, dan Peter Nijkamp

Ringkasan Jurnal

Tahun 2011 terdapat sebuah permasalahan mengenai elastisitas permintaan terhadap air di USA dan Eropa. Hal ini terjadi karena mulai diterapkan penggunaan tarif untuk pemakaian air di setiap perumahan. Ternyata ada kesenjangan yang cukup besar antara elastisitas harga dan elastisitas penghasilan karena bila digambarkan elastisitasnya mendekati 0. Nilai elastisitas yang mendekati 0 disebabkan oleh pemakaian air yang tidak terkontrol sehingga terjadi ketidaksesuaian antara jumlah air yang dipasok dengan jumlah air yang dipakai. Tentunya di kemudian hari akan menyebabkan kelangkaan.

Penelitian diadakan di USA untuk mengurangi kesenjangan di elastisitas tersebut dengan menggunakan metode increasing block rate tarif yang hasilnya adalah kebutuhan air menjadi lebih elastis dan elastisitas pendapatan menurun dan metode decreasing block rate tarif yang hasilnya berbanding terbalik dengan metode increasing block rate tarif. Namun, kenyataannya kedua metode ini tidak dapat menentukan mana yang akan menghasilkan elastisitas tertinggi karena hal ini bergantung pada kompleksitas  kondisi geografis.

       
Judul Jurnal

Economic Impact of Tourism and Globalization in Indonesia

Dampak Ekonomi Pariwisata dan Globalisasi di Indonesia

Penulis Jurnal Guntur Sugiyarto, Adam Blake, dan Thea Sinclair

Ringkasan Jurnal

Globalisasi menimbulkan dampak baik dan buruk. Dulu globalisasi dianggap membawa efek buruk terhadap neraca perdagangan Indonesia karena dengan adanya perdagangan bebas (liberalisasi perdagangan) maka pemerintah membuat kebijakan dengan mengurangi tarif impor dan pengenaan pajak pada komoditas domestik. Hal ini tentunya akan berdampak pada sisi produksi karena dengan penurunan harga domestik maka membuat para produsen lebih kompetitif dalam bersaing dengan pesaing yang ada di pasar.

Namun, kita juga tahu bahwa hal ini merangsang produksi dalam negeri dan meningkatkan lapangan pekerjaan serta meningkatkan PDB. Jika  produksi dalam negeri meningkatnya maka menaikan pendapatan rumah tangga dan menciptakan lebih banyak permintaan dalam pasar domestic. Oleh karena permintaan dalam negeri meningkat maka meningkatkan impor, tetapi ekspor menutun. Itu dikarenakan neraca pasar domestik lebih menguntungkan bagi produsen sehingga neraca perdagangan memburuk. Semakin berkurangnya pajak yang diterima oleh pemerintah juga semakin memperburuk kekurangannya. Dengan kurangnya pajak yang diterima pemerintah membuat pemerintah kurang mampu membiayai aggaran pengeluarannya tapi memiliki sisi positif pada kesejahteraan dalam negeri dan konsumsi rumah tangga meningkat.

Sektor pariwisata bisa menjadi solusi  untuk menyeimbangkan neraca perdagangan yang buruk. Hal ini dijelaskan dalam jurnal bahwa kenaikan permintaan pariwisata asing akan membuat produksi yang lebih dan penyerapan tenaga kerja domestik meningkat. Dengan adanya hubungan antara harga yang menurun, permintaan, dan income yang berjalan semakin tinggi dalam kasus ini sehingga dapat disimpulkan bersifat elastis. Pencegahan inelastis dilakukan dengan membuat kebijakan untuk menaikan harga saja dan menurunkan tarif pajak.

       
Judul Jurnal  

Empirical Generalizations about the Impact of Advertising on Price Sensitivity and Price

Studi Empiris Dampak Iklan terhadap Sensitivitas Harga

Penulis Jurnal Anil Kaul dan Dick Wittink

Ringkasan Jurnal

Respon dan perilaku konsumen terhadap promosi mengidentikasikan bahwa keputusan konsumen untuk melakukan pembelian terhadap merk, jumlah produknyadipengaruhi oleh potongan harga. Selanjutnya, informasi seputar produk akan menjadi bahan pertimbangan bagi produsen dalam menentukan strategi promosi dan periklanan. Salah satu strategi yang diperlukan adalah positioning yang tepat guna karena akan mengarahkan fungsi suatu iklan, sebab hal tersebut memiliki dampak terhadap sensitivitas harga konsumen. Pada umumnya sensitivitas harga sebagian besar dirasakan pada kalangan masyarakat menengah ke bawah karena konsumen menengah ke bawah sangat peka terhadap harga dan alternatif produk. Para konsumen ini biasanya membeli produk pada saat produk tersebut ditawarkan dengan harga yang lebih murah.

 

Sebaliknya, bagi masyarakat menengah ke atas menilai harga yang mahal mengidentifikasikan kualitas dari produk tersebut. Jika sebuah merek memiliki pencitraan yang kuat dengan konsumen maka cenderung memiliki pangsa pasar yang lebih tinggi dan lebih mudah untuk mencapai penetrasi pasar yang lebih besar dan akan menghasilkan lebih efisien pengeluaran biaya dalam mempromosikan produk tersebut. Pada tahun 1950 -1970 menurut Steiner iklan sangat meningkat karena adanya peran sponsor dalam pembiayaan, karena iklan tidak hanya digunakan untuk menjual produk tetapi juga kepentingan-kepentingan lainnya seperti politik. Rating iklan ada akibat dari penilaian dari pihak konsumen yang menilai apakah iklan tersebut memiliki citra yang kuat, sehingga semakin tinggi nilai rating maka kepercayaan semakin sangat tinggi. Hal ini akan mempengaruhi elastisitas konsumen dalam membeli barang karena semakin konsumen percaya akan suatu produk maka daya belinya akan semakin tinggi.

       
Judul Jurnal

Estimating the Effect of Urban Density on Fuel Demand

Estimasi Dampak Urbanisasi Terhadap Bahan Bakar

Penulis Jurnal Catur Sugiyanto

Ringkasan Jurnal

Penelitian jurnal ini dilakukan dengan cross-sectional data dari 32 negara besar di Eropa, Canada, Asia, Australia dan Amerika. Kepadatan jumlah penduduk di perkotaan dievaluasi karena dapat mempengaruhi permintaan relatif untuk bahan bakar transportasi jalan, memberikan perkiraan elastisitas yang sensitif terhadap pola fasilitas umum. Bahan bakar konsumsi per kapita terhadap kepadatan perkotaan diperkirakan dalam rentang -0.33 sampai  -0.35. Kepadatan penduduk kota terhadap permintaan bahan bakar yaitu inelastis, fenomena di kota yang terjadi, karena banyaknya fasilitas yang disediakan oleh pemerintah maka jarak yang di tempuh penduduk di perkotaan relatif singkat.

Oleh karena itu, pemakaian transportasi umum dapat menghemat pemakaian BBM sehingga dalam pemakaian BBM lebih efisiensi. Harga BBM mempengaruhi permintaan bahan bakar sebagian besar melalui variasi dalam konsumsi bahan bakar per km dan jarak mengemudi bukan kepemilikan mobil. Hal ini dapat mencerminkan harga bahan bakar tidak mempengaruhi permintaan mobil.

       
Judul Jurnal

Regional Differences in the Price-Elasticity of Demand for Energy

Elastisitas Harga pada Permintaan Energi

Penulis Jurnal Bernstein dan J Griffin

Ringkasan Jurnal

Departemen Energi telah melakukan riset terhadap beberapa sumber energi diantaranya, listrik rumahan, gas alam, dan listrik industri dengan tujuan mengurangi biaya dan meningkatkan efisiensi. Jika harga listrik naik maka ada tiga alternatif solusi yang dapat dilakukan, yaitu mengganti secara total, mencari substitusinya, dan  meminimalisir penggunaan listrik. Kenaikan harga tidak signifikan mempengaruhi penurunan permintaan.

Sedangkan jika ada kenaikan harga, konsumen tidak dapat mengurangi pemakaian listrik secara drastis hanya dapat berhemat atau menambahkan alat yang bisa mengefisiensi penggunaan listrik, seperti termostast dan dalam jangka panjang mereka akan mengkonversi listrik dengan sumber energi lainnya. Kenaikan permintaan juga dapat dipengaruhi oleh kenaikan income, income meningkat konsumen dapat saja membeli peralatan elektronik baru sehingga meningkatkan penggunaan listriknya. Elastisitas dipengaruhi dengan adanya barang substitusi dan barang komplementer.

Kondisi kasus ini jika harga listrik naik :

  1. Dalam jangka pendek elastisitasnya à inelastis karena untuk sementara waktu konsumen tidak memiliki pilihan dan hanya dapat mencoba menghemat atau mengurangi penggunaan listrik dan belum banyak barang substitusinya sehingga konsumen tidak memiliki pilihan lain selain tetap menggunakannya.
  2. Dalam jangka panjang elastisitasnya à elastis karena adanya penemuan inovasi–inovasi baru yang dapat menjadi subsitusi listrik.
       
Judul Jurnal

Playing With Fire:  Cigarettes, Taxes And Competition From The Internet

Rokok, Pajak, dan Persaingan dari Internet

Penulis Jurnal Austan Goolsbee dan Joel Slemrod

Ringkasan Jurnal

Para peneliti menganggap rokok itu bersifat inelastis sehingga menaikkan pajak dan dapat menghasilkan banyak pendapatan di Amerika Serikat.  Di sisi lain, rokok adalah salah satu penyebab utama masalah kesehatan di negara ini. Melalui internet, konsumen dapat membeli rokok dari negara lain atau secara online sehingga konsumen tidak perlu membayar pajak kepada negaranya. Tingkat elastistasnya juga meningkat dari -1,28 menjadi -2,09 walaupun pajak sudah di naikkan 33%. Pajak yang lebih tinggi menyebabkan penyelundupan lebih besar dan jumlah penyelundupan tambahan telah tumbuh secara signifikan dengan munculnya Internet. Ternyata setelah diteliti jumlah penyelundupan yang timbul dari perubahan tarif pajak negara hampir dua kali lipat karena munculnya internet.

Dengan demikian, pajak rokok tdak sensitif terhadap permintaan rokok di Amerika Serikat. Dengan adanya internet juga membuat pendapatan negara menjadi kecil dan tidak mengurangi tingkat konsumen menjaga kesehatannya.

       
Judul Jurnal

The Relative Importance of Price and Quality in Consumer Choice of Provider:  The Case of Egypt

Pentingnya Relatif Harga & Kualitas Pilihan Penyedia Layanan Konsumen : Kasus Mesir

Penulis Jurnal Winnie C. Yip dan Aniceto Orbeta

Ringkasan Jurnal

Hipotesa dari kasus yang ada di Mesir adalah, masyarakat Mesir lebih memilih sektor swasta dan rela membayar lebih tinggi demi mendapat kualitas yang terbaik. Hal itu dikarenakan penghasilan masyarakat Mesir yang rata-rata sudah mencukupi. Jika pemasok melakukan penurunan harga maka akan ada pengorbanan kualitas. Sedangkan, jika penyedia meningkatkan kualitas maka akan ada pengorbanan harga yang lebih tinggi untuk meningkatkan layanan atau penambahan teknologi. Ada pula asumsi yang dapat diberikan adalah penyedia terlibat dalam persaingan harga.

Berdasarkan asumsi ini, misalnya elastisitas kualitas meningkat, maka penurunan harga kemungkinan besar dicapai dengan efisiensi. Tapi kalau permintaannya inelastis, persaingan harga dapat menyebabkan kualitas yang rendah. Lain halnya jika penyedia cenderung lebih dalam persaingan kualitas, hal itu akan sangat penting untuk memahami aspek-aspek yang diinginkan konsumen. Jika konsumen responsif terhadap aspek kualitas yang meningkatkan hasil kesehatan, pemerintah mungkin lebih mengandalkan kekuatan pasar untuk menjamin kualitas layanan.

Pada jurnal ini ada hipotesa proporsi relative bawha sektor swasta memegang angka lebih tinggi dan rela membayar lebih tinggi dibandingkan memilih sector publik yang kualitasnya terhitung rendah. Setelah itu pada penelitiannya ditemukan bahwa pasien lebih responsive pada perubahan kualitas daripada perubahan harga. Ini disebabkan karena yang dibahas disini adalah sector kesehatan yang mempertaruhkan nyawa, maka pengorbanan berupa materipun rela dilakukan. Selain itu pada penelitian terdalulu juga ditemukan bahwa elastisitas pendapatan pengeluaran perawatan kesehatan > 1 , dimana itu berarti bersifat elastis. Ini berarti seiring dengan bertambahnya pendapatan, maka porsi dari pendapatan juga akan lebih besar untuk pergi ke pelayanan kesehatan.

Tetapi hal ini tidak berlaku rata pada seluruh kalangan masyarakat, walaupun rata-rata masyarakat memang lebih responsive terhadap peningkatan kualitas, ini dikarenakan ada dua golongan income masyarakat, seperti dijelaskan dibawah ini.

Jika sektor publik ingin dapat bersaing dengan sektor swasta maka mereka harus bisa manjamin kualitas layanan dengan baik, atai jika tidak sasaran mereka untuk pangsa pasar harus lebih dispesifikasi lagi dengan menyasar masyarakat miskin yang memang belum mampu untuk melakukan pelayanan kesehatan dengan kualitas tinggi yang meminta biaya tinggi pada sektor swasta.

       
Judul Jurnal Trade Liberalization and Labor Demand Elasticity in

Indian Manufacturing

Perdagangan Bebas dan Elastisitas Permintaan Tenaga Kerja pada Manufaktur India

Penulis Jurnal Bishwanath Goldar

Ringkasan Jurnal

Elastisitas permintaan tenaga kerja di industri pascareformasi lebih rendah dalam hal ini ialah minimumnya lapangan pekerjaan yang tidak dapat meresap semua labor maka dari itu tingkat labor mengalami kenaikan pada masa pascareformasi. Hal ini disebabkan karena ukuran yang signifikan untuk liberalisasi perdagangan dan melemahnya kekuasaan serikat buruh.

Liberalisasi perdagangan menunjukan efek positif terhadap elastisitas permintaan tenaga kerja tetapi jika dilihat berdasarkan fungsi kerja, hal itu tidak menunjukan peningkatan elastisitas permintaan tenaga kerja pada masa pasca-reformasi dibandingkan dengan periode sebelum reformasi. Liberalisasi perdagangan juga dapat menyebabkan penurunan pangsa biaya tenaga kerja karena barang produksi yg setengah jadi atau belum dirakit produk dapat diimpor oleh perusahaan industri untuk digunakan dalam proses produksi bukan manufaktur dari tahap bahan baku, dan ini dapat menetralisir efek peningkatan elastisitas substitusi antara input dan elastisitas harga meningkatnya permintaan untuk produk-produk dari perusahaan industri dalam negeri.

Dengan demikian, liberalisasi perdagangan meningkatkan elastisitas permintaan tenaga kerja. liberalisasi perdagangan memiliki dampak positif pada elastisitas permintaan tenaga kerja di industri India, elastisitas taksiran masa pasca-reformasi ini ditemukan lebih rendah dari itu untuk periode pra-reformasi. Pemeriksaan yang mendekati data ini menunjukkan bahwa ada kecenderungan penurunan elastisitas permintaan tenaga kerja di industri India di masa pra-reformasi, yang berlangsung selama beberapa tahun bahkan setelah mulai reformasi. Tampaknya tren penurunan elastisitas permintaan tenaga kerja ditangkap dan terbalik sejak pertengahan 1990-an.

Jadi, Perdagangan bebas dan permintaan tenaga kerja di Industry india bersifat elastis  karena permintaan akan tenaga kerja di India pada masa pasca reformasi mengalami peningkatan sedangkan biaya atau gaji untuk tenaga kerja selalu mengalami penunan.

       
Judul Jurnal

Long term fuel price elasticity: Effects on mobility tool ownership and residential location choice

Jangka Panjang Elastisitas Harga Bahan Bakar: Dampak Perusahaan Kendaraan dan Bahan Bakar di Swiss

Penulis Jurnal Alexander Erath

Ringkasan Jurnal

Efek jangka panjang dari kenaikan harga bahan bakar. Penelitian ini meneliti efek jangka panjang dari kenaikan harga bahan bakar. Berikut adalah hasil dari penelitian yang dilakukan :

Dampak Perubahan Harga atas Kepemilikan Kendaraan

Hasil à dengan naiknya harga bbm, masyarakat akan mengubah pola pikir mereka. Mereka menjadi enggan untuk memakai kendaraannya atau membeli kendaraan.

Harga Bahan Bakar di Wilayah Tertentu

Hasil à ada perbedaan harga di wilayah pedesaaan dan perkotaan, yaitu harga di perkotaaan lebih mahal daripada di pedesaan. Karena bedanya tingkat permintaan.

Efek Perubahan Harga di 2 Wilayah yang Berbeda

Hasil à di 2 wilayah yang berbeda, antara perdesaan dan perkotaan efek perubahan harga terjadi  karena sifat elastisitas di perkotaan bersifat elastis karena populasi di perkotaan lebih besar sedangkan di pedesaan bersifat in-elastis karena populasi masyarakatnya yang kecil.

Dengan demikian, efek jangka panjang yang akan terjadi adalah kemungkinan pendapatan substansian dalam  biaya transportasi terutama dalam harga BBM membuat orang bereaksi mengatur jarak tempuh dan mengubah jenis mobil dan memilih mesin yang lebih kecil atau lebih hemat bahan bakar seperti mobil hibrida/ diesel.

Untuk jangka panjang, elastisitas harga BBM berkisar antara -0,14 sampai dengan -0,54 dan diesel 0,32. diesel disini merupakan bahan pengganti yang disebabkan oleh responden yang mengganti mobil BBMnya jadi mobil diesel. Harga BBM naik tidak berarti menaikan atau menurunkan permintaan dari BBM tersebut, masyarakat lebih melihat efisiensi dari penggunaan bahan bakar yaitu dengan menggantinya dengan diesel.

       
Judul Jurnal

Are Life Insurance Demand Determinants valid for Selected Asian Economies and India?

Permintaan Asuransi Jiwa di India

Penulis Jurnal Subir Sen dan Dr.Madhswaran

Ringkasan Jurnal

Saat terjadinya krisis ekonomi, permintaan akan asuransi di Asia bersifat elastis. Hal ini disebabkan karena dengan adanya krisis, maka perekonomian terganggu dan mengurangi pendapatan masyarakat di Asia. Rendahnya pendapatan menyebabkan rendahnya standar hidup masyarakat asia pada kala itu rendah, dengan pendapatan yang rendah mereka hanya mengutamakan untuk konsumsi sehingga perubahan harga asuransi akan sangat mempengaruhi jumlah permintaan akan asuransi.

Dengan adanya perbaikan ekonomi setelah adanya  krisis membuat pendapatan masyarakat asia terus meningkat dan memiliki pendapatan yang cukup tinggi sehingga membuat standar hidup masyarakat semakin tinggi dan makin sadar akan pentingnya asuransi.

Dengan demikian, permintaan terhadap asuransi pasca krisis ekonomi hinggga kini bersifat inelastis, atau perubahan harga asuransi tidak akan terlalu mempengaruhi jumlah permintaannya.

       
Judul Jurnal

The Impact Of Food Prices On Consumption: A Systematic Review Of Reaserch On The Price Elasticity Of Demand For Food

Dampak Harga Bahan Makanan Terhadap Tingkat Konsumsi

Penulis Jurnal Tatiana Anrdeyeva, Michael Long, dan Kelly brownell

Ringkasan Jurnal

Penelitian ini bertujuan untuk memberkan ringkasan mengenai elasitas permintaan harga dan perilaku konsumen Amerika Serikat. Fenomena yang terjadi di Amerika adalah elastisitas permintaan harga pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat. Berdasarkan penelitian yang dilakukan, 31% yang memberikan perkiraan elastisitas harga daging sapi, 29% untuk daging babi, 14% untuk unggas, 10% untuk ikan, 15% untuk susu, 12% untuk keju, untuk sereal 12%, dan untuk buah dan sayuran 11%. Dari sini terlihat bahwa konsumsi pada makanan tidak sehat lebih tinggi dari pada makanan sehat.

Dalam menyelesaikan hal ini, para peneliti berusaha menghubungkan pemberlakuan pajak dan subsidi untuk menganalisis dampaknya terhadap harga bahan makanan. Dengan menetapkan sejumlah pajak kepada bahan makanan yang kurang sehat, maka diharapkan permintaan akan bahan makanan yang kurang sehat menurun seiring dengan kenaikan harga karena pajak. Sebaliknya subsidi diberikan kepada bahan makanan sehat dengan tujuan untuk menurunkan harga sehingga permintaan akan bahan makanan sehat dapat meningkat, sehingga diharapkan dapat mengubah gaya hidup masyarakat Amerika Serikat menjadi lebih baik.

Dengan pemberlakuan subsidi terhadap harga buah buahan dan sayur mayur menyebabkan penurunan harga sebesar 10%, dan berhasil meningkatkan permintaan akan buah dan sayur sebesar 7,0% untuk buah dan 5,8% untuk sayur, besarnya penurunan harga rupanya tidak meningkatkan permintaan secara signifikan sehingga harga buah dan sayur dikatakan inelastis.

Oleh karena itu, walaupun subsidi telah diberikan, pada kenyataannya tidak dapat meningkatkan peningkatan permintaan secara signifikan, dari kasus tersebut dapat diasumsikan bahwa, harga bukanlah satu satunya faktor yang dapat menyebabkan buruknya gaya hidup sebagian masyarakat di Amerika serikat yang dinilai dari tingginya konsumsi bahan makanan tidak sehat seperti fast food, namun ada hal lain yang mempengaruhi, salah satunya ialah gaya hidup. Masyarakat negara maju cenderung memilih bahan makanan cepat saji dengan alasan efisiensi, sehingga meskipun harga berubah tetap saja tidak akan mempengaruhi permintaan akan barang barang tersebut, sehingga sayuran dan buah buahan yang tergolong bahan makanan sehat bersifat inelastis.

       
Judul Jurnal

Determinants of Indonesian Palm Oil Export: Price and Income Elasticity Estimation

Ekpor Kelapa Sawit: Estimasi Harga dan Elastisitas Pendapatan

Penulis Jurnal Ambiyah Abdullah

Ringkasan Jurnal

Indonesia merupakan negara produsen dan eksportir terbesar minyak sawit di dunia karena berhasil menguasai 46% pangsa pasar minyak sawit dunia. Sebagian besar dari produksinya diekspor sehingga elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan untuk ekspor minyak sawit Indonesia sangat penting. Hal itu terlihat jika dibandingkan dengan negara-negara lain seperti Malaysia, Indonesia mengekspor minyak sawit lebih banyak di banding dengan negara Malaysia dikarenakan lahan di Indonesia lebih luas dan memungkinkan untuk ditanami kelapa sawit dengan kapasitas lebih banyak.

Melalui penelitian ini, elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari permintaan ekspor minyak sawit Indonesia adalah inelastic baik untuk jangka pendek dan jangka panjang. Jangka pendek untuk ekspor sebesar 0,54 dan untuk income sebesar 0,61. Serta jangka panjang untuk ekspor sebesar 0,41 dan untuk income sebesar 0,49. Temuan ini sesuai dengan teori pada pangsa pasar, alokasi anggaran, dan penggunaan dari minyak sawit sebagai bahan baku untuk barang-barang seperti kosmetik, minyak goreng, mentega, dan ketersediaan dari barang substitusi untuk ekspor minyak sawit Indonesia.

Pajak ekspor adalah salah satu dari kebijakan yang diterapkan oleh Indonesia untuk minyak sawit agar mengendalikan harga minyak goreng local. Untuk kebijakan domestik dapat diterapkan dalam berbagai bentuk seperti subsidi produksi, program insentif pada penelitian diferensiasi produk (produk bernilai tambah), dan meningkatkan standar kualitas untuk ekspor minyak sawit Indonesia.

Di masa yang akan datang, terdapat kebutuhan untuk menganalisis elastisitas harga dan elastisitas pendapatan dari produk-produk yang menggunakan minyak sawit sebagai bahan baku, terfokus pada sektor-sektor yang berlainan (perbedaan antara CPO dan minyak sawit murni) pada kasus-kasus negara pengimpor yang lebih spesifik dan menganalisa dalam penawaran ekspor dan model-model yang simultan. Sedangkan inelastis pada minyak sawit terjadi karena:

  1. Efek barang substitusi terhadap perubahan harga tidak terlalu besar
  2. Pilihan produk-produk lainnya sebagai barang pengganti jumlahnya tidak banyak
       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

IDENTITAS

Nama        : CANDY GLORIA

NPM         : 2121 0516

Kelas        : SMAK04-4

Mata Kuliah : TEORI EKONOMI II

Dosen       : Dr.Prihantoro

Dateline     : Minggu, 19 februari 2012 pukul 24.00 WIB

CERITA ANAK EKONOMI TENTANG SUNK COST

Posted On February 3, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

LET’S LEARN ABOUT SUNK COST !

by: Candy Gloria (2121 0516)_SMAK 04

PENGERTIAN

Sunk Cost (biaya tertanam) adalah  biaya – biaya  yang  dikeluarkan di waktu  yang  lampau atau  biaya – biaya  yang  dikeluarkan  tetapi  tidak mempengaruhi keputusan proyek jangka pendek karena biaya ini tak akan kembali.  Sunk cost selalu ada dalam suatu proyek.  Dalam analisa proyek, sunk cost tidak diperhitungkan  dalam komponen  biaya karena proyek  melihat  Future Cost & Benefit (perhitungan dan analisis biaya relevan).

Contoh sunk cost dalam kehidupan sehari-hari adalah:

  1. Pembelian tanah untuk investasi yang belum diputuskan untuk proyek apa (belum digunakan), apabila tanah tersebut diberi pagar pembatas, biaya pembuatan pagar ini dianggap sebagai biaya tertanam.
  2. Suatu perusahaan manufaktur membeli mesin produksi Rp 20 juta. Karena pengeluaran kas telah terjadi, maka pengeluaran (investasi) ini adalah sunk cost (karena menjadi biaya tertanam). Dengan kata lain, biaya penggunaan mesin dan biaya depresiasi merupakan sunk cost, yang harus diabaikan dalam membuat keputusan di masa depan.
  3. Suatu ketika Andy tertarik untuk membeli motor sport seharga Rp.200 juta. Andy membayar uang tanda atau down payment sebesar 2 juta kepada si penjual. Suatu hari, Andy ingin untuk membeli motor low rider. Andy harus membayar lunas sebesar Rp.56 juta untuk bisa mendapatkan motor tersebut. Pilihan dari kedua opsi tersebut, apakah Andy membeli motor sport atau membeli motor low rider, itu tidak akan berpengaruh kepada uang tanda sebesar Rp.2 juta tadi yang merupakan DP.

FORMULA dan HUBUNGAN SUNK COST deangan BIAYA TETAP

Formula yang ada terkait dengan sunk cost, fixed cost, dan avoidable cost adalah sebagai berikut:

Jika dilukiskan dengan skema maka letak-letak antara biaya-biaya ini adalah sebagai berikut:

 

 

Fixed cost (biaya tetap) adalah biaya yang sudah tidak dapat diubah-ubah lagi karena tidak terpengaruh oleh kapasitas (volume). Ciri-ciri biaya tetap adalah:

    1. Jumlah keseluruhan tetap ada dalam rentang (range) yang relevan,
    2. Penurunan biaya perunit bila volume bertambah dalam rentang yang relevan,
    3. Dapat dibebankan kepada departemen-departemen berdasarkan keputusan manajerial atau menurut metode alokasi biaya, dan
    4. Tanggung jawab pengendalian lebih banyak dipikul oleh manajemen eksekutif daripada penyedia operasi.

 

Avoidable cost (biaya Relevan/Diferensial) adalah  berbagai perbedaan biaya-biaya di antara sejumlah alternatif pilihan yang dapat digunakan oleh perusahaan untuk mengambil keputusan jangka pendek. Biaya ini membutuhkan pengeluaran tunai sekarang  atau di masa depan biaya yang dapat dihilangkan baik seluruhnya atau sebagian  dengan memilih salah satu alternatif yang tersedia. Contohnya adalah: saat kita menonton  film di bioskop dan menyewa VCD/DVD adalah bersifat relevant karena biaya-biaya tersebut dapat dihindarkan.

Pengambilan keputusan yang ditujukan untuk memperoleh manfaat dari analisis biaya diferensial adalah:

  1. Menerima/menolak pesanan pelanggan

à Biaya diferensial ini merupakan selisih antara biaya produksi output sekarang dengan biaya output lebih besar yang direncanakan. Apabila kapasitasnya ada, maka indikasi dari analisis biaya diferensial adalah mejual output tambahan dengan harga di bawah biaya rata-rata per unit sekarang. Selama pendapatan melebihi biaya diferensial untu produksi output maka hal ini akan menguntungkan.

  1. Mengurangi harga dari suatu barang pesanan (khusus)

à Pengurangan harga yang diberikan ini dapat menyebabkan semakin ketatnya persaingan harga. Jika produk yang dijual pada harga yang dikurangi memengaruhi penjualan pesaing, tentunya akan terjadi perang harga sehingga berakibat pada hilangnya laba pada semua pihak terkait. Pengurangan harga memang akan memberikan tambahan bisnis, namun dalam jangka panjang akan mengurangi margin laba.

  1. Mengurangi harga di pasar kompetitif
  2. Memutuskan untuk membeli atau membuat sendiri

à Hal ini terjadi karena pengoptimalan sumber daya produktif dan keuangan perusahaan, seperti penggunaan dari peralatan yang menganggur, tenaga kerja yang menganggur, atau ruangan yang menganggur. Oleh karena itu, hal-hal yang harus dipertimbangkan adalah:

a.     Pertimbangan tentang kuantitas, kualitas, dan ketergantungan dengan pasoakan komponen dan kemampuan untuk memproduksi komponen tersebut.

b.    Perbandingan biaya jika membeli langsung komponen tersebut atau memproduksinya sendiri.

  1. Memperluas, menutup atau menghilangkan produksi dari suatu produk

à menutup: Selama produk yang dijual masih dapat emnutupi biaya tetap dan memberikan kontribusi terhadap penutupan biaya tetap, maka dalam jangka pendek akan lebih baik bagi perusahaan untuk beroperasi daripada tidak beroperasi. Perlu diingat bahwa penutupan fasilitas juga tidak akan menghilangkan seluruh biaya seperti biaya penyusutan, bunga, pajak, dan asuransi akan tetap ada walau tidak ada aktivitas.

à menghentikan: Selama suatu produk perusahaan mengalami kesulitan untuk dipasarkan dan dijual sehingga hanya memperoleh sedikit laba atau bahkan tidak sama sekali, maka memang akan lebih baik bagi perusahaan untuk menghentikan produksinya.

  1. Menentukan akan memproses lagi atau menjual
  2. Memilih alternatif dalam produksi produk
  3. Menentukan harga maksimum untuk bahan baku

 

Dari formula di atas dapat kita ketahui bahwa biaya tetap diperoleh dari biaya tertanam dan biaya yang dapat dihindarkan jika suatu alternatif dipilih. Sunk cost berbeda dengan fixed cost, contoh sunk cost adalah biaya tenaga kerja tidak langsung (gaji direktur, gaji supervisor, biaya pembayaran PBB, biaya penelitian).

 

REFERENSI

http://konibun.blog.com/2011/10/28/klasifikasi-biaya/

http://blog.djarumbeasiswaplus.org/muhamadbasri/page/2/

http://pembahasaniii.Widyat/Nurcahyo/

 

ANALISA JURNAL EKONOMI

Posted On January 26, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

ANALISA JURNAL

TEORI EKONOMI

Efisiensi Teknik Perbankan Indonesia


DISUSUN OLEH:

 

CANDY GLORIA                                         2121 0516

 

Kelas: SMAK 04

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS GUNADARMA

ANALISA JURNAL

JUDUL                : EFISIENSI TEKNIK PERBANKAN INDONESIA

                                       PASCAKRISIS EKONOMI

                                       (SEBUAH STUDI EMPIRIS PENERAPAN MODEL DEA)

 

PENGARANG    : Adrian Sutawijaya dan Etty Puji Lestari

 

TAHUN               : 2009

 

 

                I.       TEMA     : Efisiensi Teknik Perbankan Indonesia

 

 

            II.       LATAR BELAKANG MASALAH

A. Fenomena

Perbankan sebagai salah satu lembaga keuangan yang memiliki peranan penting dituntut untuk memiliki kinerja yang baik. Perkembangan sektor keuangan di Indonesia berada dalam kondisi  pesat menjelang akhir 1980-an setelah keluarkannya paket Kebijakan Juni 1983 dan Paket Kebijakan Oktober 1988. Kedua kebijakan tersebut melatarbelakangi perkembangan industri perbankan sebagai salah satu industri keuangan di Indonesia. Jumlah bank meningkat dua kali lipat selama sepuluh tahun, yaitu dari 111 buah pada tahun 1988 menjadi 237 bank pada tahun 1997 (sebelum krisis), dan jumlah kantor bank meningkat lebih dari 200%, yaitu dari 1728 menjadi 6337 buah. Perkembangan sektor keuangan dilihat dari peningkatan jumlah aset bank, kemampuan bank dalam mengumpulkan dana dan menyalurkan kredit yang meningkat lebih dari 500% sejak tahun 1989 sampai tahun 1996 (Laporan Bank Indonesia).

B.  Riset Terdahulu

                    Penelitian ini berdasarkan pada penelitian Miller dan Noulas (1996) yaitu penelitian efisiensi perbankan di Amerika Serikat dari aspek profitabilitas menggunakan DEA dari sisi dualitasnya. Sementara penelitian ini menggunakan kasus dari Indonesia dengan pengembangan yang sesuai dengan karakteristik perbankan di Indonesia.

Penelitian ini ditujukan untuk mencari sumber inefisiensi teknik perbankan dengan membandingkan bank di Indonesia pada saat sebelum dan selama krisis berlangsung serta menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya inefisiensi teknik pada perbankan Indonesia. Secara umum kondisi perbankan di Indonesia belum semuanya efisien. Indikasi ini terlihat antara lain dari tingginya suku bunga kredit (prime rate) di Indonesia sebesar 18,5% pada tahun 1995, 16,75% tahun 1996 dan melonjak menjadi 39% pada tahun 1999. Angka ini relatif tinggi jika dibandingkan dengan negara-negara di kawasan ASEAN. Tinjauan pustaka dalam penelitian ini sebagai berikut:

1. Teori Efisiensi

Efisiensi dapat didefinisikan sebagai rasio antara output dengan input (Kost dan Rosenwig, 1979:41). Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu jika input yang sama menghasilkan output lebih besar, dengan input lebih kecil menghasilkan output sama, dan dengan input yang besar menghasilkan output lebih besar. Ditinjau dari teori ekonomi, ada dua pengertian efisiensi, yaitu efisiensi teknik (bersudut pandang mikro)dan efisiensi ekonomi (mempunyai sudut pandang makro). Pengukuran efisiensi teknik cenderung terbatas pada hubungan teknis dan operasional dalam proses konversi input menjadi output.

2. Teori Efisiensi Bank

Kurva biaya rata-rata bank menjadi sebuah ukuran bank yang biasanya dihitung dari nilai aset atau nilai simpanan dengan biaya produksi output per-unit (lihat Rose,1999:106, Sounders, 1999:290). Kurva ini digambarkan berbentuk U-Shaped yang mendatar pada bagian tengahnya (Rose, 1999:106) dengan implikasi rentang bank yang menghasilkan efisiensi maksimal.

Beberapa penelitian mengatakan bahwa bank kecil memberikan pelayanan yang berbeda dengan bank besar, karena bank besar mampu memberikan jasa yang lebih lengkap. Implikasinya perhitungan biaya rata-rata yang dikeluarkan bank kecil berbeda dengan bank besar. Pada gambar 1, bank kecil dan menengah mencapaibiaya produksi yang paling rendah (100 juta dollar – 500 juta dollar AS) pada nilai asetnya. Sebaliknya bank besar mencapai titik optimal (2 – 10 milyar dollar AS). Hasil penelitian juga mengatakan bahwa tingkat efficiency antara 20  – 25% lebih besar dari keseluruhan biaya produksi yang seharusnya terjadi pada kondisi efisiensi maksimum.

3. Skala Ekonomis (economies of scale)

Inovasi teknologi dan ekspansi usaha dibutuhkan agar biaya yang harus dikeluarkan meningkat. Untuk memaksimalkan keuntungan suatu bank harus melakukan efisiensi terutama untuk skala ekonomis (economies of scale) yaitu dengan meningkatkan output, agar biaya produksi yang dikeluarkan semakin menurun (Saunders, 1997:290). Kecenderungan yang terjadi adalah biaya produksi rata-rata (average cost) yang dikeluarkan oleh bank menurun seiring dengan ekspansi.

C. Metode Penelitian

Perbankan memiliki peranan penting sebagai lembaga keuangan yang dituntut untuk memiliki kinerja yang baik. Salah satu aspek penting dalam pengukuran kinerja perbankan adalah efisiensi yang antara lain dapat ditingkatkan melalui penurunan biaya (reducing cost) dalam proses produksi. Oleh karena itu, bank yang lebih efisien diharapkan akan mendapat keuntungan yang optimal, dana pinjaman yang lebih banyak, dan kualitas servis yang lebih baik pada nasabah.

                III.       METODOLOGI

   A. Data

Data yang digunakan dalam DEA, dibagi dalam variabel input dan output yang diformulasikan ke dalam dua asumsi yaitu constant return to scale (CRS) dan variable return to scale (VRS). Perhitungan efisiensi dengan DEA menggunakan dua variabel input yaitu tenaga kerja dan aktiva perusahaan, serta dua variabel output meliputi pendapatan bunga dan pendapatan non bunga, masing-masing bank.

 

B. Variabel

Efisiensi teknis perbankan diukur dengan menghitung rasio antara output dan input perbankan. Data Envelopment Analysis (DEA) akan menghitung bank yang menggunakan input n untuk menghasilkan output m yang berbeda (Miller dan Noulas;1996). Efisiensi bank diukur sebagai berikut:

dimana:

hs adalah efisiensi teknik bank s

yis merupakan jumlah output i yang diproduksi oleh bank s

xjs adalah jumlah input j yang digunakan oleh bank s

ui merupakan bobot output i yang dihasilkan oleh bank s

vj adalah bobot input j yang diberikan oleh bank s, dan i dihitung dari 1 ke m serta j dihitung dari 1 ke n.

v    Metode Pengumpulan Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini berasal Bank Indonesia, antara lain Direktori Bank Indonesia (2000-2004) yang berupa neraca dan laporan laba rugi bank, Statistik Ekonomi dan Keuangan Indonesia beberapa edisi, dan Laporan Tahunan Bank Indonesia, serta hasil penelitian Biro Riset Infobank dan Asia Week.

v    Metode Analisis

DEA merupakan alat analisis yang digunakan untuk mengukur efisiensi penelitian kesehatan (healt care), pendidikan (education), transportasi, pabrik (manufacturing), dan perbankan. DEA dirancang untuk mengukur efisiensi relatif suatu unit kegiatan ekonomi (UKE) yang menggunakan input dan output yang lebih dari satu, dimana penggabungan tersebut tidak mungkin dilakukan. Efisiensi relatif suatu UKE adalah efisiensi suatu UKE dibandingkan dengan UKE lain dalam sampel yang menggunakan jenis input dan output yang sama.

 

                I.       HASIL dan ANALISIS

v Hasil Perhitungan Efisiensi Perbankan (Metode Variable Return To Scale)

Dilihat dari pencapaian secara rata-rata maka bank umum swasta nasional memiliki tingkat efisiensi paling rendah yaitu berkisar antara 46 – 82%, bahkan tidak satupun bank swasta yang dipakai sebagai sampel yang memiliki efisiensi maksimal 100%. Untuk itu bank swasta harus lebih meningkatkan kinerja agar bisa bersaingdengan bank pemerintah dan bank pembangunan. Menurut tingkat efisiensi keseluruhan, ternyata tingkat efisiensi bank pembangunan daerah secara rata-rata paling tinggi dibandingkan bank pemerintah dan bank swasta (sesuai dengan kajian yang dilakukan Ferrier dan Lovell (1990); yang menyatakan bahwa bank yang kecil justru lebih efisien dibandingkan bank besar).

 

v Hasil Analisis Tiap Variabel (Metode VRS)

Hasil pencapaian efisiensi tiap variabel dengan metode variable return to scale menunjukkan bahwa rata-rata tiap variabel menunjukkan bahwa tenaga kerja merupakan variabel yang memiliki nilai efisiensi rata-rata paling rendah yaitu sebesar 39.08% disusul oleh aktiva dengan nilai rata-rata 43,70%. Rendahnya pencapaian nilai efisiensi disebabkan bank kelebihan tenaga kerja sehingga optimalitas kerja menurun.

 

v Hasil Perhitungan Efisiensi Perbankan (Metode Constant Return to Scale)

Hasil perhitungan dengan DEA tahun 2004 menunjukkan bahwa terjadi efisiensi pada empat bank yakni Bank Mandiri, Bank Niaga, Bank Jateng dan Bank Jabar. Tingkat efisiensi bank Mandiri tahun 2003 menurun dan mengalami peningkatan kinerja tahun 2004 sampai 100%. Pada tahun ini bank yang pencapaian efisiensi terkecil adalah BCA. Hasil ini sejalan dengan temuan Ferrier dan Lovell (1990) yang mengevaluasi efisiensi 575 bank di Amerika Serikat tahun 1984 bahwa bank besar justru yang lebih sulit untuk mencapai efisiensi maksimal.

 

v Hasil Analisis Tiap Variabel (Metode CRS)

Nilai efisiensi rata-rata antar variabel terbesar dicapai oleh pendapatan

bunga dan pendapatan non bunga dengan tingkat pendapatan efisiensi sebesar 100%. Sesuai dengan fakta yang terjadi bahwa saat ini kecenderungan bank untuk memperoleh pendapatan di luar bunga dengan kartu pastik untuk memberi kemudahan yang berguna untuk menarik minat konsumen. Yang terpopuler  ditawarkan adalah kartu kredit dan ATM. Fleksibilitas dalam pembayaran dan angsuran menyebabkan kartu ini diminati masyarakat karena masyarakat tidak perlu lagi membawa uang tunai dalam jumlah besar.

 

            II.       KESIMPULAN dan REKOMENDASI

            KESIMPULAN

Kesimpulan penelitian efisiensi teknis perbankan di Indonesia yang dilakukan terhadap 12 bank di Indonesia dengan menggunakan DEA-CRS, dan DEA-VRS adalah sebagai berikut:

1.      Perhitungan DEA untuk efisiensi teknik dengan asumsi teknologi VRS dan teknologi CRS. Umumnya rata-rata pencapaian efisiensi setiap variabel mengalami penurunan. Kenyataannya, pada saat krisis, bank cenderung mengadakan efisiensi, agar biaya yang dikeluarkan menurun. Hal ini dilakukan karena selama krisis fungsi bank sebagai financial intermediary tidak berjalan normal, akibatnya, pendapatan bank menurun.

2.      Hasil analisis DEA seluruh kelompok bank mengalami penurunan efisiensi selama krisis, kecuali bank mandiri. Sehingga simpulannya adalah bank mandiri memiliki performance terbaik. Indikasi ini terlihat dari rendahnya presentasi penurunan efisiensi dengan asumsi CRS dan asumsi VRS.

 

   REKOMENDASI

Saran yang diajukan terhadap penelitian ini adalah sebaiknya diadakan aturan internal bank untuk menggunakan sistem kontrak untuk pegawainya yang bisa diperbaharui setiap dua tahun sekali. Dengan demikian bank bisa mengefisiensikan penggunaan tenaga kerjanya. Upaya lain adalah dengan meningkatkan produk-produk pelayanan jasa bank karena sektor perbankan yang rentan terhadap perubahan struktur ekonomi. Perwujudan dapat dilakukan dengan ATM perbankan, go public, pemberian kredit properti dan konsumsi ataupun dengan pembuatan kartu kredit. Peranan pemerintah dan pihak perbankan juga diperlukan dalam membenahi program restrukturisasi dan privatisasi, sehingga lebih kompetitif yang dapat dilakukan dengan penambahan modal, meningkatkan kemampuan teknis, manajerial, operasional dan skill terutama untuk sumber daya manusianya.

 

MARJINAL UTILITY

Posted On January 26, 2012

Filed under TEORI EKONOMI 2

Comments Dropped leave a response

Teori nilai guna (utility) merupakan suatu teori ekonomi yang berbicara tentang kepuasan atau kenikmatan yang diperoleh seseorang dari tindak konsumsi yang dilakukannya. Saat kepuasan tersebut semakin tinggi maka semakin tinggi juga nilai gunanya dan sebaliknya. Seperti yang kita ketahui, bahwa nilai guna  dibedakan atas 2, yaitu:

  • Marginal utility (kepuasan marginal)

à  Pertambahan kepuasan karena adanya pertambahan penggunaan satu unit barang tertentu da;lam upaya pemenuhan kebutuhan. Biasanya dikenal dengan MU.

  • Total utility (total utility)

à Keseluruhan kepuasan yang diperoleh dari tindak konsumsi yang dilakukan terhadap sejumlah barang-barang tertentu. Biasanya dikenal dengan TU.

Hukum marginal utility yang semakin menurun / Law of Diminishing Marginal Utility: “Jika tambahan nilai guna (MU) yang didapatkan dari konsumsi seseorang akan suatu barang secara berkala menjadi semakin menurun apabila orang tersebut terus menerus menambah konsumsinya yang mana akhirnya tambahan nilai guna (MU) tersebut akan memiliki slope negatif.”

Jika dijelaskan secara empiris, saya akan menjelaskannya dengan contoh cerita. Misalkan di siang yang panas terik setelah usai bermain bola Tono merasa sangat haus. Tono pun memiliki kebutuhan untuk membeli minuman ringan. Botol pertama berhasil diteguk Tono sampai habis, karena merasa masih haus Tono menambah 1 botol lagi. Sama dengan botol pertama, botol kedua ni juga habis. Oleh karena, siang itu terik sekali dan Tono masih haus usai bermain bola, ia pun menambah botol ketiga dan meminumnya sampai habis. Setelah meneguk ketiga botol minuman ringan Tono merasa hausnya sudah teratasi yang berarti bahwa kepuasan maksimal telah dicapai karena pada saat Tono menambah konsumsinya di botol kedua dan ketiga, ia mendapatkan tambahan kepuasan yang kita sebut dengan marjinal utility.

Jika, Tono menambah konsumsinya dengan meminum botol keempat maka yang akan terjadi ada adalah kepuasan Tono akan menurun, dan jika ia terus menambah minumannya, lama-lama kepuasan Tono akan mengalami penurunan terus bahkan sampai berslope negativ (hukum law diminishing of return). Hal ini dapat dilihat dalam kurva di bawah ini:

 

REFERENSI

http://ramaalessandro2.multiply.com/journal/item/2?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem